My Secret Bride

My Secret Bride
Bab28



Bahkan setelah di siksa habis habisan dan di rusak tubuhnya hingga tidak nampak seperti manusia, Nicho dengan teganya pergi meninggalkan Nasya seorang diri menangis di ranjangnya sendirian.


Nicho pulang ke mansionnya, hanya menyiksa fisik Nasya sepertinya tidak cukup dia dengan gilanya berteriak memanggil Stev dan langsung menc*UMB*u tubuhnya dengan kasar. Dia membanting tubuh Stev ke ranjang dan membuang bajunya dengan kasar.


"Kau ingin jatahmu Baby?" tanya Stev menahan tangan Nicho yang akan meremas buah dadanya


"Diam sialann! bukankah ini yang kau inginkan?" ucapnya sambil memperlihatkan pusakanya yang sudah berdiri tegak bak tiang bendera.


"Aku tidak ingin terus terusan make out Nich,"ucap Stev dengan tangan yang sudah meremas milik Nicho. "Aku ingin kau memasukkannya ke si--ni...mmmmwhh ahhhh----- "Stev dengan sengaja mengarahkan milik Nicho ke miliknya bahkan dia menggesek gesekkan pada dinding v*aginanya.


"Shittttt" desis Nicho tertahan lalu melepaskan tangan Stev dari miliknya dan melesakkan nya ke dalam secara langsung. Nicho cukup kecewa saat milik istri pertamanya, tidak beda dengan j****g nya. Tapi setelah ingatannya kembali pada hari dimana dia memergoki Nasya, Nicho langsung memacu Stev dengan kasar seolah olah melampiaskan amarahnya pada Nasya.


"Ahhhhhhhhhhh ------ lebih cepat Nichh---- awhhhh kau memang raja ranjang Nich---- mwhhh"Stev terus terusan meracau sambil menggigiti bibirnya.


Nicho terus terusan memacu hingga mencapai puncaknya bahkan dia menyemburkan cairan nya ke rahim Stev, ia ingin Nasya lebih tersiksa dengan kenyataan jika Nicho memiliki anak dari orang lain.


Bukankah kita akan lebih sakit hati jika seseorang yang kita cintai memiliki putra dari orang lain?. Dulu Nasya pernah berkata pada Nicho "Tak masalah jika botolnya keluar masuk lubang asalkan airnya hanya tumpah di tempatku tidak ada yang lain"


Apakah sebenci itu Nicho pada Nasya? nyatanya Nicho tertipu oleh Nafsunya sendiri, Benci hanya omong kosong lihatlah bahkan dia tidak berani mencium bibir lawan mainnya. Bibir Nicho termasuk tipikal phobia, tidak menyukai bekas, hanya bekas bibir Nasya saja yang dia makan.


Ditinggalkan di malam Pertama, suami malah memilih bercinta dengan istri pertama di banding dengan istri barunya. Apakah ini definisi istri Tua lebih istimewa dibanding istri muda yang cetar membahana?. Sampai akhirnya Nasya tertidur membawa tangisnya ke alam dimana dia bisa bertemu dengan papahnya. Bahkan darah di ranjang pun tidak ia bersihkan saking lelahnya. Malam pertama tetap berdarah meskipun bukan darah keperawanan.


Nicho yang tidak tahu malu pulang ke rumah Nasya tanpa membersihkan bekas bercintanya dengan Stev. Ia ingin memastikan jika Nasya masih menangisi kepergiannya, tapi saat melihat wanita yang masih bersembunyi di lubuk hatinya tidur dengan pulas dia merasa kecewa Karna wanitanya tidak Menangisi kepergiannya sedikitpun.


"Dasar pe*lacur!!" umpatnya melemparkan baju dan celananya ke sembarang arah lalu membaringkan tubuhnya di samping Nasya lalu tangannya dengan nakal memeluk wanita yang di sebutnya p*elacur.


*


*


*


Keesokan paginya Nasya terbangun Karna nafasnya terasa sesak, setelah membuka matanya ia bingung kenapa matanya tidak bisa melihat apa apa. Setelah mendongak ke atas dia baru tau jika Nicho mendekapnya semalaman. Tapi perhatian nya tidak hanya pada wajahnya melainkan leher Nicho, dia tidak bodoh dia jelas tau apa yang ada di leher Nicho. Hatinya teriris saat mengetahui kenyataan jika semalam Nicho bercinta dengan orang lain. Dia masih ingat betul semalam, sedikitpun dia tidak menc*Umbu Nicho.


