
"Gue mesti gimana supaya lu percaya sama perasaan gue Yan, nyatanya memang semua perasaan gue uda beralih ke Bian. Atau sebenar nya memang sejak awal perasaan gue emang uda tertuju ke dia, guenya aja yang nggak peka. 7 tahun gue dan Bian sudah terbiasa dengan keberadaan satu sama lain, tapi gue terlalu payah mengartikan perasaan gue sendiri, gue mengira rasa sayang gue ke Bian selama ini wujud sayang nya seorang kakak ke adiknya tapi semakin gue selami semakin gue sadar kalo sebenar nya perasaan itu berbeda. Lu tau gue Yan, gue nggak akan nidurin cewek kalo sebatas naf*u doank. Bianca adalah gadis pertama yang membuat gue lupa diri dan gue yakin ada peran cinta di dalam nya. Bahkan Salsa sekalipun gak pernah gue sentuh sejauh itu" Alex sangat berharap Brian akan memberikan kesempatan padanya.
"Masa lu nggak bisa rasain ketulusan dan kesungguhan gue Yan" Alex mulai terlihat putus asa, penjelasan panjang nya seolah tak membuat Brian bergeming dari keputusan nya.
"Gue tetap nggak bisa nerima ini Lex, gue uda terlanjur kecewa sama lu" Ucap Brian dingin membuat Alex menghela nafas kecewa.
"Gue minta maaf untuk itu Yan, gue tau apa yang gue lakuin uda nyakitin lu. Izinin gue memperbaiki semuanya, gue janji akan membahagiakan Bianca." Mohon Alex lagi.
"Gue nggak percaya lagi sama lu Lex, kepercayaan gue uda lu hancurin sehancur-hancurnya. Susah bagi gue buat kembali percaya sama lu" Sungguh Alex tak menyangka Brian memendam kekecewaan sebesar ini padanya. Namun ia tak akan menyerah, Bianca dan bayinya akan terus ia perjuangkan.
"Yan, demi Bian dan anak gue please kasih gue kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Anak gue berhak memiliki orang tua yang lengkap."
Brian tetap membeku dengan raut wajah datarnya.
"Please izinin gue ketemu Bian, gue kangen banget sama dia. Gue yakin dia dan bayi kami juga merasakan hal yang sama." Mohon Alex begitu mengiba.
"Sorry, gue nggak bisa Lex. Sebaiknya lu pergi dari sini sebelum gue kembali emosi dan menghajar lu" Brian berbalik dan menutup pintu tanpa peduli pada Alex yang terlihat frustasi.
🍁🍁🍁
Bianca menoleh ke arah jendela saat mendengar suara ketukan di sana, awalnya ia merasa sedikit ketakutan. Namun rasa takut itu hilang seketika saat mendengar panggilan lirih dari suara yang amat ia kenali.
Ia segera menuju jendela dan membuka gorden, benar saja tampak sosok Alex di luar sana. Ia dengan cepat membuka jendela nya
"Abang...." Air matanya seketika berjatuhan melihat pria yang ia cintai ada di hadapan nya dengan penampilan yang begitu menyedihkan.
Tanpa menjawab Alex langsung memanjat lewat jendela yang tidak terlalu besar itu dengan bersusah payah. Rasa sakit akibat luka di tubuhnya tak lagi ia pedulikan, ia hanya ingin segera memeluk Bianca.
Saat sudah berhasil memasuki kamar gadis itu ia segera menarik tubuh Bianca dan memeluknya dengan begitu erat, tanpa terasa air matanya menetes. Tak jauh berbeda dengan Alex, Bianca membalas pelukan Alex dengan tak kalah erat, ia menyesap aroma tubuh Alex dengan sebanyak-banyak nya seolah setelah ini ia tak akan bisa lagi melakukan nya.
"Bian kangen abang" ucap gadis itu sambil tersedu
"Abang juga kangen Bian"
Balas Alex sambil menciumi puncak kepala Bianca.
"Abang kenapa uda pulang dari rumah sakit? abang masih babak belur gini" Ucap Bianca masih tersedu.
