
Saat ini aku, jie jie Yuan, ibunda selir ketiga dan pangeran ke empat sedang berjalan mengitari istana kekaisaran Han. tadi selepas ibunda selir ketiga dan pangeran ke Empat datang mengunjungi kami dan berbincang sebentar, ibunda langsung mengajak kami berdua untuk melihat lihat istana yang telah kami tinggalkan selama dua tahun ini. kata ibunda selir ketiga alasan beliau mengajak kami berkeliling adalah, supaya kami bisa mengingat kembali letak letak ruangan atau bangunan bangunan yang berada di kekaisaran ini. aku melangkahkan kakiku mengikuti yang lainnya melewati lorong lorong istana. banyak pasang mata yang menatap ku dan jie jie Yuan dengan penasaran sepanjang perjalanan tapi mereka hanya diam saja dan membungkukkan tubuhnya saat kami berjalan melewati mereka karna melihat adanya ibunda selir ketiga dan pangeran ke empat yang berjalan bersama dengan ku dan jie jie Yuan. kami telah melewati cukup banyak ruangan dan tempat kediaman. mulai dari tempat tinggal para pelayan, dapur istana yang menurutku tidak menarik sama sekali, hingga lapangan tempat para prajurit istana berlatih. saat melihat bagaimana cara prajurit istana berlatih, aku hanya menatap remeh ke arah mereka. bagaimana tidak aku menatap mereka seperti itu. karna dari sekali lihat saja, aku bisa melihat celah dari setiap gerakan yang mereka peragakan. mulai dari gaya kuda kuda mereka yang terlihat tidak seimbang, cara mengayunkan pedang yang sangat lambat dengan gerakan yang hanya menebas dan menusuk, dan satu lagi, gerakan mereka sangat mengayunkan pedang bahkan sangat kaku.
"pantas saja kekaisaran ini tidak masuk ke dalam daftar kekaisaran yang terkuat dan disegani di benua ini, cara berlatih para prajuritnya saja hanya seperti itu. dan.lagi, lihat itu kultivasi mereka semua sangat rendah bahkan yang terkuat hanya berada di tingkat grand master tahap lima, itupun hanya satu orang saja. dan kurasa orang itu adalah salah satu jendral yang berada di kekaisaran ini. cih, kalau begini sih. aku sendiri bisa menghancurkan kekaisaran ini hanya dengan waktu singkat. tanpa mendapatkan perlawanan yang berarti dari mereka." ucapku dalam hati sembari melangkahkan kakiku menyusul langkah yang lainnya yang telah berjalan terlebih dahulu meninggalkanku yang masih berdiri dan mengamati cara berlatih para prajurit.
" mei mei cepat kemari nanti kau tertinggal jauh dibelakang kami." kudengar suara jie jie Yuan yang memanggilku dari jauh sambil menghentikan langkah di ikuti oleh yang lainnya dan melambaikan tangannya ke arahku.
" iya jie jie." ucapku sembari berjalan mendekati mereka dan berhenti saat kakiku telah mencapai mereka.
" baiklah bangunan selanjutnya adalah aula istana. aula ini biasanya digunakan untuk rapat dan acara acara penting kekaisaran lainnya." ucap ibunda selir ketiga sembari menunjuk sebuah bangunan yang tampak sangat luas dan memiliki pintu disetiap sudutnya. aku menatap bangunan itu sekilas saja lalu melanjutkan langkahku mengikuti langkah mereka yang juga telah berlalu.
kami terus melangkahkan kaki hingga tiba di sebuah bangunan yang tampak lumayan megah dan dijaga dengan ketat oleh para prajurit istana. " bangunan itu adalah istana Naga yang merupakan tempat kediaman yang mulia kaisar atau ayahandamu yuna'er." ucap ibunda selir ketiga sembari tersenyum ke arahku dan menghentikan langkah tepat di depan bangunan itu. aku mengangguk dan tersenyum tipis membalas senyuman yang dia tujukan untukku barusan. walau aku tau bahwa ia tak dapat melihat senyumanku sebab tertutup oleh cadar yang ku pakai, tapi aku tetap tersenyum tipis untuk menghormatinya.
" oh, jadi seperti ini tempat tinggal orang yang menjadi ayahku itu, bagus sekali ya,.. sungguh bagus sekali. dia tinggal di tempat yang senyaman dan semegah ini. sementara aku yang yang notabenya adalah darah dagingnya sendiri, dia tempatkan di sebuah gubuk tua dan busuk. sungguh perbuatan yang sangat terpuji." ucapku dalam hati sembari menatap bangunan itu dengan nanar.
" salam hormat hamba yang mulia selir ketiga dan pangeran ke empat, maaf atas kelancangan hamba. namun hamba ingin tau atas tujuan apa yang mulia selir ketiga datang ke kediaman yang mulia kaisar. dan siapakah gerangan dua orang yang datang bersama dengan anda ini." aku terhentak dari lamunanku saat tiba tiba saja salah seorang prajurit yang berjaga di depan kediaman naga itu datang menghampiri kami dan bertanya mengenai aku dan jie jie Yuan. " apa kah mereka sama sekali tidak mengenali aku yang notabenya adalah seorang putri mahkota di kekaisaran ini..??" ucapku kembali dalam hati.
