My Brother'S Friend Is My Partner

My Brother'S Friend Is My Partner
Chapter 36



Entah kenapa Alex begitu gelisah. Ia merasa perasaan nya begitu gusar dan tidak tenang. Ia ingin segera pulang dan bertemu Bianca namun Salsa minta dijemput dan meminta bertemu.


"Hai babe, uda lama nunggunya?" Salsa mendaratkan kecupan di pipi pria itu saat memasuki mobil Alex.


"Nggak kok baru saja" Jawab Alex memaksakan senyum nya.


"Kamu lagi ada masalah babe? kok kelihatan lemas dan nggak semangat gitu?" tatap Salsa dengan kening berkerut


"Enggak kok babe, aku cuma kecapean aja. Tadi di kantor banyak kerjaan yang bikin pusing" bohong Alex.


"Jadi kita mau ke mana? makan dulu?" Tanya Alex kemudian yang dijawab gelengan kepala oleh gadis yang sudah 2 tahun ia pacari itu.


"Kita langsung ke apartemen aku aja. Kalau mau makan tinggal pesan" Salsa memang lebih suka berduaan di apartemen, lebih bebas tak ada yang mengganggu jika ia ingin bermesraan dengan Alex. Meski nyatanya tak pernah lebih dari sekedar berpelukan dan berciuman yang sekarang pun sudah jarang mereka lakukan. Alex selalu menghindarinya akhir-akhir ini tiap kali ia berusaha menggoda pria itu.


"Kenapa nggak makan di luar aja babe, makan di tempat lebih enak" Ucap Alex, hatinya selalu menolak untuk berduaan dengan Salsa karena wajah Bianca akan selalu hadir memecah konsentrasinya.


"Nggak mau ah, di apartemen aja babe. Aku capek pengen tiduran" tolak Salsa lagi.


Mau tidak mau Alex menuruti kekasihnya, ia melajukan mobilnya ke arah apartemen Salsa.


Setibanya di apartemen Salsa yang terlihat rapi dan nyaman meski tidak terlalu luas Alex mendudukkan diri di sofa. Sementara Salsa langsung ke kamar untuk berganti pakaian dan juga mengambilkan minuman untuk Alex.


Tidak begitu lama menunggu Salsa keluar dari kamar dan menemui Alex dengan orang juice di tangan nya, gadis itu tampak memukau dengan kaos over size abu-abunya yang dipadukan dengan hot pant hitam. Leher jenjang nya terekspose sempurna dengan gaya rambut yang ia ikat model messy bun.


"Minum babe" Salsa mendudukkan tubuhnya di samping Alex dan melingkarkan tangan nya di lengan pria itu. Hati Alex tidak nyaman dan merasa risih tiap kali posisi mereka begitu dekat seperti ini. Bianca benar-benar memberikan pengaruh yang besar pada perasaan nya saat ini.


"Babe aku langsung pulang aja ya, tadi kamu bilang capek mau tidur" Ucap Alex setelah menyesap habis minuman yang Salsa hidangkan.


"Kok buru-buru, aku mau bicara serius sama kamu yang" Tanpa Alex duga Salsa kini beralih naik ke pangkuan pria itu.


"Babe jangan begini, duduk saja di sini ya" Alex menepuk sofa di samping nya.


"Kenapa? takut tergoda? lakukan kalau memang sudah tidak tahan babe. Aku tidak keberatan" Salsa tersenyum nakal, bermaksud menggoda kekasih nya.


Tidak, Alex tidak tergoda sama sekali. Bayangan Bianca malah berkelebat di benaknya dan ia tiba-tiba sangat merindukan gadis itu. Ia mulai merasakan hal yang tidak beres pada hatinya.


"Kamu mau ngomong apa?" Tanya Alex pasrah saat Salsa masih tetap berada di pangkuan nya meski ia berusaha menurunkan gadis itu.


"Babe, seperti yang sering kamu minta selama ini. Maaf ya aku baru bisa mengabulkan nya sekarang. Setelah berfikir cukup lama aku memutuskan untuk menerima lamaran kamu. Bulan depan kamu boleh menemui orang tuaku" ucap Salsa. Alex tercekat menatap Salsa mulutnya terkunci hingga tak mampu mengucapkan apapun.


