My Brother'S Friend Is My Partner

My Brother'S Friend Is My Partner
Chapter 51



Hari sudah beranjak sore namun Brian masih betah pada posisinya, memandangi debur ombak yang menyapa pantai. Sejak tiba hingga 3 jam telah berlalu Brian hanya merebahkan diri di kursi pantai tanpa beranjak dari tempatnya. Tak peduli pada celotehan Bella yang berusaha mengajak nya berbicara. Brian tampak sedang memikirkan banyak hal, tentang apa yang terjadi pada adik nya dan tentang keputusan terbaik yang harus ia ambil.


Bella mengerucutkan bibirnya karena Brian tak sekalipun menimpali ucapan nya, ia bahkan sudah berulang kali asyik sendiri menyusuri pantai dan bermain air namun pria itu begitu betah pada posisinya.


"Bang uda sore, aku lapar" rengek Bella pada akhirnya. Namun Brian terlalu larut pada pemikiran nya hingga suara Bella bagaikan alunan nada yang membuat lamunan nya semakin dalam.


Bella yang sudah tidak tahan lagi akhirnya mendekat dan nekat memegang wajah pria itu. "Bang Bella lapar" ucapnya penuh penekanan.


Brian tampak kaget menyadari wajahnya yang begitu dekat dengan wajah Bella. Ia segera menjauhkan wajahnya dan memasang wajah angker nya. "Kamu apa-apaan"


"Abang yang apa-apaan. Berjam-jam abang asyik sendiri. Abang sama sekali nggak menganggap keberadaan aku, dari tadi aku tu dicuekin terus sama abang" ucap Bella merajuk.


"Memang nya aku harus gimana?"


"Ya ajak aku ngobrol kek, temenin main air atau apalah gitu kayak kencan pada umumnya" Gerutu gadis itu sambil memanyunkan bibirnya.


"Memang nya siapa yang bilang kita lagi kencan? aku cari tempat yang tenang karena aku butuh berfikir dengan nyaman bukan buat ajak kamu kencan" Ucap Brian sinis.


"Ih abang tu nyebelin banget tau nggak" Bella mendengus semakin sebal.


"Yuk pulang, sudah sore" Ucap Brian kala menyadari langit mulai menampakkan kilau keemasan.


"Aku lapar" Ucap Bella manja.


"Iya kita cari tempat makan dulu" putus Brian yang membuat raut kesal di wajah Bella surut berubah menjadi senyuman.


"Gitu dong, peka jadi cowok" Bella dengan cuek bergelayut di lengan Brian, tak peduli tatapan tajam pria itu.


"Lepasin tangan aku" Ucap Brian.


"Nggak mau, ini hukuman karena abang dari tadi uda cuekin aku. Padahal aku uda bela-belain bolos kuliah cuma buat nemenin abang yang lagi galau gini" Brian menghela nafas, ia terlalu lelah untuk meladeni gadis itu, jalan satu-satunya hanyalah pasrah.


"Kamu mau makan apa?"


Bella tampak berfikir setelah mendapat pertanyaan dari Brian, ia lalu menatap pada Brian dengan senyum yang ia buat semanis mungkin.


"Terserah abang saja" Lagi-lagi Brian menghela nafas lelah, ia kira Bella sudah menemukan ide mengenai apa yang ingin ia makan.


"Sea food mau?" Bella mengangguk sambil mengulum senyum dan wajah yang merona merah, ia merasa nada bicara Brian kali ini begitu lembut hingga berhasil menggetarkan hatinya. Sementara Brian mengernyitkan kening nya melihat ekspresi Bella yang terlihat malu-malu.


🍁🍁🍁


Brian menatap lesu ke arah jalanan, mereka terjebak tak bisa lewat karena di stop oleh petugas yang mengatakan bahwa beberapa meter si depan ada pohon tumbang yang menutupi ruas jalan akibat hujan yang turun dengan deras nya disertai angin kencang di wilayah itu beberapa jam yang lalu. Meski hujan sudah mulai mereda dan hanya menyisah kan gerimis, namun petugas baru saja mulai membereskan pohon untuk membuka kembali akses jalanan yang terputus.


