
Bella menangisi kejadian yang menimbulkan trauma baginya. Ia sangat jijik melihat bekas sentuhan Doni pada tubuhnya.
Gadis itu tak bisa mengingat dengan jelas apa yang terjadi karena rasa shock yang membuatnya kehilangan kesadaran saat Doni mulai menjamah tubuhnya. Bella hanya ingat saat tersadar dirinya sudah dalam kondisi tak memakai apapun, bahkan banyak sekali jejak kemerahan pada tubuh nya. Ada cairan menjijikkan yang tertinggal di bagian bawah tubuhnya.
Gadis itu menangis bahkan meraung selama berjam-jam di bawah shower sambil menggosok-gosok jejak yang Doni tinggalkan, ia benar-benar merasa jijik. Tangisan nya semakin kencang kala wajah Brian tiba-tiba hadir. Terlebih saat mengingat percakapan terakhirnya dengan Brian
"Aku akan memberikan kesucian ku untuk abang" Hatinya terasa pilu mendapati kenyataan pahit ini. Ia gagal menjaga diri, dan pria lain telah menyentuh nya. Hatinya saja tak menerima ada pria lain yang menjamahnya selain Brian lantas bagaimana dengan pria itu? tentu saja ia tak akan mau menerima barang bekas.
Sejenak terlintas niat untuk mengakhiri hidup nya, ia merasa tak ada artinya lagi. Ia tak memiliki siapapun. Sang papa telah meninggalkan nya untuk selama-lamanya, sementara sang mama begitu sibuk dengan kekasih barunya. Tak ada waktu bagi Elza untuk mendengar kesah nya.
Brian?
Ia tak memiliki muka untuk mengejar pria itu lagi. Mungkin mati memang lebih baik.
Tapi bukankah itu akan membuat Doni merasa berbahagia? tak rela rasanya melengkapi kemenangan pria itu dengan kematian nya. Suatu saat ia harus membalas perbuatan pria bejat itu.
🍁🍁🍁
Bella sedang berada di mini market dekat rumahnya, stok pembalutnya sudah habis sementara siklus bulanan nya sudah datang. Tentu saja tidak ada yang paling membahagiakan bagi Bella selain kedatangan tamu bulanan setelah apa yang menimpanya. Ia tak akan sudi mengandung benih Doni di rahimnya. Mungkin ia akan benar-benar mengakhiri hidupnya andai kejadian kelam itu berbuah janin.
Bella berusaha meraih pembalut yang entah mengapa hari ini terletak pada rak yang cukup tinggi hingga ia kesulitan mencapainya. Meski sudah menjinjitkan kakinya tetap saja pembalut itu begitu sulit untuk ia gapai.
Bella ingin berteriak rasanya, kenapa akhir-akhir ini semua seakan sedang berlomba mempersulit hidup nya.
"Ini, kenapa tidak berusaha meminta tolong pada pegawai" ucap seseorang sambil menyodorkan pembalut yang sebelumnya ia bantu mengambilkan nya. Sejenak gadis itu membeku, suara pria itu begitu ia kenali dan tentu saja amat ia rindukan.
"Terimakasih" Bella membalikkan badan nya menghadap pada pria yang tak lain adalah Brian itu. Ia berusaha bersikap biasa, menyunggingkan senyum tipis pada pria yang masih menguasai keseluruhan hatinya hingga detik ini.
"Sama-sama" Bella terpana kala mendapati jawaban lembut Brian yang disertai senyum manis nya. Selama Bella berusaha mengejar Brian, tak pernah ia mendapatkan perlakuan yang semanis ini dari pria itu.
"Aku duluan bang" Pamit Bella hendak berjalan menuju kasir. Namun Brian meraih tangan gadis itu hingga menghentikan langkah nya.
"Boleh kita bicara sebentar?"
