
Brian terpaku sambil memandangi wajah istrinya yang perlahan mulai sedikit tenang.
Bella sempat menjerit tertahan karena merasakan ngilu yang luar biasa hingga tubuh nya terasa terbelah. Ia tak menyangka bahwa bercinta itu akan sesakit ini. Rasa nyeri merayap ke segala persendian tubuhnya.
Menyadari Brian masih terdiam tak bergerak Bella membuka matanya, namun jantungnya bertalu hebat kala membayangkan bahwa ia dan Brian kini benar-benar telah menyatu.
"Bang..." Panggilan Bella menyadarkan Brian dari keterpukauan nya, ia menatap penuh cinta pada Bella yang kini merona.
"Masih sakit?" Bella menggeleng meski rasa sakit masih tersisah, namun Bella tak ingin Brian mengkhawatirkan nya lalu berhenti. Ia ingin membuat Brian mendapatkan apa yang ia mau dari dirinya, karena dia berhak.
"Maaf aku menyakitimu" Ucap Brian lalu melu* mat bibir Bella lembut.
"Lanjutkan sayang, aku milikmu. Lakukan sesuka mu" Bisik Bella, sebuah senyum terbit di bibir Brian mendengar suara lembut istrinya.
Rasa nyeri kembali terasa kala Brian mulai memacu tubuhnya meski pria itu melakukan nya dengan perlahan. Dada Bella terasa membuncah melihat ekspresi yang Brian tunjukkan. Ia bisa merasakan pemujaan Brian atas tubuhnya melalu sentuhan tangan dan sapaan bibir pria itu.
Hujaman, sentuhan, dan sesapan Brian membuat Bella perlahan terhanyut dalam permainan yang suaminya ciptakan, rasa asing yang menciptakan gelenyar-gelenyar kenikmatan merambati setiap titik sensitif tubuhnya hingga *rangan dan de**han tak mampu Bella tahan, ia merasa tubuhnya mengawang.
Bella semakin tak mampu mengkondisikan de**han dan *rangan nya ketika Brian mempercepat ritme permainan nya. Bella merasa frustasi akan rasa ngilu namun nikmat yang menguasai tubuhnya.
"Akhh aku hampir sampai sayang" *rang Brian semakin mempercepat hujaman nya. Mata Bella terpejam, ia merengkuh tubuh Brian erat kala merasa ada ribuan bintang menari-nari di matanya seiring dengan luapan kenikmatan yang menghentak dirinya.
Bella merasa tubuhnya melayang bersamaan dengan hentakan Brian yang menghujam begitu dalam, namun ia masih bisa mendengar *rangan tertahan Brian yang terasa begitu merdu di telinga nya, Ia bahagia.
Brian memeluk tubuh istrinya erat, mengecupi wajah Bella yang masih memejam kan matanya menikmati sisah-sisah pelepasan yang menggetarkan hati dan raganya.
"Terimakasih sudah menyerahkan dirimu seutuhnya padaku, terima kasih telah memberikan harta paling berharga yang kami miliki. Terimakasih telah memilihku untuk menikmatinya dari mu" Bisik Brian dengan mata berkaca-kaca kala Bella membuka mata dan menyunggingkan senyuman paling manis padanya. Ia kembali mengecupi wajah Bella yang terpaku, gadis itu tengah berusaha mencerna ucapan Brian.
"Ja-jangan menyindirku bang, a-aku sudah tidak memilikinya. Kita tau ini bukan yang pertama untuk ku" ucap Bella, ia mulai memahami maksud ucapan Brian. Hatinya terasa ditusuk-tusuk. Mungkin Brian ingin menghiburnya namun ia merasa begitu tersakiti.
"Ini pertama kalinya untuk ku dan juga untuk mu Bella. Lihatlah kesucian mu masih terjaga" Brian menggulir tubuhnya dari atas Bella, ia dapat melihat bukti kesucian itu yang masih tersisah di bagian bawah tubuh Bella dan pada miliknya bercampur dengan ****** ***** yang Brian keluarkan, bahkan sebagian mengenai sprei.
Ia membantu Bella untuk bangun dan menyaksikan sendiri, mata Bella mengabur menyaksikan bercak darah yang tampak. Ia beralih menatap Brian yang tersenyum penuh haru padanya.
"Apa ini benar bang? ta-tapi malam itu? si brengsek itu? Oh pantas saja tadi rasa nya begitu sakit, seperti ada yang terkoyak di bawah sana, jadi aku memberikan nya padamu bang? aku menepati janjiku?" Bella terus menceracau, rasa bahagia terasa memenuhi jiwanya hingga mulutnya tak bisa berhenti berucap.
