My Brother'S Friend Is My Partner

My Brother'S Friend Is My Partner
Extra Part 3



Bella meringkuk dalam pelukan Brian, semenjak kehamilan nya diketahui 1 bulan lalu Bella dilanda mual muntah yang parah hingga seringkali ia merasa begitu lemas tak bertenaga. Obat anti mual dari dokter tak membantu banyak. Brian begitu mencemaskan nya padahal Bella sudah mengatakan bahwa apa yang ia alami adalah hal yang wajar di usia kehamilan yang masih muda.


"Uda enakan belum?" Brian mengusap lembut punggung Bella. Sebelumnya Brian juga sudah mengoleskan minyak kayu putih ke tubuh istrinya sehabis Bella memuntahkan isi perutnya.


"Iya" jawab Bella singkat, dari lirihnya suara yang keluar Brian bisa mengetahui seberapa lemas tubuh istrinya kini.


"Maafin abang ya" tangan Brian tak henti mengusap rambut dan punggung Bella.


"Kenapa?" Meski Bella sudah tau ke mana arah pembicaraan suaminya. Karena ini bukan pernyataan maaf yang pertama, mungkin sudah ke seribu kali nya selama ia mengalami mula muntah seperti ini.


"Karena udah bikin kamu kayak gini"


Bella menghela nafas lalu menggelengkan kepalanya. Mulutnya terasa pahit membuatnya malas bicara.


"Sementara abang nggak bisa bantuin apa-apa" ah kalau sudah begini terpaksa Bella harus membuat tenang suaminya.


"Kata siapa nggak bisa bantuin? ini buktinya abang kasih aku pelukan hangat yang rasanya nyaman banget, selalu gesit saat aku butuh apapun, selalu terjaga tengah malam saat aku merasa nggak nyaman. Aku rasa dengan menjadi suami yang peduli dan perhatian pada istri abang udah membantu aku banyak. Kalo mau bantuin hamil ya jelas nggak bisa, itu kan kodratnya wanita" ucap Bella.


"Iya kalau abang lagi nggak kerja kayak gini bisa kasih pelukan, kalo abang lagi kerja kamu harus ngelewatin semuanya sendiri" karena itu Brian sebisa mungkin menghindari lembur, ia selalu pulang tepat waktu. Kalaupun harus lembur maka ia akan membawa pekerjaan nya pulang ke rumah.


"Abang kerja juga buat nafkahin aku sama anak kita. Abang uda sempurna menjalankan peran sebagai suami. Jangan merasa bersalah lagi" Brian menciumi wajah Bella yang sedikit pucat.


"Makasih yah sayang, kamu memang istri yang baik. Istri yang begitu mengerti suami" Memiliki Bella adalah anugerah dari Tuhan yang tak terhingga. Di usianya yang masih muda Bella adalah istri yang dewasa dan penuh pengertian. Brian merasa begitu dihargai sebagai seorang pria.


"Kata Alex Bianca nggak separah kamu mual muntahnya, dia cuma muntah di pagi hari dan cukup nyium bau suaminya mual nya langsung reda." Bella tau itu karena ia dan Bianca selalu berkomunikasi. Ia sering bertanya banyak hal seputar kehamilan pada adik iparnya itu karena Bianca sudah sedikit lebih berpengalaman.


"Iya kasihan Regan kalo Bianca mengalami hal yang sama kayak aku bang, dia kan mesti ngurusin Regan yang lagi aktif-aktifnya. Dulu saat dia lagi hamil Regan Bian juga parah kayak aku. Maunya nempel sama Alex mulu. Bayangin aja gimana tersiksanya dia saat dipaksa berpisah sama Alex dulu" Sindir Bella.


"Nggak usah ungkit masa lalu sayang" Brian mencium Bella dengan gemas.


