My Brother'S Friend Is My Partner

My Brother'S Friend Is My Partner
Chapter 43



"Abang beneran mau kasih tau bang Brian?" Tanya Bianca saat mobil Alex sudah berhenti di halaman rumahnya.


"Abang nggak pernah seyakin ini sebelumnya" Tegas Alex sambil menyunggingkan senyum Ia menggenggam erat tangan Bianca dan menatap dalam pada gadis itu.


"Jangan khawatir, kamu harus selalu dukung abang ya. Doain abang supaya bisa meluluhkan hati Brian" bisik Alex lagi, jauh di dalam lubuk hatinya Alex begitu meyakini bahwa semua tidak akan mudah. Kesalahan nya begitu fatal mengingat Brian begitu menyayangi Bianca melebihi apapun di dunia ini.


Tapi sebagai pria sejati, selangkah pun ia tak akan mundur memperjuangkan Bianca dan bayi mereka.


"Tapi Bian takut abang Brian bakal mukulin abang" ucap Bianca lirih, ia tampak begitu getir.


"Nggak apa-apa, abang pantas mendapatkan nya" Bianca merasa hatinya begitu ngilu mendengar ucapan pria itu.


"Nanti kalau abang kenapa-kenapa gimana" Suara Bianca terdengar bergetar menandakan kekhawatiran nya.


"Untuk mu dan anak kita, abang rela walaupun Brian membunuh abang sekalipun" ucap Alex. Dan tanpa pria itu duga air mata Bianca luruh begitu derasnya.


"Kalau abang mati Bian dan bayi kita gimana" Bianca menangis tersedu, Alex segera menarik tubuh Bianca dan memeluknya erat. Ia mendaratkan kecupan di puncak kepala wanita nya. Ah lagi-lagi ia salah bicara, Alex merutuki dirinya karena asal bicara, ia lupa bahwa Bianca sedang hamil dan perasaan nya begitu sensitif.


"Kalau begitu abang akan tetap hidup untuk kalian sayang" ucap Alex meyakinkan Bianca yang masih terisak.


"Jangan menangis lagi ya, nanti saat abang lagi ngobrol sama Brian kamu masuk ke kamar aja. Jangan keluar kamar apapun yang terjadi ya?" Bian tampak ragu untuk mengangguk.


"Istri itu harus menuruti kata-kata suaminya sayang. Jangan protes oke?" Lanjut Alex sembari tersenyum lebar, ia mencolek hidung Bianca yang tidak terlalu mancung namun begitu mempesona di mata nya.


"Kita kan belum suami istri" Cebik Bianca sambil menghapus air matanya.


"Tapi sebentar lagi juga jadi suami istri" ucap Alex dengan penuh percaya diri. Alex lega melihat Bianca mengulum senyum dengan semburat merah di wajahnya.


"Kiss dulu dong, biar abang kuat dan semangat menghadapi abang kamu" Alex memainkan kedua alisnya membuat Bianca semakin tersipu. Tiba-tiba Alex meraih tengkuk Bianca lalu mencium dan memagut bibirnya cukup lama, Bianca hanya bisa pasrah mendapat serangan Alex yang tiba-tiba.


"Ayo sayang, ingat pesan abang ya" Ucap Alex seraya menggenggam tangan Bianca setelah ia melepaskan ciuman nya.


Keduanya kini berjalan menuju rumah Bianca dengan tangan yang saling menggenggam. Setibanya di ruang keluarga mereka melihat Brian yang sedang duduk bersama Bella, mereka sepertinya telah menunggu kedatangan Alex dan Bianca.


"Bell, temenin Bianca di kamar ya" Ucap Alex pada Bella, gadis itu segera mengangguk dan beranjak dari duduk nya.


Alex mengangguk pada Bianca yang terlihat ragu, ada ketakutan di mata gadis itu.


"Seperti yang abang bilang, apapun yang terjadi tetaplah di kamar." Alex tersenyum memberikan keyakinan pada gadis itu. Meski masih terlihat keraguan di matanya namun Bianca tetap mengangguk.


"Yuk Bi" Bella menuntun Bianca untuk menuju kamar gadis itu.


Selepas kepergian sepasang sahabat itu, Alex segera mengambil posisi duduk di hadapan Brian. Ia menghela nafas untuk menghilangkan ketegangan pada dirinya.


"Gimana bro, Bian uda kasih tau siapa pria itu?" Alex dapat melihat di mata Brian masih terpancar kekecewaan yang mendalam.


