My Life Journey

My Life Journey
part 26



Matahari sudah mulai menampakkan dirinya di permukaan. kicauan burung pun terdengar bersahut-sahutan di balik pepohonan nan rimbun yang mengelilingi tempat tinggal kami. aku melangkahkan kakiku menuju dapur sambil menyeka keringat yang masih saja menetes di pelipis ku. aku menghentikan langkahku dan mengambil air minum dalam gelas bambu kecil, lalu meminumnya di kala aku sudah berada di dapur


"huft, segarnya,.." gumamku setelah aku meletakkan gelas yang sudah kosong itu di atas meja yang berada di hadapanku.


"mei mei, apa kau sudah selesai olahraga..?? kutatap jie jie Yuan yang baru datang dari depan.


"sudah jie jie. memang ada apa, dan mengapa jie jie memakai cadar..??" ucapku sambil menatapnya bingung.


"itu mei mei,.. orang orang yang kita selamatkan dari dalam hutan kemarin sudah sadar makanya aku memakai cadar." ucapnya kemudian


"oh,.. baiklah jie jie, aku akan menemui mereka nanti. tapi sebelum itu, aku akan membersihkan diri dulu." ucapku sembari menatap hanfu yang kukenakan sudah basah oleh keringat


"ia mei mei, aku pun ingin menyiapkan sarapan untuk kita dan mereka dulu."ucapnya sambil berlalu


aku memandang punggung jie jie yuan sekilas, lalu melangkahkan kakiku menuju pemandian yang berada di samping kamarku.


aku membuka hanfu yang ku kenakan begitu aku sampai ke pemandian lalu kumasukkan kakiku kedalam bak mandi kayu berukuran dua meter persegi yang sudah berisi air dan taburan kelopak mawar yang ku ambil dari dalam dimensi itu. bak ink sudah ku isi sebelum aku pergi berolahraga.


aku berendam selama setengah jam lalu mengeringkan rambut dan tubuhku menggunakan handuk kecil berwarna putih lalu mengenakan hanfu baru berwarna merah muda dan tak lupa juga dengan cadar yang agak tebal senada dengan warna hanfu ku yang sudah ku kenakan menutupi setengah wajahku.


aku mengambil sisir yang terbuat dari bambu dari sebuah meja kecil yang terletak di samping bak mandi itu lalu menggunakannya untuk menyisir rambut hitam sepinggang ku yang sudah setengah kering dan membiarkannya tergerai begitu saja.


aku melangkahkan kakiku keluar dari kamar pemandian menuju salah satu kamar dimana orang orang yang kami selamatkan kemarin berada.


"loh,.. kosong." gumamku bingung pasalnya setelah aku sampai di kamar itu aku malah mendapati kamar dan ranjangnya kosong. aku melangkahkan kakiku ke kamar yang berada di samping kamar itu namun keadaan di kamar itu pun sama yaitu kosong tanpa penghuni.


"kemana perginya mereka semua, apa mereka berkumpul di kamar itu..??" gumamku pelan sembari melangkah kan kakiku menuju kamar terakhir yang di huni oleh 2 orang yang kami selamatkan


aku membuka pintu yang tertutup itu secara perlahan, dan betul saja apa yang barusan ku pikirkan yaitu aku mendapati ke empat orang penghuni kamar lainnya sedang berada di kamar ini dan keempat orang itu sedang sedang berdiri di sisi kanan ranjang dengan dua orang penghuni kamar sebelumnya sedang duduk dan menyenderkan kepalanya di senderan ranjang.


"ternyata kalian semua berada disini. pantas saja kamar yang kalian tinggali sebelumnya kosong." ucapku sembari berjalan menghampiri mereka semua.


"siapa kau,.. dan mengapa kau bisa berada disini..??" tanya salah satu dari laki laki yang berbaring yang nampak lebih muda dari yang lainnya itu kepadaku dikala ia melihatku berjalan menghampiri mereka.


"apa kau tidak salah menanyakan hal itu kepadaku..??" ucapku memandang nya dingin


"apa maksudmu..??" ucapnya lagi sambil menatapku.


"apa kau bodoh, bukan kah seharusnya aku yang menanyakan hal itu kepada kalian,


siapa kalian dan mengapa kalian masuk kedalam hutan tengkorak. apa kalian tidak tau bahaya apa yang sedang menanti kalian di dalam sana..??" ucapku membalas tatapan nya


"siapa yang kau katakan bodoh hah,.. apa kau tau hukuman apa yang akan kau terima bila menghina seorang putra mahkota." ujarnya dengan nada meninggi.