"Aku serius babe nggak main" ucap Salsa dengan senyum nya, ia mengira Alex terlalu senang hingga tak bisa berucap apapun.


Oh tidak, ini benar-benar salah. Alex tak merasakan kebahagiaan seperti seharusnya, ia malah merasa risau.


Jawaban yang ia nanti-nantikan selama ini telah ia dapatkan, bukan kah seharusnya ia bahagia? mungkin jika Salsa mengatakan ini 2 bulan yang lalu sebelum ia merasakan sentuhan pada Bianca ia akan merasa menjadi pria yang paling bahagia. Tapi sekarang? ia malah seolah tak mengharapkan jawaban ini lagi.


"Ah bukan itu, aku hanya kaget" Alex tersenyum dengan senyuman yang begitu dipaksakan.


Ini rasanya benar-benar gila, ia merasa kacau dan tak bisa mengatakan apapun. Raut kecewa Bianca tiba-tiba melintas di otak nya, apakah sekarang dunianya sudah beralih pada gadis kecil itu?


"Babe kamu kok malah ngelamun? jadi kapan kamu akan menemui orang tuaku?" Salsa mengalungkan tangan nya di leher Alex dan menatap nya dengan mesra.


"Nanti, setelah pekerjaan ku tidak terlalu banyak. Sekarang aku lagi sibuk-sibuknya" ucap Alex masih berusaha menekan perasaan resah nya.


"Baiklah, jangan lama-lama. Aku sudah tidak sabar untuk menjadi istrimu"


Ah Salsa, kenapa baru sekarang? di saat Alex tak yakin dengan perasaan nya Salsa malah menerima lamaran nya, kenapa setelah ia dan Bianca terjebak terlalu dalam pada hubungan rumit ini Salsa malah menambah kerumitan ini.


🍁🍁🍁


Alex merasa begitu frustasi, ia kebingungan menentukan langkahnya saat ini. Terlalu sibuk dengan fikiran nya hingga tak sadar ia kini telah berada di halaman rumah Bianca.


Ia segera masuk berharap dapat melihat wajah Bian, meski kemungkinan nya sangat kecil mengingat gadis itu tengah menghindari dirinya, Bianca sudah berada di kamarnya tiap kali ia pulang.


"Baru pulang lu Lex" tanya Brian yang juga tampak kusut sedang duduk merenung di ruang keluarga.


"Iya" Alex merebahkan diri di samping Brian. Ia meremas rambutnya frustasi sambil sedikit mengeram membuat Brian menoleh.


"Lu kenapa?" Brian tak tahan untuk tidak bertanya meski ia sendiri tengah gundah.


"Gue bingung" Alex kembali menghela nafasnya dan menghembuskan nya dengan kasar.


"Kenapa?


"Salsa nerima lamaran gue" Ucapnya lesu.


"Salsa nerima lamaran lu?" Ulang Brian setengah berteriak.


"Eh biasa aja nggak usah pake acara teriak." Alex menoleh ke sekeliling takut Bianca mendengar ucapan pria itu. Ia sedikit lega tak melihat siapapun, padahal tanpa ia sadari sosok Bianca tengah memegangi dadanya menahan sesak atas informasi yang baru di dengarnya, ia diam-diam segera pergi ke kamar nya agar Briand Alex tak menyadari keberadaan nya.


Sebelumnya saat mendengar suara mobil Alex entah mengapa Bianca begitu ingin melihat wajah pria itu, ia sudah tak bisa menahan rasa rindu di hatinya. Saat diam-diam mencuri pandang wajah ayah dari janin yang ia kandung, dirinya malah mendapatkan informasi yang menghancurkan hatinya.


"Salsa menerima lamaran Alex? jadi mereka akan menikah?" lirih Bianca, air matanya tak bisa ia tahan, meski ia sudah mempersiapkan hatinya karena cepat atau lambat ini pasti akan terjadi namun ia tak pernah menyangka bahwa hatinya tetap merasa sesakit ini.


"Nggak apa-apa ya nak, ada mama. Jangan sedih kita akan bahagia meski hanya berdua saja" Bianca mengusap perutnya dengan begitu lembut.


🍁🍁🍁