My Brother'S Friend Is My Partner

My Brother'S Friend Is My Partner
Chapter 37



"Tadi lu bilang bingung? kenapa malah bingung? bukan nya lu uda lama emang menantikan ini?" tanya Brian.


"Iya gue bingung karena jujur sekarang gue malah ragu sama perasaan gue sendiri. Selama ini Salsa terlalu mengulur waktu, dan sekarang di saat hati gue bimbang dia malah kasih keputusan" ucap Alex yang membuat Brian merasa heran.


"Kok bisa gitu? atau lu diam-diam mulai menyukai orang lain?"


"Nggak tau, gue nggak yakin" Alex belum berani mengatakan bahwa pelan-pelan Bianca lah yang mulai mengusik hatinya hingga ia merasa hambar saat bersama dengan Salsa. Tapi ia belum berani menyimpulkan bahwa dirinya mulai mencintai gadis itu.


"Lu mesti ngeyakinin hati lu jangan sampai menyesal" Brian menepuk pundak sahabatnya itu, Alex hanya menganggukkan kepalanya. Keheningan menyapa keduanya yang sibuk dengan pemikiran nya masing-masing.


"Eh tadi kata teman-teman lu pulang duluan emang kenapa?" pertanyaan Alex membuat wajah Brian kembali muram. Ia kembali mengingat apa yang tengah menimpa adiknya. Mungkin Alex akan kecewa sama seperti dirinya. Adik yang mereka jaga malah kecolongan bahkan sampai hamil.


Brian menghela nafas nya dengan berat.


"Tadi Bella telfon ngabarin gue kalo Bian pingsan dan dibawa ke rumah sakit" lirih Brian berusaha menekan sesak yang terasa di dadanya.


"Bian sakit?" Seketika Alex dilanda kepanikan.


"Dirawat di mana? gue ke sana" sambung nya cepat. Ia meraih kunci mobil yang ia letakkan di atas meja.


"Tenang dulu Lex, Bian uda di kamar nya. Dokter uda bolehin dia pulang" ucap Brian masih dengan nada suara lemah nya. Ia terlihat begitu tertekan.


"Sakit Bian nggak serius kan Yan?" melihat wajah Brian membuat Alex dilanda kekhawatiran mengenai apa yang terjadi pada Bianca. Jika gak ada yang serius Brian tidak mungkin terlihat sekalut ini.


"Lu pasti nggak akan percaya dengan apa yang menimpa Bianca Lex" Alex menangkap kesedihan mendalam yang beriringan dengan kemarahan di mata Brian, hal itu membuat Alex semakin cemas.


"Ceritain ke gue apa yang terjadi" Sahut Alex kemudian. Ia merasa takut Bian mengalami sakit yang serius, ia amat takut membayangkan nya hingga kini ia merasa tubuhnya menjadi lemas seperti tak bertulang.


"Bian hamil Lex" Alex tersentak dengan mata membulat, namun wajahnya memucat seketika.


"Gue nggak nyangka ini bakalan menimpa Bian Lex, kita mati-matian ngejaga pergaulan dia tapi malah kecolongan. Gue kecewa sama adek gue Lex" Keluh Brian, terlihat sekali Brian tengah menahan amarah dan kekecewaannya yang begitu dalam. Sementara Alex masih mematung. Kepalanya terasa akan pecah menghadapi permasalahan ini.


"Gue mau ketemu Bian dulu" ucap pria itu lemah. Ia harus bicara empat mata dengan gadis itu.


"Tolong bujuk dia buat kasih tau siapa yang uda ngehamilin dia Lex. Bian bersikeras nggak mau kasih tau gue siapa pria brengsek itu" Hati Alex tertusuk menyadari kekecewaan dan kemarahan sahabatnya itu, entah apa yang akan terjadi andai Brian tau dialah pria brengsek yang telah menghamili adiknya. Orang yang begitu dipercayai untuk menjaga Bianca.


"Kenapa?"


"Bian bilang mau merawat anak nya sendiri, dia kira menjadi seorang ibu itu mudah, apalagi diusia nya yang masih terlalu muda. Apalagi jika tanpa didampingi suami" Brian terlihat begitu kalut.