"Kalo lu uda tau, lu mau apain pria itu?"


"Minta pertanggung jawaban nya lah apa lagi" Tegas Brian.


"Yan, gue minta maaf. Mungkin lu akan sulit untuk menerima kenyataan ini. Tapi sebelum gue kasih tau siapa dia, lu harus tau bahwa pria itu sangat menyayangi Bianca dan calon bayi yang dikandung nya. Dia akan bertanggung jawab" Ucap Alex tanpa keraguan.


"Ya dia memang harus bertanggung jawab atas perbuatan nya Lex."


"Bianca juga mencintai pria itu, jadi lu harus merestui mereka. Lu mau janji?" Wajah Alex begitu serius dan tampak tenang namun jantung nya berdebar tak menentu.


"Iya gue janji" Ucap Brian.


"Gue sebelumnya minta maaf Yan, pria brengsek yang menghamili Bian adalah gue. Gue ayah dari janin yang Bian kandung" Ucap Alex. Namun Brian malah terkekeh.


"Gue emang lagi suntuk banget bro, makasih lu mau menghibur gue. Tapi lu nggak perlu berbohong untuk mengambil tanggung jawab atas perbuatan yang nggak lu lakuin" ucap Brian yang membuat Alex gusar.


"Yan gue nggak bohong, gue yang uda nidurin Bianca. Anak yang dikandung Bian itu anak gue." kejujuran yang terpancar di mata Alex membuat Brian terpaku, ia seperti kesulitan untuk mempercayai ini. Namun ia begitu mengenali Alex, pria itu tidak nampak sedang berbohong. Seketika rahang nya mengeras, darah nya terasa mendidih, Brian merasa hilang kendali. Ia segera meraih kerah baju Alex.


"Lu jangan main-main sama gue Lex. Sekali lagi gue bilang jangan pernah coba bohongin gue"


Mata Brian menatap nyalang pada Alex jelas sekali Brian tengah kesulitan mengendalikan amarahnya.


"Gue nggak bohong Yan, anak yang dikandung Bian benar-benar anak gue. Dan gue akan bertanggung jawab, gue akan menikah Bian" tegas Alex.


Sontak Brian mendaratkan pukulan bertubi-tubi pada wajah Alex.


"Brengsek lu, bajingan!" Brian tampak membabi buta melancarkan pukulan nya pada tubuh Alex. Ia terus mengumpat dan meneriaki Alex dengan kata-kata kotor.


"Gue percayain lu buat jagain dia malah lu lahap adek gue, lu rusak adik yang selalu gue jaga setengah mati. Lu bajingan, lu bukan manusia brengsek!!" Brian terus mengamuk pada Alex. Ia tak bisa menepis kekecewaan nya pada sahabatnya itu.


Brian tak peduli meski Alex telah bersimbah darah, ia terus memukuli Alex tanpa henti. Meski kesadaran nya mulai hilang Alex sama sekali tak berusaha membalas atau membela diri, ia pasrah saat Alex mendaratkan pukulan dan tendangan pada tubuhnya, ia paham luka yang ada di tubuhnya kini tak sebanding dengan luka hati yang dirasakan oleh Brian.


"Kenapa Lex, kenapa adek gue yang mesti lu giniin. Gue salah apa sama lu, gue uda percayain dia. Bahkan kemaren gue masih kasih lu bawa dia. Lu bajingan!" Brian terduduk sambil mengumpat, air matanya berhamburan. Ia benar-benar terpukul atas pengkhianatan sahabatnya.


"Ma-maafin gue Yan, gue salah. Tapi gue benar-benar menyayangi Bian dan anak gue. Kasih gue kesempatan untuk menebus kesalahan gue. Ah tidak ini bukan kesalahan, anak gue bukanlah kesalahan" ucap Alex di sisah tenaga yang ia miliki.


"Nggak akan, gue nggak akan pernah kasih adek gue sama pengkhianat kayak elu!" Emosi Brian kembali tersulut, ia kembali meraih kerah baju Alex yang sudah tak berdaya.


"Yan Bianca dan anak kami butuh gue, dia butuh ayah"


"Gue nggak sudi kasih mereka ke elu Lex, gue bisa urus mereka sendiri. Sampai kapan pun gue nggak akan pernah kasih Bianca sama lu!" ucap Brian dengan tatapan tajam yang terasa membunuh.


🍁🍁🍁


Duh pait nih... 🙄🙄