"Abang uda nggak sabar pengen ketemu Bian dan bayi kita, kalo terus-terusan di sana abang bukan nya sembuh malah makin sakit" Ucap pria itu.
Keduanya masih terus berpelukan untuk menyalurkan kerinduan yang terasa menyesakkan. Mereka sama-sama enggan untuk melepaskan pelukan mereka lebih dulu.
"Pintunya uda dikunci Bi?" Alex menatap pada pintu kamar Bianca, takut jika sewaktu-waktu Brian akan masuk dan memergoki dirinya yang diam-diam menyelinap ke kamar Bianca. Setelah Brian menolak nya Alex nekat memilih jalan ini, diam-diam menyelinap ke kamar Bianca demi bertemu gadis itu.
"Uda kok bang, tenang aja" Bianca mengusap air matanya yang masih setia menyusuri pipinya, Alex merasa begitu iba melihat nya, ia menangkup pipi gadis itu dan mendaratkan kecupan di bibir nya. Hanya kecupan singkat mengingat masih terdapat luka di bibir pria itu.
"Jangan menangis lagi, abang uda ada di sini" Bisik Alex sembari menghapus air mata Bianca.
"Abang juga menangis" Ucap Bianca mengerucutkan bibirnya. Alex segera mengusap sisah air mata di matanya sambil terkekeh.
"Iya abang terlalu merindukan mu sayang"* Alex kembali memeluk Bianca lalu sesaat kemudian menuntun gadis itu menuju ranjang.
"Ngobrolnya sambil rebahan ya Bi, abang capek" ucap pria itu, Bianca mengangguk.
Keduanya merebahkan tubuh di ranjang dengan Alex yang memeluk Bianca erat.
"Bian nggak bisa tidur nyenyak kalo ngga di peluk abang, seharian ini juga Bian cuma di kamar. Bawaan nya pengen nangis aja, Bian juga lemas, nggak ada yang bisa Bian makan. Bian cuma bisa minum susu" Adu Bianca mengeluhkan semua yang ia rasakan sedikit mengurangi beban di hatinya. Hati Alex teriris mendengar pengaduan dari gadis kecilnya itu.
"Bian mau makan apa sekarang? kita pesan ya?" Namun Bianca segera menggeleng, ia tak mau mengambil resiko ketauan Brian saat makanan yang ia pesan datang nanti.
"Bian cuma mau kayak gini aja, dipeluk abang" Ucapnya manja. Alex mengusap rambut Bianca dengan penuh kasih sayang.
"Kamu belum ketemu Brian lagi?" Tanya Alex kemudian, dan Bianca menggeleng.
"Bian masih kecewa sama bang Brian" Ucapnya lirih, Brian memberikan pilihan yang begitu sulit padanya. Ia tak akan pernah bisa memilih satu diantara keduanya. Alex dan Brian sama-sama penting baginya, jika saja tidak ada bayi yang tumbuh di rahimnya kini mungkin Bianca akan memilih menikam hatinya untuk membunuh perasaan cintanya pada Alex. Namun sekarang kondisinya benar-benar berbeda.
"Tadi abang uda coba bicara sama Brian, tapi keputusan nya tetap sama"
Bianca begitu sedih mendengar nya. Ia semakin kecewa pada Brian yang hanya melihat pada titik kesalahan Alex tanpa melihat usaha nya untuk bertanggung jawab.
"Bang Brian tu kenapa keras kepala banget" Keluhnya dengan suara menahan tangis.
"Ssst jangan difikirin ya, abang janji semua pasti akan baik-baik saja. Bian tunggu aja, abang akan terus berusaha meluluhkan hati Brian. Abang mengerti apa yang Brian rasakan, karena itu kita tidak bisa terlalu memaksanya. Tapi abang nggak akan nyerah untuk meluluhkan hatinya" Yah satu-satunya yang bisa mereka lakukan sekarang adalah bersabar menunggu luka di hati Brian sedikit mengering.
"Kalau bang Brian masih nggak kasih izin gimana?"
"Kita kabur" Ucap Alex sambil terkekeh.
"Emang ada yang lucu?" Cebik Bianca yang membuat Alex semakin tertawa.
🍁🍁🍁🍁