
Alex menduduk kan Bianca di sofa apartemen nya setiba mereka di sana. Pria itu menatap tajam pada Bianca yang terlihat semakin ketakutan. Posisi pria itu berlutut di hadapan Bianca dengan kedua tangan yang ia sangga kan pada sisi kiri kanan Bianca seolah mengurung gadis itu dengan kedua lengan kekar nya. Refleks Bianca memegang perutnya.
"Bang, Bian nggak akan merusak hubungan abang sama kak Salsa, Bian pastikan pernikahan abang tidak akan terganggu dengan kehadiran janin ini. Tolong jangan sakiti dia, Bian janji nggak akan bilang pada siapapun bahwa abang adalah ayah dari bayi yang Bian kandung" Ucap Bianca cepat, mata nya memancarkan permohonan.
"Jadi benar kamu hamil?" Suara lembut dengan tatapan berkabut itu membuat Bianca terkesiap, ia tak menyangka Alex akan bersikap selembut ini.
"Katakan sayang, kamu benar-benar sedang mengandung sekarang?" entah kenapa Bianca menangkap nada penuh harapan pada suara Alex, benarkah? ah sepertinya ia salah mendengar tidak mungkin Alex mengharapkan kehamilan nya.
"Iya Bian hamil" Ucap Bianca akhirnya, tidak ada gunanya untuk berbohong, meskipun awalnya Bianca ingin merahasiakan nya namun gadis itu sadar ia tak mungkin menutupi hal ini dari Alex, meski bukan terucap dari bibir nya cepat atau lambat Alex tetap akan mengetahuinya. Lagipula Alex berhak tau karena dia adalah ayah biologis dari janin yang ia kandung.
"Tapi seperti yang Bian bilang sebelumnya, abang jangan khawatir. Bian akan merawatnya sendiri. tolong jangan meminta Bian untuk menggugurkan nya. Bian pastikan bayi ini tidak akan menuntut pengakuan apapun dari abang nantinya. Bian dan bayi ini tidak akan mengganggu kebahagiaan abang dan kak Salsa" Ucap Bianca cepat.
"Siapa yang memintamu menggugurkan nya?lalu Kenapa ingin merawatnya sendiri hem? dia butuh kita berdua. Kita akan merawatnya bersama" Bianca lagi-lagi tercekat akan respon Alex yang jauh dari perkiraan nya.
"Tapi bukan nya kak Salsa sudah menerima lamaran abang, dan abang sudah menantikan nya sekian lama?" Tanya Bianca dengan sedikit ragu.
"Jangan fikirkah itu bi, itu urusan abang" Alex tersenyum dan Bianca dapat melihat setetes air mata jatuh menyusuri pipi pria itu
Alex kemudian menangkup pipi Bianca.
"Kita benar-benar akan memiliki bayi?" Katanya dengan senyum bercampur air mata, kening Bianca berkerut menatap wajah Alex. Kenapa pria ini justru terlihat bahagia dan begitu mendamba.
"Jadi sudah ada bayi kita di sini? ah aku tidak menyangka ia hadir dengan cepat" Alex mengusap perut Bian dan menatap nya dengan begitu excited.
"Hai sayang, ini papa. Kamu bisa merasakan kehadiran papa nak?" Bisik Alex dengan terus mengusap perut Bianca lalu mendaratkan kecupan di sana.
Air mata Bianca luruh tak lagi mampu ia tahan, Alex terlihat begitu menginginkan bayi ini. Sungguh pemandangan ini begitu indah dan selalu ingin Bianca saksikan setiap saat. Bianca tidak bisa menepis rasa hangat yang mengaliri hatinya.
Tapi kesadaran segera menghentak Bianca, ia tak boleh dilambungkan terlalu tinggi oleh angan-angan indah yang tak mungkin ia raih, Alex bukan miliknya.
"Abang menginginkan nya?" tanya Bianca dengan suara bergetar.
Alex menatap cepat pada Bianca, lalu tersenyum tulus.
"Tapi kita?" Bianca tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Abang akan bertanggung jawab, Abang akan menikahi mu sayang. Abang akan menghadapai Brian dan siap menerima segala konsekuensi nya." Tak ada keraguan di mata itu, namun mengingat Alex begitu mencintai Salsa membuat binar mata Bianca meredup seketika.
