
Mama Rani dengan lembut meraih dagu Bianca agar menatap padanya, karena sejak tadi Bianca hanya menunduk tak berani menatap pada wajah wanita itu.
"Mama boleh nanya sesuatu?" tak ada kemarahan pada nada bicaranya membuat Bianca sedikit memiliki keberanian untuk menatap pada wanita cantik yang telah melahirkan pria yang amat ia cintai itu.
"Kamu beneran sedang mengandung?" tanya mama Rani dengan begitu lembut.
"Iya ma" lirih Bianca.
"Apa Alex memaksa kamu melakukan itu? jujur pada mama jangan takut" ucap wanita itu lagi. Bianca terdiam sejenak, mungkin jika ia berkata jujur mama Rani akan ilfeel padanya bisa jadi ia akan menganggap Bianca wanita murahan yang tak bisa menjaga harga dirinya. Dan lebih buruk lagi ia tak akan mengizinkan Alex menikahinya. Tapi jika ia berbohong bukan kah dirinya akan menjadi jauh lebih buruk lagi?
"Enggak ma, Bian sama abang melakukan nya atas dasar suka sama suka. Maafkan Bian ma" Bianca menundukkan wajahnya, air mata tak bisa ia bendung, tak sanggup jika harus melihat kekecewaan di mata wanita baik ini.
Terdengar mama Rani menghela nafas berat lalu ia kembali meraih wajah Bianca. Ia dengan lembut menghapus air mata di pipi gadis itu, mama Rani benar-benar sosok wanita anggun nan keibuan. Senyum menenangkan tersungging di sana.
"Kalian memang bersalah, mama tak menampik bahwa mama kecewa pada kalian. Tapi semua sudah terjadi dan tak bisa diubah. jadi bertanggung jawablah, perbaiki semua nya dengan merawat nya dengan baik" Ucap mama Rani sambil mengusap perut Bianca. Air mata kembali menyusuri pipi Bianca, ia merasa begitu terharu pada sikap bijak mama Rani yang tak menghakimi.
"Mama nggak benci Bian?" Tanya nya dengan sendu.
"Kecewa iya, tapi mama sama sekali tidak membenci kamu dan Alex. Mama sangat menyayangimu selama ini, apalagi sekarang tak ada alasan bagi mama untuk membenci wanita yang sedang mengandung cucu mama" Ucap mama Rani. Refleks Bianca memeluk wanita itu dengan erat, ia tak menyangka akan menerima semua ini setelah apa yang ia lakukan.
"Ma, apa yang akan papa lakukan pada bang Alex?" Tanya Bian setelah tangis haru nya mereda. Ia mengusap air mata di wajah nya.
"Papa pasti sedang memberinya pelajaran"
"Dipukul?" Suara Bian kembali bergetar menahan tangisan nya, ia begitu sensitif jika Alex disakiti.
"Iya itu sudah pasti" Tentu saja ucapan mama Rani begitu menikam hatinya. Kesalahan itu mereka lakukan berdua tapi kenapa Alex yang harus selalu menanggung semuanya.
"Hei kenapa menangis sayang?" Tanya mama Rani lembut kala melihat Bianca sudah menangis tersedu.
"Kasihan bang Alex, kemaren dipukuli bang Brian dan sekarang dipukuli papa" ucapnya terbata.
"Dia memang pantas mendapatkan nya Bi, harusnya dia bisa menahan diri. Dia itu sudah dewasa mestinya bisa membedakan yang baik dan buruk. Bukan hanya menuruti nafs*" Mama Rani terlihat geram.
"Tapi Bian juga salah"
mama Rani tak tega melihat Bianca begitu bersedih. Ia menarik Bian ke dalam pelukan nya, mengusap punggung nya dengan penuh kasih sayang.
"Tidak apa-apa. Alex itu laki-laki, sudah seharusnya menanggung semuanya. Jangan cuma mau enak nya saja." Jauh di dalam hatinya mama Rani juga tak tega jika sang putra dihajar oleh papa nya, tapi ia tak bisa apa-apa karena bagaimana pun putra satu-satunya itu telah melakukan kesalahan yang fatal.