Brughh


Nicho mendorong Nasya yang sedang melamun hingga terjatuh ke bawah.


"Awhhhh" desis Nasya saat tubuhnya mencium lantai.


"Aku peringatkan, jangan mencuri kesempatan dalam kesempitan!" bentak Nicho tidak tahu malu.


"Apa kau bilang kesempatan dalam kesempitan? justru kau yang mencuri kesempatan dalam keluasan" ucap Nasya yang membuat Nicho menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak tertawa akan pemikiran Nasya yang konyol. "Lihatlah, aku bahkan tidur tepat diujung ranjang tidak berubah sama sekali, harusnya jika kau ingin tidur di ranjang ini tidurlah diujung sana sialan!"


"Tau dari mana jika aku memandangi wajahmu? bukankah saat kau bangun mataku menatap ****** kecil mu?" tanya Nasya pada Nicho yang lepas kendali di hadapannya. Sudah biasa bagi Nasya Karna Nicho tidak bisa membohonginya sedikitpun.


"Mungkin saja, lagipula aku punya mata batin" jawabnya lalu berlalu ke kamar mandi dengan gaya Coolnya, tapi setelah sampai ke bathroom Nicho bercermin sambil memukul mukul kepalanya, kenapa dia selalu grogi saat akan berbohong pada Nasya. kenyataannya Nicho memang sudah bangun sedari tadi, Nasya bangun pun Karna ulah usilnya yang terus terusan menhujani pucuk kepala Nasya dengan ciuman.


Sedangkan diluar Nasya hanya bisa terbahak-bahak akan kelakuan Nicho yang kekanak kanakkan.


"Sstttt" desis Nasya Karna dadanya masih belum terlalu kering.


*


*


*


"Buatkan aku kopi" titah Nicho pada Nasya yang saat ini sedang mengolesi roti. Nasya langsung pergi ke dalam dapur. Dia kembali dengan membawa segelas susu putih di tangannya.


"Aku minta kopi bodoh bukan susu!!!" bentaknya saat Nasya memberinya segelas susu.


"Susu lebih sehat ketimbang kopi" jawab Nasya singkat sambil mengolesi selai kacang untuknya.


"Susu pun mengandung pengawet jika kau lupa, kopi hitam lebih bagus, tidak ada pengawet sedikitpun" jawabnya tak ingin kalah.


"Baiklah, apa kau mau minum susu yang asli tanpa pengawet?" tanya Nasya pada Nicho yang hanya menaikkan sebelah alisnya heran.


"Minumlah langsung dari pabriknya" ucap Nasya sambil membuka tali piyamanya hingga menampakkan dua buah yang di sukai tangan Nicho. Dengan lancangnya dia mendekati Nicho yang melotot melihat aksinya, bahkan Nasya dengan gilanya menempelkan putingnya pada bibir Nicho seolah memberikan perintah agar Nicho menyedotnya.


"Dasar j****g" hinanya lalu beranjak pergi membawa tas dan pergi mengendarai mobilnya.


Nasya hanya tertawa, ternyata idenya mengusir Nicho dari rumah berhasil,


"Emang enak di kerjain" ucap Nasya lalu duduk dan meminum susu yang belum sempat di sentuh Nicho saat tadi.


Sedangkan Nicho yang saat ini berkendara, bajunya sudah hilang entah kemana, dia merasa gerah sekali akan ulah Nasya, ingin rasanya Nicho menerkam Nasya saat itu juga , tapi Nicho tau Nasya sengaja melakukan trik itu semua agar Nicho jatuh kembali ke dalam pelukannya.


"Tenang saja Botch! sampai kapanpun aku tak akan tergoda oleh mu, aku hanya akan menyiksa hasrat mu hingga kepala mu berdenyut dan rasanya kau ingin mati saat itu juga Karna hasrat mu yang sudah naik namun tak tersalurkan" ucap Nicho menyumpah nyerapahi Nasya lalu tertawa terbahak-bahak membayangkan Nasya yang meminta di salurkan hasratnya olehnya hingga bersujud sujud di kakinya bak pelayan pada rajanya.


Dugh


"Sialan!" umpat Nicho Karna haluannya terpotong. Nicho menabrak mobil di depan Karna dia berkendara tidak fokus hingga menyebabkan perkelahian Karna Nicho tak terima di salahkan.