
Egois? jika ada kompetisi egois maka aku adalah pemenangnya. Aku tidak suka sesuatu yang sudah aku klaim menjadi milikku di nikmati pula oleh orang lain, padahal aku sendiri pun menjadi hidangan orang lain. Aku tidak suka berbagi, tapi aku malah membagi.
"Buka pintunya sialan!" teriak Nasya di dalam sana sambil menggedor-gedor pintu.
"Kau pikir aku akan diam saja hah?"
"Atau kau berpikir jika aku akan bertekuk lutut padamu? jangan harap Bastard!" Nasya terus terusan berteriak di dalam kamar, ia tidak berhenti untuk mengumpat Nicho yang dengan lancangnya mengurung dia di sebuah Villa luar kota.
"Sudah selesai teriak teriaknya?" tanya Nicho enteng setelah membuka pintu kamar.
"Jangan harap aku akan menuruti keinginanmu" ucap Nasya lalu melenggang pergi dari sana.
"Kau tidak bisa kemanapun, Karna aku telah menyimpan bodyguard di sekeliling Villa ini" jelas Nicho.
"Kau payah Nich, kau tau? kau adalah orang yang paling egois di dunia ini" ucap Nasya lantang.
"Aku tau, aku adalah pria yang egois Karna yang bisa aku lakukan untukmu adalah egois" ucap Nicho sambil berjalan menuju Nasya.
"Aku tidak suka saat kamu menurunkan martabat mu hanya untuk mengambil hal yang seharusnya menjadi milikmu, itu terlalu murahan baby" jelasnya sambil mengusap lembut pipi Nasya
"What? murahan? kau bilang itu murahan? lalu kamu apa? hm?" tanya Nasya menantang dengan tangan terlipat di dada. "Bahkan kau lebih murahan dibanding aku Nich, menikahi wanita lain dengan Alibi membantuku, tapi pada kenyataannya kamu menikmati pernikahan ini iya bukan?"
"Harusnya kamu peka, aku ngelakuin ini semua demi kamu!Cukup aku yang murahan, kamu cukup diam dan nikmati nanti hasilnya" bentak Nicho dengan nafas tersengal-sengal.
"Ohh gitu? definisi murahan kamu tuh enak banget ya? bagi aku kamu tuh bukan murahan, tapi gak tau malu" ucap Nasya kesal sambil menunjuk nunjuk kepala Nicho dengan jari telunjuknya. "Terus apa tadi? kamu udah bahas hasil? sampai detik ini aja, tujuan kamu belum ada kemajuan sedikitpun, lalu hasil apa yang harus nikmati? hasil jerih payah ayahku, atau hasil keringat goyanganmu?" tanyanya dengan nada sinis.
Brughh
Ia membanting Nasya ke atas ranjang lalu dengan beringasnya menciumi seluruh tubuh Nasya bahkan dia tidak segan meninggalkan bekas kissmark di sana. Dia sudah tidak peduli lagi pada janjinya yang tidak akan merusak Nasya sebelum mereka halal. Ia segera melucuti seluruh bajunya dan baju Nasya, meskipun Nasya tidak berhenti meronta bahkan mencoba untuk kabur Nicho tidak kehabisan akal, ia menahan tubuh Nasya dengan cara mendudukinya agar dial lebih mudah melucuti pakaian Nasya.
Sedikitpun Nasya tidak menangis, dia hanya pasrah dan menatap tajam Nicho yang saat ini sedang merangsangnya dengan gesekan di bawah Nasya. Entah mengapa Nicho ingin menatap wajah Nasya yang berada di bawahnya sebelum mengambil mahkotanya.
"Why? apa kau takut hargaku kemahalan? tenang saja, ketika kamu murahan maka aku adalah gratisan, harga diriku jauh lebih rendah di banding j****g yang menawarkan dirinya di jalanan," ucapnya dengan mata yang tanpa ekspresi. "Nikmatilah selagi ada gratisan" lanjutnya dengan berusaha menyembunyikan pertahanannya yang akan roboh.
Nicho tidak bodoh meskipun Nasya berkata demikian ia melihat di ujung bibirnya ada senyum getir, ia tidak bisa memuaskan amarahnya pada orang yang dicintainya.
"Pergilah selagi aku baik" titah Nicho sambil beranjak dari posisinya.
"Lagipula aku sibuk," jawab Nasya sambil memakai kembali pakaiannya. "Jika kau butuh kehangatan maka telpon aku, aku siap menghangatkan ranjangmu" lanjutnya tanpa menatap Nicho sedikitpun lalu berlalu dari sana.
Hancur, itulah hati Nicho saat ini. Secara tidak langsung ia telah menghina harga diri kekasihnya.
"Aku benci kamu mengucapkan kata kata itu baby, kamu adalah wanita termahal yang pernah aku temui, harusnya aku tidak merendahkan mu, bodohnya aku tidak bisa menahan amarahku sendiri"
Nicho hanya duduk termenung di balkonnya, ia ingat kata kata ayahnya. Ternyata ayahnya menyuruhnya menikah bukan memberinya peluang, Nicho pikir ayahnya bodoh. Dia lupa jika perjanjian itu tidak ada kontraknya ia juga lupa jika ayahnya jauh lebih pintar dibanding dirinya. Ayahnya benar benar ingin memisahkannya dari Nasya. Hanya Karna Nasya miskin, mereka tidak tau saja jika wanita yang mereka bangga banggakan hanyalah seutas debu yang tamak.
"kumohon bertahanlah sebentar lagi baby, aku berjanji setelah ini aku tidak akan menyakitimu lagi"