Kedua wanita itu menoleh ke arah pintu yang terbuka. Menampakkan sosok Alex yang tersenyum lebar ke arah keduanya.
Tangis Bianca kembali pecah kala melihat pipi Alex yang memerah, masih tampak 5 jari di sana. Belum lagi sudut bibir pria itu tampak berdarah.
"Hei sayang kenapa menangis" Alex segera menghampiri Bianca dan menangkup pipi gadis itu.
"A-abang dipukuli sama papa?" Tanya nya dengan sorot mata khawatir.
"Cuma ditampar Bi" Alex terkekeh namun tangis Bianca semakin banyak.
Alex menatap Bianca dan mengusap air mata di wajah Bianca.
"Nggak apa-apa sayang, tidak ada yang gratis di dunia ini. Asalkan abang bisa bersama Bian dan adek bayi, abang nggak apa-apa dipukuli"
"Tapi abang kesakitan" lirih Bianca masih terdengar isakan-isakan kecil dari gadis itu.
"Sakitnya nggak seberapa dibandingkan sama kebahagiaan yang abang dapat karena bisa bisa memiliki Bian dan adek bayi" Alex membenamkan Bianca ke dalam pelukan nya. Semua yang terjadi tak lepas dari pengamatan mama Rani, wanita itu merasa lega. Dari cara Alex memperlakukan Bianca tampak jelas sang putra begitu menyayangi gadis itu.
"Iya Bian, Alex memang pantas mendapatkan nya. Siapa suruh seenak nya menghamili anak orang. Seharusnya dia mendapatkan siksaan lebih dari ini" Mama Rani ikut mengusap punggung Bianca yang masih meringkuk dalam pelukan Alex.
"Mama tega banget sama Alex" Ucap Alex dengan sedikit manja.
"Biarin, kasihan Bian masih kecil malah kamu hamili" ucap mama Rani ketus.
"Uda bisa menghasilkan bayi bukan anak kecil lagi kali ma, kesan nya Alex tu pidofilia dech" Ah Alex malah diperjelas, ia tak tau diam-diam wajah Bianca sudah merona sejak tadi mendengar pembicaraan mama Rani dan dirinya, untung saja wajahnya sedang berada pada dada bidang pria itu.
"Bianca baru 20 tahun kan? masih anak-anak lah" ucap mama Rani cuek, dan Alex pasrah saja. Tak ada guna nya mendebat sang mama karena ujung-ujung nya ia akan tetap saja kalah.
"Jadi gimana apa papa merestui pernikahan kalian?" Tanya mama Rani kemudian.
"Iya ma, nggak ada alasan untuk nggak merestui" ucap Alex sembari terkekeh. Bian melepaskan diri dari pelukan Alex dan menatap pria itu.
"Beneran papa merestui kita bang?"
"Iya sayang, papa merestui kita. Kita akan segera menikah dan hidup bersama" Ucap Alex dengan bahagia.
"Jadi kapan rencana pernikahan kalian?"
"Secepat nya lah ma, paling lambat minggu depan" Ucap Alex.
"Minggu depan? apa nggak kecepatan Lex? mana sempat menyiapkan banyak hal selama satu minggu" Mama Rani tampak shock atas ucapan sang putra.
"Yang sederhana aja ma, yang penting sah aja dulu."
"Nggak bisa dong, kamu putra mama satu-satunya masa pernikahan nya sederhana" protes mama Rani, ia sudah memiliki acara pernikahan yang ia impikan sejak lama jika Alex menikah.
"Nanti sajalah untuk urusan resepsi dan segala macam nya ma, kandungan Bian sudah 8 minggu. Bian suka mual dan muntah-muntah. Bian juga nggak bisa jauh-jauh dari Alex kasihan dia kalo harus menunggu lebih lama" Alex berusaha memberikan pengertian pada sang mama.
"Ya ampun kasihan banget cantiknya mama, kamu sich pake acara ngehamilin dulu baru dinikahin. Gini kan jadinya" mama Rani menggerutu pada Alex yang menghela nafas mendengar omelan wanita tercintanya itu.
🍁🍁🍁
Semoga pernikahan Alex_Bian lancar ya...
😂😂😂
Jangan bosan sama kisah mereka ya readers 🥰😘