"Nggak di sini, di kafe depan sana saja ya sambil makan malam. Kebetulan aku baru pulang dari kantor tidak sengaja lewat sini dan mampir ingin membeli minuman, kebetulan melihat mu di sini jadi sekalian saja ada yang ingin aku omongin" Brian menunjuk kafe yang terletak di depan mini market tersebut. Bella terdiam beberapa saat, andai kejadian naas itu tak pernah menimpanya mungkin saat ini adalah saat paling membahagiakan baginya, ia tak akan pernah berfikir lama untuk mengiyakan ajakan Brian.
Kenapa semua yang ia harapkan terjadi dulu malah perlahan tercapai di saat dirinya ingin menutup kisah tentang Brian? Mulai dari Brian yang mengiriminya chat lebih dulu dan sekarang pria itu berinisiatif mengajak nya makan malam, meski Bella masih dapat merasakan gengsi pria itu masih begitu tinggi dengan segala penjelasan nya mengenai alasan keberadaan nya di sini. Meski jelas begitu janggal, mengingat dari kantor menuju rumah Brian sama sekali tidak melewati arah rumah nya ini.
"Baiklah, aku bayar ini dulu" Jawab Bella akhirnya sembari menunjukkan pembalut di tangan nya. Jujur ia merasa penasaran mengenai apa yang akan Brian bicarakan padanya.
Brian mengangguk, lalu mengiringi Bella menuju kasir. Brian berinisiatif membayar belanjaan Bella meski gadis itu telah menolak. Setelahnya mereka menuju kafe yang dipilih Brian. Bella dan Brian berjalan beriringan karena jarak kafe tersebut tidak jauh dari mini market keduanya memilih untuk berjalan kaki saja.
"Kamu pesan apa?" Tanya Brian setelah mereka telah duduk di salah satu meja yang berada di sudut kafe itu.
Jujur Bella sama sekali tidak berminat untuk makan, bahkan beberapa hari ini ia hanya mengkonsumsi biskuit dan susu untuk mengganjal perutnya itu pun dengan memaksakan diri agar tidak sakit.
Tapi karena tak enak hati pada Brian yang sudah mengajaknya sepertinya Bella harus makan untuk kali ini.
"Aku ikut abang saja" Brian benar-benar merasa aneh dengan sikap Bella yang cenderung datar dan dingin. Sosok yang berada di hadapan nya ini sangat berbeda dengan Bella yang ia kenal. Gadis berisik yang ceria dan selalu menunjukkan tatapan memuja padanya.
"Steak mau?" Tawar Brian. Hati Bella meringis, kenapa Brian harus bersikap selembut ini padanya. Ia takut luluh dan berubah menjadi gadis tak tau diri yang kembali mengejar Brian.
"Boleh" Jawab Bella. Ia melemparkan pandangan nya ke arah luar, menikmati lampu dari kendaraan yang lewat untuk mengalihkan perasaan nya.
"Minumnya lemon tea ya?" Tawar Brian lagi yang dijawab anggukan oleh Bella.
Brian memanggil pelayan dan menyebutkan menu pesanan nya dan Bella. Selepas kepergian pelayan tersebut kini Brian menatap pada Bella yang masih memalingkan wajahnya ke arah jalan.
Setelah chat yang tak berbalas dan berakhir tak bisa tidur semalaman Karena rasa penasaran nya Brian memutuskan untuk menemui Bella ke rumahnya, ia tak peduli pada gengsinya yang ia biarkan terjun bebas karena menemui gadis itu lebih dulu, beruntung saat sudah dekat dengan rumah gadis itu, ia melihat Bella memasuki mini market. Brian segera menghentikan laju kendaraan nya dan segera menemui Bella. Setidaknya harga dirinya masih bisa sedikit di selamatkan. Ia bisa beralasan tidak sengaja pada pertemuan mereka.
"Kenapa chat ku tidak dibalas?" Tanya Brian yang membuyarkan lamunan Bella. Gadis itu tak langsung menoleh mendengar pertanyaan pria itu, ia sedang sibuk mencari alasan untuk menjawabnya.
🍁🍁🍁