"Ini memang lagi musim hujan bang, ya wajar lah kalo hujan" Ucap Bella.


"Maksud aku kenapa harus sekarang hujan nya. Ini sudah malam dan kita masih terjebak di sini" balas Brian dengan menatap sinis pada Bella


"Tapi aku suka" ucap Bella yang membuat Brian meremas rambutnya frustasi.


"Kamu nggak takut orang tua kamu khawatir kamu belum pulang? mungkin saja jalan itu baru akan selesai beberapa jam lagi, bisa-bisa dini hari baru bisa sampai ke rumah"


"Aku sudah ngechat mama, aku bilang nggak bisa pulang karena nemenin Bianca di rumah sakit" Jawab Bella sambil tersenyum lebar. Ini sangat menyenangkan baginya, bisa berduaan dengan Brian di dalam mobil. Gerimis di luar membuat suasana nya terasa begitu romantis.


Kondisi yang merupakan kesialan bagi orang-orang yang terjebak di sana termasuk Brian malah suatu anugerah bagi Bella.


"Putar balik cari penginapa aja yuk bang" usul Bianca yang langsung mendapat pelototan tajam dari Brian.


"Di sini dingin bang, aku juga capek pengen tiduran" ucap gadis itu lagi


"Ubah saja posisi kursinya, kamu lihat di belakang sana banyak mobil yang juga terjebak kita nggak bisa putar balik." Jawab Brian cuek.


"Terus kalo dingin solusinya apa?" Brian menatap pada Bella, ia baru sadar Bella hanya mengenakan blouse tipis lengan pendek berwarna salem yang ia padukan dengan rok hitam yang hanya sebatas lutut. Pantas saja jika gadis itu mengeluh kedinginan


"Memang di mobil kamu nggak ada pakaian ganti atau selimut?" Bella menggeleng membuat Brian kembali mengumpat dengan kesal. Terlebih saat menyadari dirinya juga tak membawa jaket karena telah mengenakan kaos lengan panjang.


"Lain kali tarok baju ganti atau selimut di mobil buat jaga-jaga. Kita nggak tau apa yang kita hadapi ke depan. Contohnya sekarang susah kan kalo nggak ada persiapan apa-apa" omel Brian. Seperti Biasa Bella malah tersenyum


"Iya lain kali aku siapin selimut, jadi nanti saat kita berdua terjebak seperti ini lagi aku nggak kedinginan" ucap Bella enteng.


"Aku pastikan kejadian sial ini hanya terjadi untuk pertama dan terakhir kalinya" ucap Brian penuh penekanan. Bella kembali tersenyum dengan tatapan yang tak lepas dari wajah pria itu, Ia selalu saja terpesona tiap kali melihat Brian kesal seperti ini, terlihat maskulin dan seksi.


"Ngapain lihat-lihat?" Brian ingin memarahi gadis itu, namun melihat tubuh Bella yang menggigil dan bibirnya yang sedikit membiru membuat Brian mengurungkan niat nya.


"Kamu beneran kedinginan?" Tanya nya dengan nada khawatir. Bella mengangguk, dan Brian dibuat kebingungan akan kondisi ini. Ia menyesal karena tak membawa jaket untuk membantu menghangatkan Bella.


Meski hatinya kesal namun Brian tak memiliki pilihan apapun. Ia segera berpindah ke jok belakang, Bella hanya terpaku tak mengerti apa yang akan Brian lakukan.


"Kemarilah, jangan bengong di situ" Ucapnya. Meski tak mengerti Bella mengikuti, ia berpindah ke kursi belakang. Tubuh Bella menegang ketika Brian tiba-tiba meraih tubuh nya dan meletakkan di pangkuan nya.


Jantung nya berdetak tak menentu kala pria itu memeluk tubuhnya dengan erat.


"Aku hanya membantu mu, tidak ada yang bisa kita lakukan selain ini. Aku hanya tidak ingin kamu mati kedinginan" Ucap Brian dengan suara seraknya. Bella dapat merasakan nafas hangat pria itu menerpa lehernya dan membuat tubuhnya meremang.


🍁🍁🍁