My Secret Bride

My Secret Bride
67



"Cara apa yang pantas untuk memberimu hukuman mematikan? sepertinya aku harus mendiskusikannya dengan keka-


Brak


Pintu dibuka paksa dari luar, menampilkan sesosok wanita dengan pakaian minim dengan rambut di Cepol ke atas hingga menampakkan leher jenjangnya masuk ke dalam ruangan dengan wajah yang garang.


"Bab--


"Mengapa tidak bilang kepadaku si Tua Bangka sudah di sini?!" teriak Alana dengan suara lantang pada Maxim yang lagi lagi ucapannya harus menggantung begitu saja.


"Sorry, Baby aku lupa" ucap Maxim memeluk sang kekasih agar merasa sedikit tenang dan amarahnya sedikit padam.


"Ckk" Alana mencebik kesal mendengar jawaban pria yang saat ini memeluknya.


"Lepas, sepertinya aku harus memberinya pelajaran yang halus" ujar Alana menatap tajam Tuan Vernandes yang saat ini sangat santai.


"Kamu pikir aku akan takut dengan ancaman mu bocah?" tanya Tuan Vernandes dengan senyum smirk yang masih tercetak di wajah babak belurnya.


"Aku takut, kamu tidak akan takut dengan kekerasan yang kekasih ku berikan, kekasihku memang bodoh memberi hukuman seperti ini" ujar Alana berjalan mendekati Tuan Vernandes.


"Kekasihku lupa kalo kamu jantan yang pastinya kebal terhadap kekerasan" bisik Alana tersenyum devil tak kalah menakutkan nya dari Maxim.


"Baby apa yang kamu katakan hm?" tanya Maxim menarik pinggang kekasihnya dan melabuhkan kecupan di pucuk kepalanya tanpa peduli jika di dalam ruangan ada setidaknya sepuluh orang.


"Tidak apa apa sayang,"ujar Alana tersenyum lembut.


"Sayang aku capek pengen tidur di peluk kamu" ucap Alana manja dengan bibir mengerucut, Maxim yang tidak tahan dengan aksi sang kekasih langsung melahap bibir ranum nan merah milik Alana tanpa permisi.


"Mmmphhhh- lepas" ucap Alana malu dengan aksi gila kekasihnya.


"Aku mau," ucap Maxim.


Yah, Alana bisa menaklukkan Maxim berawal dari dirinya yang menyuguhkan tubuhnya pada Maxim, Alana rela tubuhnya di nikmati Maxim meski sebenarnya Maxim tak pernah mengatakan cinta padanya tapi Alana tak peduli tanpa Maxim ucapkan pun Alana tahu jika sang kekasih mencintainya terlihat bagaimana dirinya memperlakukannya bak ratu meski masih belum di nikahi


"Ricardo!" teriak Alana memanggil seseorang yang sudah di bawanya, "Bawa semua alatnya kemari, kita akan mengoperasi nya di sini" ujar Alana yang langsung membuat mata Maxim melebar bingung dengan ucapan sang kekasih yang mengatakan kata 'operasi' memang siapa yang akan di operasi? begitulah maksud ekspresi Maxim.


"Pindahkan dia ke ranjang" titah Alana menunjuk Tuan Vernandes pada pengawal yang berjajar di sana.


Sedangkan Tuan Vernandes malah terlihat sangat santai tidakkah dia takut jika ginjalnya di ambil atau oragan tubuh lainnya?.


"Borgol kakinya juga" titah Alana yang kini semakin terlihat aura bossy nya.


Setelah semuanya siap dokter merobek semua kain yang menempel pada Tuan Vernandes lalu membuangnya asal, kini nampaklah tubuh Tua namun gempal milik Tuan Vernandes terbaring bertelanjang bulat di atas ranjang.


"Sayang jangan liat si tua" rengek Maxim menutup mata sang kekasih ia tidak mau jika mata kekasihnya harus melihat milik orang lain.


"Ck! aku sudah terbiasa melihat milikmu, jadi tenang saja milik si tua Bangka tidak ada bandingannya sedikitpun dengan mu" ujar Alana dengan tersenyum manis namun tangannya malah turun ke bawah menangkap si Palo yang sejak tadi memang sudah on.


"Sabar sebentar sayang, nanti aku kasih 7 ronde" ucap Alana sedikit menekan milik sang kekasih hingga sang empu melenguh nikmat.


"Sebenarnya apa yang akan kamu lakukan baby?" tanya Maxim dengan suara parau nya.


"Hanya memberinya hukuman yang mungkin tak akan pernah bisa dia lupakan" jawab Alana tersenyum iblis.


"Ricardo, suntikkan dulu obat pelemas otot dari pinggang sampai bawah, setelahnya lakukan tugasmu dengan benar, jika tidak aku tidak segan untuk memberimu pelajaran" ancam Alana sengit, lalu menghampiri Tuan Vernandes dengan tersenyum manis seperti wanita polos.


"Selamat hari akhir jantan" ucap Alana tersenyum manis membelai wajah Tuan Vernandes namun tidak lama tangannya turun ke bawah hingga kini memegang milik Tuan Vernandes.


"Are you crazy baby!" pekik Maxim menepis tangan Alana dari milik Tuan Vernandes ia tidak suka jika wanitanya memegang atau hanya bersentuhan dengan pusaka orang lain.


"Tenang saja ini adalah akhir untuknya merasakan sensasi kenikmatan" ujar Alana malah semakin gila tangannya kini memijat minat milik Tuan Vernandes yang langsung terbangun hingga nampak otot-otot nya keluar.


"Wawww, lihatlah mungkin ini adalah pemandangan terkahir milikmu saat bangun, indah bukan menjulang sepeti bukit di penuhi dengan rumput yang mulai berubah menjadi bihun" ucap Alan tepat di samping telinga Tuan Vernandes namun tangannya menunjuk ke arah pusakanya yang sudah on.


"Nikmatilah pemandangan itu, karena sebentar lagi kamu hanya bisa menatap lembah berbihun," ledek Alana yang langsung membuat Tuan Vernandes terkejut dengan ucapannya.


hahahahha


"Jangan macam macam j*****g!" teriak Tuan Vernandes saat Alana tertawa terbahak-bahak,


"Sudah di borgol saja masih bisa ngancam gak jelas" ucap Alana sinis, "Cepat ubah jenis kelaminnya, aku muak melihatnya yang sok jantan" teriak Alana yang langsung membuat Maxim melongo tak percaya dengan hukuman yang kekasihnya berikan.


"Sayang... bisakah kamu merobek tanganku? aku jijik" rengek Alana manja sambil memperlihatkan tangan kanannya. "Aku pikir lebih nikmat pegang milik dia di banding kamu, tapi ternyata enakan yang kamu" ujar Alana mengedipkan sebelah matanya.


"Tidak usah menggodaku terus, ayok pergi ke kamar sebelah" Maxim yang sudah tidak tahan dengan godaan syetan di hadapannya, langsung membopong Alana ala bridal style, namun sebelum keluar dari ruangan tersebut Alana meminta Maxim untuk berhenti.


"Ingat, aku ada di ruangan sebelah jika kalian berani menipuku atau membawanya kabur, aku pastikan keluarga kalian yang akan menanggung akibatnya" teriak Alana yang langsung membuat Ricardo dan bawahnya beserta para bodyguard bergidik ngeri. Mereka merasa tertipu dengan sifat lemah lembut dan manjanya Alana yang ternyata hanya untuk menutupi sifat Psycho yang tertanam pada diri Alana.