"apa pendengaranmu bermasalah, sudah jelas bahwa kau yang kukatakan bodoh." ucapku dengan menatap nya tajam pasalnya aku adalah orang yang paling tidak suka di bentak. lebih baik rasaku aku di hukum fisik seperti di cambuk daripada di bentak oleh orang apalagi ini orang yang membentak ku adalah orang yang sama sekali tidak ku kenal.


"kau,.. apa kau tidak tau siapa aku hah." ucapnya dengan jari telunjuknya yang terangkat ke padaku.


"turunkan jari kotormu itu dari hadapanku sebelum kesabaran ku habis dan mematahkan nya menjadi 10 bagian." ucapku sembari menatapnya tajam.


"Jenderal liu, tunggu apa lagi seret dan penggal wanita ini saat ini juga." ujarnya sambil menatap salah satu laki laki yang yang berdiri dan diam sambil menundukkan kepala sedari tadi di samping ranjang bersama ke tiga orang lainnya.


aku mengalihkan pandangan menatapnya yang mulai mengangkat kepala menatapku dan hendak melangkah namun terhenti dikala kami mendengar suara gebrakan pintu yang kuat.


BRAKK


Dasar tak tau diri kalian semua. sudah di tolong bukannya berterima kasih namun kalian malah ingin menyeret dan membunuh orang yang sudah menolong kalian. dasar manusia yang tidak beradab." aku menatap pintu yang kini terbuka lebar dan menampilkan seorang wanita bersurai biru langit dengan cadar berwarna biru yang melekat di wajahnya.


"apa kau tidak apa apa mei mei..??" ucapnya sambil memegang bahuku dan menatapku cemas.


"aku baik baik saja jie jie." ucapku dikala aku melihat adanya aura kekwatiran yang kuat terpancar lewat ke dua matanya."


"apa kalian tidak tau malu hah,.. apa kalian tau siapa yang telah menyelamatkan nyawa kalian dan membawa kalian keluar dari dalam hutan waktu itu...??, apa kau, kau, kau, kau, kau,Dan kau tau bahwa saat berada dalam hutan detak jantung kalian sudah hampir berhenti dan kalau saja dia tidak datang dan menolong kalian tepat waktu maka sudah bisa di pastikan bahwa kalian saat ini sudah tinggal nama dan tidak bisa pulang kembali ke keluarga kalian." ujarnya setelah ia melepaskan tangannya dari bahuku dan menatap tajam ke arah 6 orang yang masih menatap kami sedari tadi.


"Dan satu hal lagi,.. jangan pernah gunakan gelarmu sebagai putra mahkota itu disini. karna di tempat ini adalah dialah yang berkuasa dan bukan kau atau gelarmu itu." ujarnya sambil menunjuk pria yang yang tadi membentak ku


kutatap mereka berenam yang langsung terdiam dan menundukkan kepala setelah mendengar apa yang jie jie yuan katakan barusan.


"Maaf kan sikap putraku yang tidak tau diri ini nona." ucap laki laki paruh baya yang sedari tadi duduk diam di atas tempat tidur dengan tiba tiba.


"Mengapa paman yang minta maaf..?? paman tidak bersalah. yang bersalah itu dia." ujarku sambil menunjuk laki laki yang tertunduk di sampingnya itu


"aku yang salah nona karna aku tidak bisa mengajari putraku dengan baik." ujarnya kembali sambil menatapku.


"Ayahanda, ak,.."


"diam,.." ucap laki laki yang meminta maaf tadi yang seketika menghentikan kata kata yang akan keluar dari mulut laki laki yang meninggikan suaranya kepada ku itu tadi.


"Maaf kan sikapku yang tadi nona." ujar laki laki itu sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain. aku menghela nafasku kasar lalu menatap jie jie yuan yang masih berdiri di sampingku itu..


"makanannya sudah siap mei mei..." ujarnya dikala ia melihat tatapan mataku seakan minta penjelasan mengapa dirinya datang kemari.


aku mengalihkan pandangan ke arah ke enam orang yang berada di hadapanku lalu melangkahkan kakiku keluar dari kamar itu..


"aku duluan jie jie." ucapku sebelum melangkahkan kakiku keluar dari kamar itu..


.


.


.


.


.


.


.


*jangan lupa ya buat


like


koment


rate bintang lima


and vote ya 🙏🙏🙏


**see you in the next chapter 😊😊😇*