
Oh Tuhan! Bella benar-benar berharap semoga ia sanggup melakukan nya malam ini, semoga bayangan kejadian sialan malam itu tak merusak percumbuan mereka malam ini.
"Tenanglah sayang" Bisik Brian kala melihat ketegangan di wajah Bella.
"Kita bisa menundanya sampai kamu siap. Ayo kita tidur"
"Lakukan bang, aku milikmu sepenuhnya. Ambil lah apa yang sudah menjadi hak mu" Bisik Bella dengan tatapan lekat menembus mata dan hati Brian.
Brian tersenyum tulus, ia meraih wajah Bella menariknya agar semakin dekat ke arahnya.
Perlahan Brian mempertemukan bibir nya dengan bibir Bella menciptakan denyutan asing namun melepaskan letupan-letupan bahagia di hati keduanya.
Brian menggerakkan bibirnya, memberikan lum* atan yang membuat ciuman keduanya semakin dalam, Bibir Bella sedikit terbuka kala lidah Brian mencoba mengetuk. Bella bergetar kala lidah suaminya mulai membelit miliknya.
Keduanya semakin terhanyut pada percumbuan itu, perlahan tangan Brian menurunkan tali dress Bella hingga menampakkan pundak mulus gadis itu. Brian tak bisa menahan diri untuk tak mengecup nya. Ia menyesap aroma vanilla pada kulit istrinya cukup lama, lalu perlahan kecupan nya bergerak semakin naik hingga menyusuri leher jenjang yang membuat tubuh Bella meremang.
Hembusan nafas hangat yang menerpa telinga Bella semakin membuat tubuh gadis itu bergetar, ia merasa hampir gila pada sensasi yang Brian berikan. Ini bukan percumbuan pertama mereka namun Bella merasa malam ini begitu berbeda.
Brian perlahan merebahkan tubuh Bella, ia juga semakin berani melucuti apa yang melekat pada tubuh gadis itu hingga kini tak ada lagi yang menghalangi pandangan matanya pada aset-aset berharga milik istrinya. Matanya berkabut mendapati kesempurnaan tubuh Bella yang membuat bagian tubuhnya semakin berdenyut.
"Jangan menatap ku seperti itu sayang, aku malu" Rengek Bella sambil menyilangkan kedua tangan nya di dada, ia juga merapatkan kakinya agar bagian pribadinya sedikit tersembunyi.
"Indah, sungguh Indah" Bisik Brian, wajah Bella memanas karena nya. Lalu Brian segera melepaskan apa yang melekat padanya, membuat Bella terperangah saat melihat keseluruhan tubuh suaminya.
Brian ikut merebahkan tubuhnya, memposisikan diri di atas istrinya. Memandangi wajah Bella yang terlihat semakin memerah.
"Sayang, santai saja oke? jangan gugup. Aku tidak akan menyakitimu" Bisik Brian. Ia tau trauma Bella bisa datang kapan pun karena itu ia tak mau terburu-buru. Saat mendapatkan anggukan dan senyuman dari bibir Bella, pria itu kembali membenamkan bibirnya menyusuri wajah Bella dengan kecupan-kecupan lembut yang membuat gadis itu begitu terlena dan memejamkan matanya. Tangan Brian mengusap tiap jengkal tubuh Bella. Memberikan remasan-remasan kecil di bagian-bagian sensitif istrinya. Lidah Brian pun mulai bermain dengan nakal.
Sekelebat bayangan malam itu kembali menghantui Bella, gadis itu berusaha menahan diri agar ia tak dikalahkan ketakutan itu. Ia mencengkram dengan kuat sprei di bawah tubuhnya, ia berusaha menahan diri agar tak mendorong tubuh Brian.
"Sayang buka matamu, ayo lihat aku suami mu. Aku tidak akan menyakitimu" Bisik Brian menghentikan sentuhan nya, ia mengusap peluh yang memercik di kening Bella. Perlahan mata itu terbuka, jelas sekali ketakutan terpancar di sana.
"Lihatlah aku ini suamimu, aku mencintai mu. Aku tidak akan menyakitimu sayang" Bisik Brian. Air mata meleleh menyusuri pipi Bella. Ia merasa menjadi wanita yang benar-benar payah.
"Bang, aku ini kotor, sangat menjijikkan. Bahkan aku tidak bisa melayani suamiku dengan baik" Bisik nya putus asa.
"Heii kata siapa? di mata ku kamu begitu suci. Kamu itu istriku, kekasihku. Kamu begitu berharga bagiku sayang. Kamu sama sekali tidak menjijikkan. Istriku begitu indah, lihat mataku sayang, kamu bisa melihat betapa aku memuja setiap inchi tubuhmu hum?" Bisik Brian, air mata Bella semakin menganak sungai Tuhan begitu baik memberinya pria yang begitu sabar seperti ini.