"Gue izin bawa dia ke apartemen gue dulu Yan, gue mau ngomong sama dia" putus Alex akhirnya.


"Iya, tolong bujuk dia Lex. Dia nggak bisa egois kayak gini. Dia harus kasih tau siapa ayah bayi itu" Andai Brian tau dialah ayah dari janin yang ada di dalam kandungan Bian mungkinkah ia akan tetap mengizinkan Alex bertemu Bianca lagi?


Alex mengangguk dan melangkah cepat ke arah kamar Bianca.


"Bi buka pintunya" Ucap Alex dingin sembari mengetuk pintu kamar gadis itu, namun tak ada jawaban. Bahkan isakan tangis Bianca tak lagi terdengar.


"Buka bi, atau abang dobrak pintunya" Suara Alex masih terdengar sama, datar dan dingin.


Berhasil, Bianca membuka pintu kamarnya. Hati Alex terenyuh saat melihat wajah kuyu Bianca dengan matanya yang membengkak. Ia menahan diri untuk tidak bertindak sekarang, terlalu riskan saat ada Brian.


"Ikut abang" Ucapnya seraya meraih tangan gadis itu.


"Ke mana?" tanya Bianca lirih.


"Kita harus bicara bi, nggak bisa di sini. Abang uda izin sama Brian buat bawa kamu" tegas Alex. Namun Bianca menggeleng. Ia melepaskan tangan nya yang berada di dalam genggaman Alex.


"Bian nggak mau ke mana-mana. Bian mau di sini" Ucap gadis itu, ia berbalik akan masuk kembali ke kamar namun Alex segera meraih tangan Bian kembali.


"Abang nggak butuh persetujuan dari kamu bi, ikut secara sukarela atau abang paksa" tatapan tajam Alex membuat nyali Bianca menciut. Mau tidak mau ia menurut saat Alex menarik tangan nya.


Setiba di ruang keluarga masih ada Brian yang menatap pada mereka, Bianca begitu sedih melihat wajah kecewa kakak nya. Ia sadar telah menyakiti hati pria yang begitu menyayanginya.


"Yan gue sama Bian pergi dulu" Pamit Alex, Brian mengangguk lesu.


Sepanjang perjalanan keheningan melanda sepasang manusia yang sibuk dengan pemikiran nya masing-masing itu. Bianca menatap jalanan dari jendela mobilnya, ia sama sekali tak melihat ke arah Alex yang beberapa kali melirik kepadanya.


Bianca sibuk memikirkan apa yang akan pria ini lakukan padanya, ia mencoba menerka apakah Brian telah memberitahu Alex perihal kehamilan nya?


Bianca tiba-tiba merasa takut, ia takut Alex akan memaksanya menggugurkan kandungan nya mengingat pria itu sedang berbahagia karena Salsa menerima lamaran nya. Alex tidak mungkin membiarkan momen indah yang telah ia nantikan sekian lama ini rusak karena kehamilan nya sekarang.


"Kita mau ngapain ke sini bang" cicit Bian saat menyadari Alex membawanya ke apartemen pria itu. Ia pernah beberapa kali ke sini bersama Brian.


Alex tak menjawab, raut wajah pria itu begitu tak tertebak hingga membuat Bian semakin dilanda resah.


Bianca tersentak saat Alex membuka pintu mobil nya dan memegang tangan nya.


"Turun bi" ucapnya.


Namun Bianca tak bergeming, ia benar-benar takut Alex akan melakukan sesuatu pada janin yang sedang ia kandung kini.


Namun Bianca semakin terkejut kala Alex malah menggendong dirinya karena tak menggubris perintah pria itu.


"Bang turunin, Bian bisa jalan sendiri" Bianca panik bercampur malu jika ada yang melihat Alex menggendongnya seperti ini.


"Menurut lah bi, jangan sampai abang membungkam bibir kamu menggunakan bibir abang" ucapan Alex seketika membuat Bianca merapatkan bibirnya.


🍁🍁🍁🍁