My Brother'S Friend Is My Partner

My Brother'S Friend Is My Partner
Chapter 55



Alex menggenggam tangan Bianca yang terlihat gugup. Ia mengajak gadis itu bertemu kedua orang tuanya yang semalam sudah tiba di rumah mereka setelah Alex mendesak mereka untuk segera pulang.


"Bang, Bian takut" cicit gadis itu. Selama ini ia sudah sering bertemu kedua orang tua Alex dan rasanya tak pernah segugup ini. Bahkan ia begitu dekat dengan mama Rani, mama nya Alex.


"Kenapa takut, Bian tau gimana mama dan papa kan? mereka menyayangi Bian kok sayang, tenang saja" Alex mengusap rambut Bianca lembut. Semakin hari ia semakin menyadari kedalaman perasaan nya pada gadis itu, bahkan kisahnya bersama Salsa yang terjalin selama 2 tahun sama sekali tak berbekas.


"Tapi kan kondisi nya beda bang" Lirih Bianca.


"Sama saja, nggak ada bedanya kok" Alex mendaratkan kecupan di pipi Bianca untuk memberikan ketenangan pada gadis itu.


"Turun sekarang ya?" Bianca hanya mengangguk pasrah, lebih cepat lebih baik. Tak perlu menunda nya lebih lama lagi.


Keduanya berjalan dengan Alex yang menggenggam erat tangan Bianca, dapat pria itu rasakan kegugupan gadis itu lewat tangan Bianca yang terasa begitu dingin.


Jantung Bianca semakin berdetak kencang kala mendapati mama Rani dan papa Johan sedang duduk berdua di ruang keluarga. Wajah wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu terlihat berbinar menyadari kedatangan Alex dan Bianca.


"Hai cantik, kemarilah. Mama kangen uda lama nggak ketemu" mama Rani begitu ramah menyambut kedatangan Bianca yang nampak sedikit kaku.


"Eh kok kelihatan gugup gini? ada apa?" ternyata wanita itu begitu peka. Ia dapat merasakan sikap Bianca yang sedikit berbeda dari biasanya.


"Eng-enggak apa-apa ma. Mama sehat?" tanya Bianca dengan terbata selepas mama Rani melepaskan pelukan nya. Sementara Alex terlihat memeluk papa Johan lalu mendekat ke arah mama Rani dan Bianca.


"Iya mama sehat sayang" ucap nya dengan senyum ramah.


"Mama kangen sama Bian aja nggak kangen sama Alex?" Ucap Alex sembari memeluk sang mama. Kini Bianca gantian menyalami papa Johan yang tak kalah gagah di usia matang nya.


"Brian nggak ikut ke sini?" Tanya papa Johan sembari mengusap rambut Bianca yang tengah mencium tangan nya, terlihat sekali kasih sayang mereka yang sudah menganggap Bian dan Brian bagian dari keluarga ini.


"Abang lagi ada kerjaan pa" jawab Bianca. Setelah itu mereka kembali duduk, Alex menuntun Bianca untuk duduk berhadapan dengan mama dan papanya.


"Kamu tu ya Lex, mama dan papa uda dari semalam pulang kamu baru ke sini nya sekarang. Padahal kamu yang maksa mama dan papa untuk cepat pulang. Lagian itu kenapa muka kamu banyak lebam nya, abis berantem?" Gerutu mama Rani.


"Biasalah ma, namanya juga cowok berantem-berantem dikit nggak apa-apa" Alex terkekeh melihat sang mama mendengus kesal.


"Semalam ada kerjaan yang nggak bisa Alex tinggalkan" menemani Bianca tentunya


"Paginya Alex langsung kerja, ini baru pulang kerja langsung ke sini." ucap Alex. Sementara sang mama mendengus mendengar alasan putra satu-satunya itu.


"Jadi kenapa maksa mama dan papa buat pulang secepatnya" Tanya papa Johan, tangan Bianca mulai berkeringat kala mendapati pembicaraan yang sudah mulai serius. Terlebih saat Alex mulai membuka suara.


