
Huh, sudahlah Yuna'er,.. kita tidak bisa bertengkar hanya karna seorang pelayan dan orang luar sepertinya." segera ku arahkan tatapanku ke arah pangeran kedua yang saat ini juga sedang menatapku.
" pelayan, orang luar..?? apa kau tidak mendengar ucapanku yang sebelumnya yang mengatakan bahwa orang yang kau sebut sebagai orang luar itu adalah jie jie ku pangeran kedua??" ucapku sembari mengalihkan tatapanku dari pangeran pertama menjadi ke pangeran ke dua.
" aku mendengarnya Yuna'er, tapi dia itu hanya orang yang kau anggap sebagai jie jie mu saja. dan tidak seperti kami yang memang sudah jelas sebagai Gege dan saudaramu." aku mendengus saat mendengar kata katanya barusan. " cih,.. saudara, Gege,.. apa kau tidak malu saat mengatakannya pangeran ke dua. apa kau tidak memiliki cermin di kediamanmu hingga kau dengan percaya dirinya mengucapkan bahwa aku adalah saudaramu,.. dan satu lagi, mulutmu terlalu kotor untuk menyebut namaku dengan panggilan sedekat itu. jadi jangan pernah lagi memanggil namaku dengan panggilan itu." ucapku sembari menatapnya dingin.
PLAK,..
Mataku terbelalak, saat tangan putra mahkota tiba tiba saja mendarat di pipiku. rasa perih kurasakan di sudut bibirku dan rasa sakit dihatiku semakin bertambah besar saat tangan putra mahkota dengan gamblang ya menampar pipiku. aku mengangkat tangan kananku menyentuh pipiku yang terasa perih dan tanpa sadar air mata keluar dari sudut mataku.
" apa kau tidak pernah belajar sopan santun, hingga kau bahkan dengan beraninya tidak mengakui pangeran kedua sebagai saudaramu..??"
aku mengangkat wajahku yang tertunduk sesaat setelah tamparan itu terjadi dan mendengar kata kata putra mahkota barusan. lalu aku menolehkan kepalaku kearah pohon tempat dimana Yi berada saat aku merasakan aura pembunuh yang kuat yang berasal dari nya keluar dan mengarah langsung ke arah ketiga orang laki laki yang berdiri di depan kami ini. lalu aku menolehkan kepalaku kesamping saat aura pembunuh juga kurasakan keluar dari tubuh jie jie Yuan yang berdiri di sampingku.
" Kalian akan mati." kata kata itu keluar dari mulut yi, saat ia telah keluar dari tempatnya yang tadi dan langsung berdiri didepanku sembari mengeluarkan aura pembunuh yang kuat yang langsung membuat pangeran pertama dan kedua serta putra mahkota berlutut dan memuntahkan seteguk darah dari mulutnya.
" Si,.. siapa kau,.." kuarahkan tatapanku kearah putra mahkota yang bertanya sembari memegangi dadanya sendiri.
" kau tidak layak untuk mengetahui siapa aku. tapi yang layak kau tau saat ini adalah kau akan mati karna tanganmu yang hina itu telah berani menampar orang yang kau bahkan tidak layak untuk menatapnya." aku bisa mendengar aura yang Yi keluarkan semakin bertambah kuat saat ia berbicara.
" ap,.. apa maksudmu,.." kuarahkan kembali tatapanku kearah putra mahkota saat ia bertanya kembali.
" apa kau tau apa yang akan tanganmu itu dapatkan saat tanganmu yang sangat kotor itu dengan beraninya menyentuh orang yang bahkan orang terkuat didunia ini saja tidak berani untuk meninggikan suara di hadapannya..??" kuarahkan tatapanku kearah jie jie Yuan yang semakin menguatkan aura pembunuh yang keluar dari tubuhnya ke arah putra mahkota, pangeran pertama dan kedua hingga membuat ketiga orang itu kembali memuntahkan seteguk darah. dan kudapati bahwa ia sedang mengeluarkan kekuatan dari sebuah jurus yang pernah ku ajarkan kepadanya sewaktu kami masih berada di hutan tengkorak.
" Tahan jie jie,.. belum saatnya" ucapku kepadanya saat kulihat ia hendak melemparkan kekuatan yang berasal dari jurus itu kearah putra mahkota.
" tapi mei mei,.." ucapannya terhenti saat aku menolehkan kepalaku kepadanya dan menggelengkan kepalaku ringan kearah nya dan kutatap ia yang langsung menundukkan kepalanya sembari menarik kembali kekuatan serta aura pembunuh yang sempat ia keluarkan tadi.
Aku melangkah mendekat ke arah putra mahkota saat aura yang jie jie Yuan keluarkan sepenuhnya telah hilang lalu aku mengangkat wajah putra mahkota yang tertunduk karna aura pembunuh yang Yi keluarkan semakin kuat dengan menggunakan ibu jariku. " apa kau takut dan merasa tidak berdaya sekarang,.." ucapku sembari menatap dingin. " apa kau tau bahwa perasaan ini lah yang selalu kurasakan dulu saat kalian mendatangiku dan menindasku dengan aura kalian lalu menampar ku seperti kau menamparku barusan serta memberikan makanan basi untuk ku makan setiap hari." ucapku sembari mengangkat wajahnya semakin tinggi.