"Sekarang Alex bilang Bian juga sama aja, maunya nempel dia mulu. Tiap mau ditinggal kerja dia nya drama banget. Nangis-nangis sedih kayak mau pisah jauh dan lama. Kalo Alex lagi ada di rumah ke toilet aja diikutin" ucap Brian, tapi setiap Alex menceritakan tentang istrinya meski kelihatan nya begitu merepotkan Brian tak pernah mendengar nada keluhan dari Alex, mata pria itu bahkan selalu berbinar saat menceritakan tentang Bian.


Brian merasa tenang adik manjanya jatuh di tangan pria yang tepat. Meski hubungan mereka dimulai dengan cara yang salah namun Brian sangat bersyukur Alex bertanggung jawab dengan baik dan begitu mencintai adik nya.


"Bian hamil nggak hamil emang bucin banget sama Alex" Ucap Bella sambil terkekeh.


"Kalo kamu gimana? bucin nggak sama abang?" Brian mengulum senyum saat menanyakan hal itu pada Bella.


"Tapi ujung-ujung nya abang yang ngejar kamu sayang" Brian mencium bibir Bella agar istrinya tak berlanjut mengungkit masa lalu saat ia bersikap buruk pada Bella.


🍁🍁🍁🍁


Alex membelalakkan matanya ketika melihat Bianca menunggu di ranjang dengan lingerie seksi nya. Alex merasakan sesuatu yang kian meronta saat melihat Bianca menggigit bibirnya, terlihat begitu seksi dan menggoda.


Pria itu tak habis fikir mengapa Bianca terus saja menggodanya. Saat hamil anak kedua istrinya selalu meminta berhubungan badan. Alex tentu sangat senang, namun ia mengkhawatirkan janin di perut Bianca jika mereka terlalu sering melakukan nya.


"Sayang, jangan siksa abang dong." Keluh Alex, ia memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Kok nyiksa?"


"Abang nggak bisa nahan diri jadinya" ucap Alex masih tak menatap ke arah istrinya.


"Kan Bian mau, kenapa dibilang nyiksa?"


"Iya tapi kan kita nggak boleh sering-sering melakukan nya sayang. Nanti bayi kita kenapa-kenapa. Bian masih hamil muda, dokter bilang nggak boleh sering-sering" Ini bukan pertama kalinya Alex memberikan pengertian pada Bianca terkait hal ini.


"Abang uda nggak suka ya main sama Bian? abang uda bosan kan? makanya nolak." Yah dan kejadian ini pun bukan kali ini saja terjadi. Bianca akan merajuk dan berfikir yang tidak-tidak. Alex tau ini pasti pengaruh hormon kehamilan nya sehingga Bianca selalu menginginkan nya.


"Bi, enam kali sehari aja abang hayuk aja kalo bukan karena Bian lagi hamil muda. Bian nggak tau aja abang juga uda pengen banget. Jangankan liat Bian dengan baju seksi begini, lihat Bian lagi pakai baju normal aja abang selalu pengen. Tapi ini demi bayi kita sayang. Nanti ya kalo uda agak gedean dikit kita lakuin itu 3 kali sehari kayak minum obat" dan semoga semangat Bianca tetap seperti ini.


"Bian nggak percaya, pasti abang uda punya selingkuhan kan di luar sana makanya sama Bian abang udah nggak naf**" Bianca menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Rasanya begitu sedih saat Alex menolak dirinya.


Bianca tersentak saat Alex menarik selimut yang menutupi tubuhnya, ia semakin tercengang saat melihat Alex sudah polos tanpa memakai apapun. Pria itu menatap penuh hasrat pada Bianca.


"Lihat sayang, ini yang Bian bilang uda nggak naf**" Alex menunjuk pada bagian tubuhnya yang sudah berdiri dengan gagah.


Bianca memalingkan wajahnya yang sudah merona, ia merasa malu meski awalnya dia yang meminta.


"Lihat aku nyonya, kenapa memalingkan wajah hem?" Alex meraih dagu Bianca agar menghadap ke arahnya, pria itu meraup bibir sensual Istrinya dan menyesapnya dengan rakus.


🍁🍁🍁


Ada nggak yang ngidam nya kayak Bian? 😂😂😂