"Abang tidak perlu merasa bersalah dan merasa bertanggung jawab pada Bian hingga mengorbankan cinta abang pada kak Salsa. Bian nggak mau merusak hubungan abang dengan nya. Biarlah Bian sendiri yang merawat bayi ini" Ucap Bianca berusaha menahan kepedihan di hatinya.
"Tidak sayang, kita akan merawatnya bersama. Dia membutuhkan abang dan kamu sebagai orang tuanya. Jangan fikirkan apapun, kamu hanya perlu memastikan kesehatan mu dan bayi kita " Tegas Alex yang membuat Bianca dilema.
"Izinkan abang ikut memiliki nya bi, abang sangat menginginkan nya. Tolong jangan pisahkan abang darinya" Alex kembali menciumi perut Bianca yang masih rata. Pria itu mengiba melihat keraguan yang terpancar dari mata gadis itu. Alex sungguh menginginkan nya meski ia hadir bukan di waktu yang tepat serta dengan cara yang tidak benar tapi Alex tak bisa menutupi bahwa ia bahagia akan kehadiran janin itu.
Alex menatap Bianca lagi, mengusap air mata yang membanjiri wajah Bian.
"Meski ini tidak akan mudah kita akan melewatinya dengan baik, izinkan abang bertanggung jawab. Dukung abang untuk menghadapi Brian bi" ucap Alex dengan. penuh kesungguhan.
Andai saja Alex ingin menikahinya karena cinta, Bianca tidak akan ragu untuk menjawab iya tanpa berfikir. Namun kondisi saat ini begitu berbeda. Alex mencintai Salsa. Sikap nya saat ini terjadi karena ia sedang mengandung benih dari pria itu.
"Tapi Bian tidak mau menyakiti kak Salsa lebih dalam lagi bang, jangan biarkan Bianca menjadi penjahat yang merusak hubungan orang lain. Perihal bayi ini kita bisa merawatnya bersama-sama meski kita tidak menikah bang, Bian janji. Abang tak perlu mengakuinya di depan orang lain, hanya kita berdua yang tau" Bian tetap kukuh pada pendirian nya, hal itu membuat Alex menghela nafas lelah.
"Dengarkan abang Bianca Sharon! masalah Salsa abang akan mengurusnya, kamu tak perlu khawatir soal itu. Abang tidak akan membiarkan kamu menanggung ini sendirian padahal kita melakukan nya berdua, mana mungkin abang bisa melihat kamu dicerca masyarakat karena hamil tanpa seorang suami. Abang tidak mau menjadi ayah yang brengsek yang tidak mengakui anaknya sendiri di depan orang-orang. Abang sudah cukup bajingan dengan meniduri adik dari sahabat abang sendiri, dan abang tidak mau menambah deretan kebrengsekan itu dengan menjadi pengecut yang tega menutupi identitas anaknya sendiri" Alex mengusap pipi Bianca yang kembali disusuri air mata.
"Salsa pasti akan mengerti, abang dan Salsa hanya berpacaran bi, tak ada ikatan apapun yang bisa menghalangi atau memberatkan kami untuk berpisah" Alex tak pernah menyentuh Salsa terlalu jauh, ia masih menjaga gadis itu dengan baik. Entah mengapa Alex tak merasa keberatan untuk melepaskan Salsa saat ini, mungkin karena ia tak merasa harus bertanggung jawab pada gadis itu. Katakan lah ia jahat telah mengkhianati Salsa, tapi bukankah selama ini Salsa yang selalu menolak niat baiknya?.
"Sekarang ayo istirahat, besok kita harus menemui Brian. Tolong jangan menangis lagi, bayi kita akan sangat sedih jika mamanya menangis" Wajah Bianca bersemu merah, ucapan Alex membuat darahnya berdesir. Haruskah ia bersyukur atas sikap Alex? andai saja pria itu mencintainya mungkin Bianca akan merasa begitu bahagia.
'Jangan serakah bi!' Maki Bianca pada hatinya yang mulai berharap lebih.
Tanpa Bianca duga kini Alex telah menggendong tubuhnya, membawa gadis itu berjalan menuju kamar pria itu. Akhirnya setelah satu minggu menahan nya Bianca dapat kembali menyesap aroma Alex yang begitu menenangkan.
🍁🍁🍁