" kami datang kemari hanya untuk berjalan jalan saja. bukan untuk tujuan yang lain. sedangkan dua orang yang datang bersama dengan ku ini apa kalian tidak mengenalinya sama sekali..??" ucap ibunda selir ketiga sembari menatap mereka tajam.
" ma.. maaf kan hamba yang mulia selir ketiga,.. tapi hamba memang tidak mengenali mereka berdua." ucap prajurit itu dengan sedikit terbata dan membungkukkan tubuhnya.
" huh, sudah berapa lama kau menjadi prajurit di istana ini,..??" kali ini pengeran ke empat yang bicara sembari menatap prajurit itu sinis
" ham,.. hamba sudah menjadi prajurit di kekaisaran ini sejak delapan tahun yang lalu pangeran.." ucapnya kembali.
" kau sudah menjadi prajurit cukup lama, tapi kau sama sekali tidak mengenali orang yang menjadi putri mahkota di kekaisaran ini. apa kau sedang bercanda denganku..??" ucap pangeran ke empat sembari menatap prajurit itu tajam.
" am,.. ampuni hamba pangeran, ham.. hamba tidak ada bermaksud untuk berbohong. tapi hamba memang tidak mengenali putri mahkota sebelumnya. jadi ampunilah kelancangan hamba" ucap prajurit itu sembari berlutut dan membungkukkan tubuhnya.
" sudah lah Lian'er, mungkin memang selama dia bekerja sebagai prajurit di istana ini, dia tidak pernah bertemu dengan jie jie mu. makanya dia sampai tidak mengenalinya." ucap ibunda selir ketiga sembari menepuk pundak pangeran ke empat.
aku menatap kejadian barusan dengan tatapan miris. " cih, sungguh miris sekali rasanya nasibku selama berada di kekaisaran terkutuk ini. pertama orang orang yang dikekaisaran ini bahkan sudah menolak keberadaan ku semenjak dilahirkan. kedua bagaimana orang yang sudah bekerja sebagai prajurit selama delapan tahun di istana ini tidak mengenaliku sama sekali. huh,.. ini semua pasti karna perbuatan dari sikaisar itu. ia sengaja memberikan izinnya kepada saudara laknatku untuk memindahkanku ke sudut dan paling sudut istana dan membuat kediamanku hanya berupa gubuk tua yang reot. supaya orang orang perlahan melupakanku dan menganggapku telah tiada. cih, lihat saja nanti, aku akan membalas kalian semua. tunggu saja tanggal mainnya." ucapku sekali lagi dalam hati dan menatap nyalak kearah prajurit yang masih bersimpuh itu.
"baiklah, jadi sekarang karna aku sudah berada disini, aku ingin memperkenalkan diri kepada kalian yang belum mengenaliku. aku adalah Han Yuna, seorang putri mahkota di kekaisaran kalian ini. jadi untuk lain kali jika kalian bertemu denganku, maka sebaiknya kalian mengenaliku dan memperlakukanku dengan baik." ucapku sembari menatap mereka yang berdiri dan berjaga di depan kediaman itu.
" Ba,.. baik putri mahkota, ampuni kesalahan kami karna kami tidak mengenali anda sebelumnya." ucap beberapa prajurit yang berjaga. namun ada sebagian yang hanya diam dan menatapku antara acuh dan sinis.
aku menggerakkan jari tanganku pelan di bawah lengan hanfu yang ku kenakan agar orang lain tidak mengetahui pergerakan ku. lalu mengeluarkan sebuah pisau kecil yang terbuat dari es dari sana dan mengarahkannya tepat ke leher orang yang bergumam dengan pelan barusan.
" jaga mulutmu, karna aku bisa mendengar apa yang kau ucapkan barusan. jangan berani bermain main denganku atau nyawamu akan hilang dari tubuhmu. kali ini aku akan memaafkanmu dan hanya akan memberikan peringatan kecil kepadamu. tapi tidak dengan lain kali." ucapku dalam pikirannya yang membuat prajurit itu terkejut lalu menyentuh lehernya yang telah mendapatkan goresan tipis tapi panjang dari pisau es yang kukeluarkan sebelumnya. dan goresan itu mengeluarkan darah cukup banyak.
kutatap prajurit itu yang langsung menatapku bingung, terkejut dan takut secara bersamaan sebelum ia jatuh kelantai dan pingsan. aku menghela nafas kasar menatapnya lalu melangkahkan kakiku meninggalkan tempat kediaman kaisar itu dan mengajak yang lainnya juga ikut pergi, sebelum para prajurit itu mengetahui bahwa salah satu teman mereka telah pingsan dengan luka di lehernya. karna kuyakin hal itu akan membuat sebuah kehebohan nantinya di kediaman tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
.
hai hai hai,... apa kabar kalian. sehat kan?? semoga saja begitu. maaf ya aku baru up sekarang, aku baru saja menyelesaikan UAS jadi, ya aku baru bisa up-nya sekarang. jangan lupa juga ya buat..
like,
koment
rate bintang lima
and vote yahhh 🙏
** see you in the next chapter 🙏😇🥺**