
Aku menghela nafas panjang saat jie jie Yuan yang sedari tadi berdiri di sampingku menepuk pundak ku pelan. " Tenanglah mei mei,.." ucapnya pelan sembari menatapku.
aku kembali menghela nafas panjang saat aku mendengar ucapannya barusan. kuarahkan kembali tatapanku kearah selir pertama yang masih menatapku dengan sorot mata yang melotot geram. " jangan menatapku begitu,.. karna aku berkata benar, kemampuan buruk berbicara pangeran pertama dalam berbicara pasti turun darimu. aku tau betul tabiatmu yang selalu merendahkan orang lain dan ingin kekuasaan lebih." ucapku kembali sembari menatapnya tajam.
" ka,..kau, apa maksudmu hah... aku bukan orang yang seperti itu. jadi jangan asal menuduh. lagipula apa kau tidak pernah belajar sopan santun hah.. bagaimana kau bisa berbicara begitu dan asal menuduh sembarangan kepada orang yang lebih tua darimu..." ucapnya kembali dengan nada yang semakin tinggi.
" cukup,.. apa kalian tidak menghargai keberadaan Zhen disini...??" ku arahkan pandangan ku kearah kaisar Han. kutatap ia yang juga sedang menatapku dengan pandangan rumit.
" maafkan selir ini yang mulia, karna selir ini telah berani meninggikan suara didepan yang mulia. tapi Yuna'er yang memulai duluan dengan mengatai hamba yang tidak tidak."
segera kuarahkan pandanganku kembali kearah selir pertama dengan tatapan dingin.
" jangan pernah memanggil namaku dengan panggilan Yuna'er, karna aku tidak akan Sudi jika nama itu keluar dari mulut busukmu itu. lagipula kita tidak pernah sedekat itu hingga selir pertama bisa memanggil namaku dengan panggilan Yuna'er." ucapku dengan nada dingin. sembari menekankan gelarnya agar ia sedikit tau diri.
" apa maksudmu Yuna mei mei, mengapa ibunda tidak bisa memanggil namamu dengan panggilan itu..?? apakah karna status ibundaku yang hanya sebagai selir, makanya ibundaku tidak boleh memanggil namamu dengan panggilan begitu??" kutatap putri pertama yang yang berdiri disamping putra mahkota itu dengan pandangan tajam.
" kalau iya kenapa, dan kalau tidak juga kenapa..?? jangan pernah berpura pura sok akrab denganku dengan memanggilku sebagai mei meimu didepan semua orang dan dengan menunjukkan tatapan penuh luka dan airmata buaya mu itu dihadapanku. karna aku bukan orang yang baru lahir kemaren yang bisa termakan dengan ekting palsumu itu." ucapku kembali.
" apa maksudmu mei mei, aku tidak mengerti dengan apa yang kau bilang, aku memang orang yang jarang mengunjungi kediaman mu,.. tapi ketahuilah, didalam hatiku ini, kau tetaplah mei mei yang paling ku sayang." ucapnya dengan air mata yang menetes.
" oh, jadi begini sikap orang yang kemarin mendatangi kediamanku lalu menyerangku dan jie jie ku..?? cih, sungguh menjijikan. kau bahkan lebih menjijikkan dari pada yang kubayangkan selama ini." ucapku
" apa maksudmu mei mei, aku tidak pernah mendatangi kediamanmu dan menyerangmu,.. karna Kutau kau itu tidak bisa berkultivasi dan sangat lemah, jadi bagaimana bisa aku sebagai jie jie mu mendatangi kediamanmu menyerangmu disaat aku sendiri tau betul bagaimana kondisi tubuhmu saat ini." ucapnya sekali lagi.
" itu betul, bagaimana bisa jie jie pertama mendatangi kediaman mu dan menyerangmu.. itu sangat tidak mungkin. karna semalam jie jie saat lagi selalu bersamaku." kutatap putri kedua yang mulai mengeluarkan suaranya.
" aku tau itu, karna kemarin kan kau ikut dengannya dan menyerang ku di gubuk ku. jadi tentu saja kalian bersama kemarin pagi." ucapku sembari memandangnya
" ak.."
" sudah sudah. saat ini Zhen sudah lapar, jadi mari kita makan dulu." ku tarik kembali tatapanku dari putri kedua setelah mendengar suara dari kaisar Han yang memotong perkataan dari putri kedua lalu kuarahkan ke arah kaisar Han yang sudah duduk di kursi yang sebelumnya didudukinya.