Brian menciumi tiap jengkal tubuh Bella kala sang istri mulai tenang.
"Lihat dan rasakan betapa aku memuja tubuh indah ini, aku mencintai pemilik nya bagaimana aku bisa jijik pada tubuh gadis yang begitu aku kasihi." ucap Brian di sela-sela aktivitasnya menyusuri setiap inchi tubuh Bella dengan kecupan nya.
*rangan tak bisa Bella tahan saat merasakan desiran halus yang memabukkan kala Brian menjelajahi tubuhnya dengan bibir dan lidah yang bermain dengan lincah.
"Hentikan sayang aku sudah tidak kuat rasanya ingin pipis" Bella terengah ketika merasakan lidah Brian bermain di bagian paling sensitif tubuhnya, ia merasakan sebuah gelombang seakan meluluh lantakkan dirinya. Ini pertama kali ia merasakan sesuatu yang sungguh dahsyat terasa menekan bagian perutnya hingga tubuhnya menegang dan bergetar seperti terserang aliran listrik ribuan voltase.
"A-apa yang terjadi" Ucap Bella terengah. Brian mengulum senyum, memandangi wajah istrinya yang baru saja mendapatkan pelepasan pertamanya. Ia mengusap keringat yang membanjiri wajah istrinya, sungguh ia begitu bahagia telah memberikan istrinya suguhan yang paling indah untuk pertama kalinya.
"Apa itu sudah cukup membuktikan bahwa aku sama sekali tidak jijik padamu?" Brian menatap dalam istrinya. Gadis itu mengangguk.
"Jadi apa sekarang kita bisa melanjutkan nya?" Bella mengangguk lagi meski ia tak bisa menepis bahwa ketakutan itu masih ada. Namun ia kasihan pada Brian jika harus kembali menahan, ia berjanji akan melawan ketakutan nya.
"Buka mata mu dan lihat aku tiap kali bayangan itu datang sayang" Bisik Brian. Ia mulai memposisikan diri nya untuk memasuki bagian terdalam dari Bella. Meski ini bukan pertama kali bagi gadis itu Brian tetap berhati-hati agar tak menyakiti Bella.
Brian mulai menghujamkan tubuhnya namun Bella menahan Brian, matanya sayu menatap pada sang suami.
"Jangan kecewa padaku, maafkan aku tidak bisa memberikan kesucian ku padamu" Bisik Bella.
"Aku mencintai mu, jangan pernah berfikir seperti itu"
"Lakukanlah bang" Bella kini pasrah, ia berharap jejak Doni benar-benar hilang dengan semua sentuhan lembut Brian.
Bella mengerutkan kening saat merasakan sakit di bagian intinya kala Brian mulai menghujamkan dirinya.
"Sakit" lirih Bella. Brian mengecupi wajah istrinya dan mengusap lembut rambutnya, ia kembali menekan miliknya agar masuk semakin dalam.
"Demi Tuhan ini sangat sakit bang" lirih Bella lagi membuat Brian tak tega.
"Kita lanjutkan besok saja ya?" Brian tak sanggup melihat ekspresi istrinya menahan sakit, jujur ia merasa begitu sulit memasuki Bella.
"Lanjutkan saja bang, aku bisa menahan nya" Bella menyesal terlalu berlebihan hingga membuat suaminya merasa bersalah.
"Kamu yakin?"
"Yakin sayang, jadikan aku milikmu seutuhnya" Bella menatap penuh cinta pada Brian hingga pria itu mengangguk pasti. Ia kembali berusaha menekan lebih kuat hingga akhirnya ia merasakan seperti menembus sesuatu diiringi pekikan tertahan Bella yang menutup rapat matanya. Sejenak Brian terpaku atas apa yang baru saja dialaminya.
πππ
Lega???
Jujur aku juga nggak rela kalo Sibrengsek Doni yang mendapatkan kesucian Bella. Enak saja itu kan jatahnya Brian πππ
By The Way
πBerhubung kisah Al_Bi n Double B sudah mendekati part-part akhir, Aku tu uda rilis novel baru.
πklik profil aku untuk membaca projek halu aku yang ke dua uda ada 3 chapter. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak di sana ya πππ
Judulnya "Affair dengan Tunangan sahabatku"
Ini Cuplikan kisahnya :
Apa yang kamu rasakan ketika cintamu berlabuh pada orang yang tak seharusnya?
Bukan kah sakit?
Yah begitulah yang Aleena rasakan, mencintai orang yang terlarang untuk ia cintai. Dia, pria itu Ivander Handono. Seorang pria tampan penuh kharisma. Aleena tak bisa menghentikan perasaan nya yang sudah bersemi sejak 5 tahun yang lalu, ia tak mampu memalingkan wajah nya di detik pertama pertemuan mereka. Namun sayang pria itu kini menjadi tunangan dari sahabatnya.
Mampir dulu pokoknya ya, siapa tau suka... π₯°π