
"Kenapa diam Bella?" Brian kembali bersuara yang membuat Bella mau tidak mau menoleh pada Brian, gadis itu tersenyum tipis.
Sebelum Bella sempat menjawab pelayan telah datang membawa pesanan mereka hingga Bella mengurungkan niatnya untuk membuka suara.
"Makan saja dulu ya, aku lapar" Ucap Brian yang diangguki oleh Bella. Keduanya kembali terdiam, Bella dan Brian mulai menikmati makan malam mereka. Makan malam pertama Bella secara normal setelah kejadian menyedihkan yang ia alami.
"Bian masih bulan madu ya bang?" Tanya Bella di sela kunyahan nya.
"Iya baru berangkat 2 hari yang lalu. Si Alex selalu kirim foto mereka. Pamer terus dia" Brian menjawab pertanyaan Bella dengan antusias disertai dengan senyum di bibirnya. Ini kali pertama Brian berbicara cukup panjang tanpa nada kesal padanya. Gadis itu tersenyum getir, takdir seolah tengah mempermainkan nya. Di saat Bella ingin berusaha melupakan Brian, sikap pria itu malah membuat Bella gamang.
"Kapan mereka pulang?" Jujur Bella merasa rindu pada sahabat nya itu. Meski mungkin kebersamaan mereka tidak akan bisa seintens dulu mengingat status Bianca yang sudah menjadi istri.
"Alex bilang cuma satu minggu, Karena dapat jatah cutinya cuma segitu" Jawab Brian setelah menyeruput lemon tea miliknya.
"Bian jadi cuti kuliah?"
"Nggak tau, belum cerita dia" Brian memasukan irisan daging terakhir ke mulutnya. Bella merasa nyaman dengan obrolan santai ini, sesuatu yang ia idam-idamkan dulu. Mungkin Tuhan tak ingin ia serakah karena itu kesempatan ini baru datang sekarang.
Tanpa Bella sadari Brian memandangi dirinya yang masih berkutat dengan makan malam nya. Makan malam yang Bella rasa begitu nikmat, karena keberadaan Brian dengan segala sikap manis nya? entahlah.
Bella tertegun kala Brian tiba-tiba mencondongkan tubuh ke arah nya, nafas hangat pria itu berhembus ke wajahnya.
"Belepotan Bell" Bisik pria itu sambil mengusap sudut bibir Bella yang kotor dengan ibu jarinya
"Makasih bang" Ucap Bella dengan wajah merona, Brian mengangguk dengan sudut bibir terangkat. Pria itu kembali pada posisi duduknya semula.
"Jadi kenapa kamu nggak balas chat aku Bell, kamu juga uda nggak pernah ngechat aku lagi. Padahal biasanya setiap jam selalu saja ada chat yang masuk dari kamu" Brian kembali pada pembahasan awal mereka setelah Bella telah selesai dengan santap malam nya. Bella kembali merenung dengan hati yang mendadak kacau jika boleh memilih Bella ingin menghilangkan dirinya sekarang juga agar tak perlu menjawab pertanyaan pria itu. Bella memberanikan diri menatap pada Brian dan mengulas senyum terpaksa.
"Aku belajar untuk menjauh, kayak nya abang terlalu sulit untuk aku taklukan. Jadi aku cukup tau diri lah" Ucapnya berusaha terlihat santai, ia mengalihkan pandangan nya ke sembarang arah.
"Kamu nyerah?" Tanya Brian dengan senyum sinis nya.
"Seminggu yang lalu kamu bilang menyerahnya belum dalam waktu dekat, kamu masih memberiku waktu untuk berfikir" Brian menatap tajam pada Bella yang lagi-lagi mengalihkan arah tatapan nya.
"Aku ngerasa capek aja bang, siapa yang menjamin usahaku akan menuai hasil yang sesuai harapan? kalo hasilnya tetap sama gimana? Terus aku harus menyembuhkan diri dengan cara apa sementara aku uda kehabisan tenaga karena mengejar abang. Jadi aku memutuskan untuk berhenti sekarang, memakai sisah tenaga ku untuk membalut luka aku. Kayaknya nggak ada bedanya aku nyerah sekarang atau nanti, hasilnya akan sama saja" Bella tersenyum pahit sementara Brian tampak termenung. Ia berusaha mencerna dan menerjemahkan setiap kata yang Bella ucapkan.