" Dan apa kalian tau bagaimana rasanya saat saudara mu sendiri merasa jijik untuk mengakui mu sebagai saudara dan mengusirmu dari tempat yang seharusnya kau tinggali, dan kini orang yang jijik dengan mu itu malah mendatangi mu lagi dengan tujuan yang tidak jelas lalu ia menjadi marah saat kau mengulang kata kata nya dulu,.." ucapku sembari melepaskan jariku dan beralih menatap ke arah pangeran kedua.
" ak,.. aku" segera kualihkan tatapanku dari pangeran kedua lalu menatap kembali putra mahkota yang kini berusaha untuk mengangkat kepalanya sendiri lalu menatapku dengan dalam
" Aku apa,.. apa kau tau dulu bagaimana rasanya saat aku dikatai menjadi orang yang cacat dan menjadi beban kekaisaran padahal kalian yang tidak tau bahwa disaat itu tubuhku sedang dipenuhi oleh racun. dan apa kalian tau bagaimana rasanya dikucilkan hingga ketempat yang paling terpencil bahkan sampai di asingkan hanya karna masalah yang sangat sepele dan itupun tidak pernah ku lakukan sama sekali." ucapku kali ini sembari tertawa lirih.
" Dan apa kau tau rasanya saat seorang ayah yang seharusnya menjadi seorang pelindung bagi anaknya malah berbalik dan menjadi sosok yang menjadi penyebab anak itu menderita,..
apa kau tau rasanya sialan,..
apa kau tau hah,..
" Dan satu lagi,.. apa kau tau bagaimana rasanya saat seseorang yang paling kita anggap berharga didunia dihunuskan pedang ke arahnya oleh orang yang paling kita benci, apa kau tau rasanya ha,.." ucapku dengan nada meninggi.
" kalian pasti tidak tau bagaimana rasanya itu. karna selama ini, kalian selalu makan makanan yang sehat dan enak, kalian selalu disanjung dan dihormati, kalian selalu mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari orang tua kalian." ucapku dengan nada rendah
" mei mei.. bukan be,.." ucapan pangeran pertama terpotong saat aku menatapnya dingin " sudah kubilang untuk jangan pernah memanggilku dengan panggilan itu, karna aku jijik dan sangat tidak sudi menjadi adik dari orang yang bahkan selama ini menjadi penyebab penderitaanku." ucapku dengan nada meninggi lagi.
" mei mei,.. redakan amarahmu. ingat untuk jangan melampiaskan semuanya hari ini. karna hari pembalasan tinggal menunggu bulan saja" kutatap jie jie Yuan yang berjalan menghampiriku lalu berbisik pelan di telingaku. lalu aku menghela nafas panjang sembari berjalan menjauhi putra mahkota dan yang lainnya.
" sekarang, aku ingin kalian untuk pergi dari sini sebelum aku benar benar muak untuk melihat kalian." ucapku dengan nada dingin.
" Tapi ratu, hamba belum memberi mereka pelajaran." kutatap yi yang melayangkan protesnya kepadaku.
" apa kau tidak cukup hanya dengan melihat mereka yang memuntahkan darah dihadapanmu,.. apa kau ingin mematahkan tangan mereka satu persatu dulu baru kau mau melepaskannya." ucapku lagi
" jika ratu berkenan, maka hamba akan dengan senang hati untuk melakukannya." ucapnya lagi dan aku hanya menghela nafas saat mendengarnya. " yi, aku ingin agar kau menarik kembali aura mu itu dan biarkan mereka pergi untuk sekarang." ucapku saat kurasakan aura pembunuh yang ia keluarkan sebelumnya semakin kuat hingga membuat putra mahkota dan yang lainnya kembali memuntahkan seteguk darah.
" Ta,.. tapi ratu,.." ucapannya terpotong saat aku sekali lagi menyuruhnya untuk menarik aura pembunuh yang ia keluarkan sebelumnya.
" Pergilah selagi aku masih barbaik hati dengan membiarkan kalian pergi dari sini tanpa kehilangan apapun. lain kali aku tidak ingin kalian datang lagi kesini. karna jika saat itu tiba, maka bersiaplah, entah tangan, kaki atau nyawa kalian yang akan kuhilangkan." ucapku sembari memandangi mereka yang tampak kesusahan untuk berdiri.
" Yi, ikut masuk denganku. karna aku tidak tau hal apa saja nanti yang akan kau lakukan kepada mereka saat aku pergi dan meninggalkanmu disini bersama mereka." ucapku sembari melangkah kan kakiku memasuki gerbang kediaman.
.
.
.
.
.
.
***Hai hai hai,.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jempol dan sarannya ya,..
** see you in the next chapter, 😇🙏***