Brian memeluk istrinya erat, ia bahagia. Bukan hanya karena ia adalah pria pertama bagi Bella namun dengan begini kepercayaan diri Bella bisa kembali dan rasa trauma nya bisa menghilang. Ia tak lagi dihantui ketakutan dan terus menganggap dirinya kotor serta menjijikkan.
"Benar kan? kamu masih suci dan selalu suci di mataku sayang. Jangan bersedih lagi ya" Brian mengusap rambut Bella dengan lembut, ia membawa Bella untuk kembali berbaring, merapatkan tubuh mereka dalam rengkuhan nya.
"Tapi malam itu?" Bella tak bisa menepis rasa penasaran nya.
"Kamu pingsan kan malam itu? mungkin Doni terlalu lemah. Jadi nggak berhasil menembus kamu" Ucap Brian terkekeh.
"Aku terbangun dalam kondisi tidak memakai apapun bang, banyak bercak merah di seluruh tubuh aku. Dan... dan ada cairan putih yang sudah mengering di pangkal paha aku" Nyata sekali rasa jijik di wajah Bella saat menceritakan nya.
"Jangan diingat lagi, yang penting Doni tidak berhasil mendapatkan nya dari kamu" Bisik Brian mengusap rambut Bella untuk menenangkan nya.
"Tapi tetap saja dia sudah berhasil melihat semua bagian tubuh aku" ucap Bella sendu.
"Semua sudah terjadi sayang, lupakanlah. Setidaknya dari malam kelam itu kehormatan kamu masih terjaga dengan utuh" Brian merapatkan pelukan nya.
"Ayo tidur sebentar, kita harus menabung tenaga untuk melakukan nya lagi. Aku masih menginginkan nya, malam ini masih panjang" bisik Brian, Bella mengulum senyuman. Untung saja wajahnya kini tersembunyi pada dada bidang suaminya, jadi Brian tak akan menyadari guratan merah di wajahnya yang merasa malu.
🍁🍁🍁
"Ada apa?" Alex yang baru tertidur sebentar harus terbangun karena Bianca mengguncang tubuhnya dan memanggil-manggil namanya.
Bianca menatap malu-malu pada Alex, pria itu bisa melihat kegugupan istrinya yang terlihat ragu untuk mengeluarkan suara.
"Kenapa? Bian lapar? mau abang masakin apa?" Alex bangun dari tidurnya dan mengusap rambut Bianca.
"Bian nggak tidur?" Seingatnya tadi sebelum ia jatuh dalam lelap Bianca sudah tidur lebih dulu.
"Bian terbangun tiba-tiba. Nggak bisa tidur lagi terus keingat sesuatu, terus Bian jadi pengen" Alex terkekeh mendengar cara bicara Bianca yang begitu lucu, bahasanya tidak tertata menandakan Bianca tengah malu bercampur gugup, hal itu tampak jelas dari pendaran kemerahan di wajahnya.
"Iya sekarang bilang abang Bian pengen apa? abang masakin" Alex mengernyit saat Bianca menggeleng.
"Bi_Bian bukan pengen makan ta_tapi Bian..." Suara Bianca terputus, ia tak pernah merasa semalu ini
"Jadi Bian pengen apa?"
"Itu Bian pengen, hum nggak jadi bang. Tidur aja lagi yuk" Bianca merebahkan tubuhnya lalu menarik selimut hingga menutupi wajahnya. Namun Alex segera menarik selimut itu dan menarik pelan tubuh Bianca agar kembali bangun.
"Katakan Bian pengen apa? jangan dipendam, abang pasti turutin kok" Bisik Alex begitu lembut, rasanya selama ini ia tak pernah menolak semua keinginan istrinya, tapi kenapa Bian ragu menyampaikan apa yang dia mau malam ini.
"Bian keingat kalo malam ini malam pertama bang Brian sama Bella jadi Bian pengen juga" wajah Bian rasanya terbakar, ia merasa sangat malu. Namun ia juga tak bisa menahan keinginan nya yang begitu besar.
🍁🍁🍁
Maaf ya guys kalo kurang greget atau kurang hot 🔥🔥
Terlalu lugu aku tuh 😂😂😂
Segitu udah meres otak ampe keringatan banget. Tapi thanks ya tetap mau ngikutin ni cerita. Jangan lupa mampir ke cerita satu nya ya, diusahain buat up lagi. Makasih yang udah mampir, yang belum ayo buruan mampir n tinggalkan jejak juga di sana
😘😘😘