" aku tidak akan makan bila dia masih berada disini." aku menggeram kesal lalu mengarahkan tatapanku kearah putra mahkota yang masih berdiri dan menatapku dengan tajam.
"kenapa..??" tanyaku pelan sembari menatapnya dingin.
" karna aku tidak Sudi jika aku harus makan satu meja dan makan makanan yang sama denganmu. kau itu pembawa sial bagi hidupku dan juga bagi kekaisaran ini." ucap nya dengan nada yang dingin.
aku menatap putra mahkota semakin dingin.
" kenapa..??" ucapku sekali lagi.
" sudah kukatakan bukan alasannya, jadi sekarang pergilah. karna disini bukan tempat untukmu."
" kenapa kau sangat membenciku..? apa karna disaat aku lahir ibunda meninggal, apa karna disaat aku lahir nyawa orang yang paling kau sayang meninggal...?? " ucapku dengan nada yang semakin dingin.
" Diam dan pergi dari sini." ucapnya lagi.
apa kau juga berfikir bahwa setelah ibunda meninggal, kau orang yang paling merasa kehilangannya..??
apa kau pernah memikirkan perasaanku, bagaimana aku tumbuh dari bayi hingga sebesar ini tanpa pernah merasakan kasih sayang dari seorang ibu dan seorang ayah,..
apa kau juga pernah berfikir bagaimana jika kau yang berada di posisiku dan diperlakukan begini oleh saudaramu sendiri..??
apa kau tidak pernah berfikir dengan otak mu yang kecil itu, bagaimana bisa seorang bayi yang baru lahir sepertiku disaat itu, bisa menjadi penyebab dari kematian ibunda,..
apa kau fikir saat itu aku bisa memilih untuk tidak dilahirkan demi menjaga keselamatan ibunda..
apa kau pernah memikirkan nya hah...??" ucapku dengan nada yang tinggi disertai dengan air mata yang secara tidak sadar keluar dari mataku.
" apa kau pernah berfikir bagaimana jika kau yang baru saja dilahirkan tapi sudah dicap sebagai seseorang yang membunuh ibundanya sendiri,
apa kau pernah berfikir, bagaimana rasanya jika dilahirkan menjadi manusia yang tanpa bakat sepertiku, dan dikucilkan oleh saudara saudaranya yang lain..." ucapku
" apa kau tau, dulu sebelum aku kalian asingkan, aku selalu merasa iri ketika aku melihatmu bisa akrab dengan yang lainnya, aku sangat iri disaat melihat ayahanda mau tersenyum kepadamu. sedangkan aku, aku bahkan tidak pernah mendapatkan senyuman darinya. dan apa kau tau apa yang membuatku paling iri kepadamu.., itu karna kau masih bisa merasakan kasih sayang dari ibunda setidaknya sebelum aku lahir. tapi aku, aku tidak sekalipun pernah merasakannya. jangankan untuk merasakannya, untuk melihat rupanya saja, aku tidak pernah." ucapku lagi.
" mei mei tenanglah, ada jie jie disini." kutatap jie jie Yuan yang langsung mengangkat kedua tangannya dan menghapus air yang keluar dari mataku dengan lembut.
" tahan amarahmu, tunggu saat yang tepat untuk melepaskan semuanya. jangan sekarang, karna itu akan mengacaukan rencana yang sudah kita susun selama ini. ucapnya dengan nada berbisik sembari mengelus pipiku lembut.
aku menarik nafas panjang setelah mendengar kata katanya barusan. " kita pergi sekarang jie jie, aku tidak ingin makan satu ruangan dengan orang orang yang bahkan tidak pernah mengharapkan keberadaan ku selama ini." ucapku sembari menarik tangan jie jie Yuan dan melangkah keluar dan meninggalkan mereka yang terdiam setelah mendengar kata kata yang ku lontarkan barusan.
.
.
.
.
.
.
.
.
***jangan lupa like dan komentarnya ya, karna baik Like maupun komentar kalian, itu merupakan sebuah energi untuk author supaya bisa lebih rajin dan rutin up setiap harinya..
selamat malam Minggu,.. 😅
see you in the next chapter 🙏😇***