Pria itu kebingungan untuk menjawab ucapan gadis itu, ia merasa bimbang pada dua pilihan, antara membiarkan Bella menyerah atau tetap meminta gadis itu berjuang sedikit lagi.
Tapi Brian belum yakin dengan perasaan nya sendiri, ia takut menyakiti Bella jika pada akhirnya hatinya tak bisa terbuka untuk gadis itu. Itu sama saja memberikan harapan palsu. Ia tidak mau masuk dalam kategori laki-laki tukang ghosting seperti istilah anak muda zaman sekarang.
"Ya udah kalo gitu. Aku cuma ingin memastikan nya. Supaya aku bisa lebih tenang jika ingin dekat dengan gadis lain kalo urusan kita benar-benar kelar" Ucap pria itu sambil tertawa.
Bianca tersenyum pahit, tidak taukah pria ini bahwa ucapan santainya seolah garam yang ditaburkan pada lukanya yang masih menganga, begitu perih dan terasa semakin sakit!.
"Iya bang, sukses ya semoga dapat cewek yang sesuai sama tipe abang. Aku pamit pulang uda malam. Makasih loh ya traktiran nya" Ucap Bella setelah berhasil menguasai perasaan nya.
"Mau aku antar?" Tawar Brian setelah sebelumnya sempat tertegun atas ucapan yang keluar dari bibirnya. Ia tidak tau mengapa ia mengatakan hal itu, padahal ia sama sekali tak ada niat untuk mendekati gadis lain sekarang. Ah ego dan gengsinya lagi-lagi berulah!
"Nggak usah bang, aku bawa motor kok" Bella beranjak dari tempat duduk nya lalu segera berlalu tanpa mengucap apapun lagi.
Setelah keluar dari kafe tempat pertemuan nya dengan Brian air mata Bella luruh tanpa mampu ia tahan lagi. Kata-kata Brian begitu menusuk hatinya, ia tak rela namun ia tak berdaya. Andai saja ia bisa, Bella tak akan pernah merelakan Brian mendekati atau didekati gadis manapun, ia akan memperjuangkan Brian hingga pria itu tak memiliki pilihan lain selain menetap di sisinya. Tapi sekarang? ia tak memiliki kekuatan itu. Langkahnya sudah dibatasi peristiwa kelam akibat pria keparat kekasih mama nya.
Bella segera menaiki motornya yang terparkir di depan mini market, ia harus segera pergi sebelum Brian memergoki dirinya yang tengah menangis. Ia tak mau Brian tau bahwa ia merasa sangat terluka akibat berakhirnya kisah yang tak pernah mereka mulai.
Sementara Brian masih dengan posisinya, diam termangu berusaha memahami perasaan nya kini. Ia tak mengerti apa yang ia rasakan, ada semacam rasa tak nyaman dan ketidak relaan.
Namun untuk menafsirkan bahwa ia merasa kehilangan terlebih untuk mengartikan bahwa ia mulai mencintai Bella juga masih begitu ia ragukan. Brian belum berani untuk menyimpulkan bahwa perasaan nya pada Bella sudah sejauh itu, mungkin sebaiknya ia jalani dulu apa adanya sampai ia menemukan kejelasan yang benar-benar ia yakini.
'Semoga saat mendapatkan kebenaran tentang apa yang aku rasakan, aku belum terlambat untuk bertindak' harap Bian, pria itu menghembuskan nafas perlahan sebelum kemudian memanggil pelayan untuk membayar makanan nya.
Dengan langkah gontai Brian membawa tubuhnya menuju mobil yang juga terparkir di depan mini market. Meski keputusan telah ia dapat namun otaknya masih belum ingin berhenti berfikir. Pria itu menghela nafas berat untuk ke sekian kali, ia tak suka berurusan dengan perasaan. Terasa begitu rumit dan merepotkan!