"Alex mau nikah pa, ma" Ucap pria itu tanpa basa basi. Sontak saja hal itu membuat mama Rani dan papa Johan tak bisa menutupi keterkejutan nya.


Perasaan Bianca semakin tak menentu kala melihat raut wajah mama Rani yang berubah dingin.


"Sama Salsa?" Tanya mama Rani, sementara papa Johan hanya diam menyimak.


"Bukan ma" Ucap Alex seraya menatap pada Bianca yang terlihat sudah memucat.


"Alex sama Salsa sudah putus ma"


"Syukurlah, nggak tau kenapa mama kurang seru sama Salsa" Ucap mama Rani.


"Kok baru bilang nggak sreg nya sekarang? bukan nya selama ini mama cukup dekat dengan Salsa" Timpal papa Johan setengah meledek.


"Kalau sekedar buat teman dekat Alex mama nggak masalah, tapi kalo untuk istri yah lebih baik cari yang lain saja pa" elak mama Rani.


"Jadi kamu mau menikah dengan siapa?" Kini papa Johan menatap pada Alex.


"Sama Bianca pa, ma. Alex mohon restu" ucap Alex. Bianca menundukkan wajahnya takut akan reaksi kedua orang itu.


"Kamu serius? menikah sama Bianca? Bianca yang ini?" Tanya mama Rani sambil menunjuk Bianca.


"Iya ma" Jawab Alex. Kedua orang tua itu tampak menghela nafas. Suasana tampak hening sesaat.


"Jadi apa yang membuat kalian tiba-tiba memutuskan untuk menikah?" Tanya papa Johan serius.


"Karena Alex dan Bian saling menyayangi pa" jawab Alex penuh keyakinan.


"Yakin hanya itu?" papa Johan menatap Alex dengan penuh selidik.


"Juga karena cucu papa dan mama yang ada di rahim Bianca" Jawab Alex lagi, ia menatap takut pada sang papa yang tampak menggenggam tangan nya dengan erat. Wajah sang papa terlihat memerah sementara sang mama tak kalah terkejut akan apa yang Alex ucapkan. mama Rani menatap pada Bianca yang semakin menunduk dengan tubuhnya yang bergetar.


"Jadi karena ini wajah kamu babak belur? Brian yang melakukan nya" Tanya papa Johan dingin.


"I-iya pa" Jawab Alex terbata.


"Kalau papa jadi Brian papa tidak hanya akan membuat mu babak belur, papa bahkan akan langsung membunuh mu" Ucap nya dengan geram.


"Ma bawa Bianca ke kamar Alex" Mama Rani mengangguk dan segera mendekat pada Bianca, sementara gadis itu menatap takut pada Alex. Pria itu tersenyum dan mengangguk pada Bianca.


"Ayo sayang" Ucap mama Rani, meski dengan penuh ketakutan Bianca menurut. Ia mengikuti langkah mama Rani yang membawanya ke kamar Alex.


Sepeninggal dua wanita cantik itu, kini Alex harus menghadapi sang papa yang tampak dikuasai amarah. Dan sudah Alex duga sebelumnya, dua tamparan mendarat dengan keras di pipinya.


"Papa tidak pernah mendidik mu menjadi pria brengsek yang meniduri bahkan menghamili seorang gadis di luar ikatan suci pernikahan! Kamu sungguh bejat, merusak adik dari sahabat kamu sendiri yang bahkan sudah papa dan mama anggap sebagai anak kami" Nada suara papa Johan sarat akan kekecewaan.


"Maafkan Alex pa, tapi Alex mau bertanggung jawab dan akan menikahi Bian"


"Harus! kamu memang harus bertanggung jawab. Tapi apa kamu yakin pernikahan kalian akan berhasil tanpa landasan cinta di dalam nya? papa merasa kasihan pada Bianca jika kamu menikahinya hanya karena tanggung jawab semata"


"Alex cinta sama Bian pa, Alex tidak mungkin bisa menyentuhnya jika Alex tidak mencintainya. Alex mohon restui kami pa" Mohon Alex dengan tatapan mengiba.