My Brother'S Friend Is My Partner

My Brother'S Friend Is My Partner
Chapter 42



Bianca menunggu dengan resah, takut Alex hanya memberikan harapan kosong padanya. Ia takut saat bertemu dengan Salsa Alex berubah fikiran, karena yang ia tahu Alex begitu mencintai gadis itu. Mungkin rasanya akan sangat sakit mengingat semalam dan hari ini sikap Alex memupuk harapan nya semakin tumbuh dengan subur.


Membayangkan nya mata Bianca menjadi berkabut, ia tak bisa menahan rasa sedihnya. Baru membayangkan saja sudah sesedih ini, lantas jika benar terjadi apa yang akan terjadi pada hatinya.


Bianca menghapus air matanya dengan cepat saat mendengar suara pintu yang terbuka, ia mendapati sosok Alex yang terlihat kaget melihat keberadaan nya.


"Sayang, kenapa ada di sini? abang kan uda bilang istirahat aja di kamar. Abang nggak lama kan perginya" Alex meletakkan bungkusan yang sepertinya berisi makanan ke atas meja lalu duduk di samping Bianca dan memeluk gadis itu.


"Bian bosan di kamar" ucap gadis itu.


"Kamu abis nangis? kamu kenapa? mual lagi?" Alex terlihat panik, ia menangkup pipi Bianca dan menatap dalam mata gadis itu, masih ada jejak air mata di sana.


"Enggak bang, Bian baik-baik aja" Gadis itu memaksakan senyumnya. Alex kembali memeluk Bianca kali ini begitu erat.


"Syukurlah, abang takut kamu kenapa-kenapa selama abang pergi" Alex menghela nafas lega, sementara hati Bianca masih tak menentu. Ia masih berusaha menebak keputusan Alex.


"Abang nggak apa-apa?" Bianca memberanikan diri untuk bertanya.


"Iya baik-baik aja, emang kenapa?" Alex melepaskan pelukan nya lalu menatap pada Bianca.


"Abang sama Salsa gimana?" Ada ketakutan dibalik pertanyaan nya, namun Bianca berusaha menata hati agar terlihat biasa saja.


"Urusan abang sama kak Salsa uda selesai, kamu nggak usah khawatir bi" Alex mengusap pipi Bianca ia masih menatap dalan pada Bianca.


"Abang pasti sedih ya?" Tanya Bianca hati-hati.


"Kenapa abang harus sedih? abang melepaskan nya untuk mendapatkan dua orang yang sangat berharga bagi abang" Alex terus mengusap pipi Bianca dengan lembut.


"Kak Salsa gimana? pasti sedih banget sama keputusan abang, abang menyesal kan? abang pasti sedih" Alex tersenyum lalu menciumi wajah Bianca dengan gemas.


"Calon istri abang ini suka sekali mempertanyakan hal yang sama secara berulang ya" ucapnya sembari terkekeh sementara wajah Bian telah memerah saat Alex menyebutnya sebagai calon istri


"Kalau istilah orang sekarang abang tu ibarat melepaskan kerikil untuk mendapatkan berlian, apa menurut kamu abang akan sedih atau menyesal? nggak sayang, abang sama sekali nggak menyesal ataupun sedih. Abang malah merasa bersyukur. Karena kamu abang selamat dari patah hati yang mungkin saja bisa menghancurkan hidup abang. Abang merasa beruntung karena memiliki kamu dan bayi kita" Ucap Alex tulus sembari mengusap lembut perut Bianca.


"Tuhan begitu baik pada abang bi, karena hari ini abang mendapati Salsa sedang tidur bersama pria lain, Salsa uda mengkhianati abang begitu lama. Abang merasa bersyukur Tuhan mengirimkan kamu untuk melindungi hati abang" lanjut Alex saat melihat raut kebingungan di mata Bianca, dan mendengar ceritanya Bianca tak kalah terkejut dibuatnya.


"Salsa selingkuh?" Alex mengangguk sambil tersenyum. Bianca merasa heran melihat sikap Alex yang terlihat santai seperti tak pernah terjadi sesuatu yang menyakitinya, padahal ia begitu mencintai Salsa selama ini.


"Abang benar-benar enggak sedih?"


"Tuh kan nanya lagi, kamu tuh ya bikin abang gemas. Bawaan nya pengen abang bawa ke ranjang aja" Bianca mencebik melihat Alex menyeringai.


"Kalau dibilang nggak sedih sama sekali juga bohong bi, bagaimana pun abang pernah menyayanginya cukup lama. Tapi rasa syukur abang jauh lebih besar, karena dengan ini langkah abang untuk mengakhiri hubungan kami jadi mudah. Dan juga perasaan abang sudah tersita untuk kamu dan bayi kita, jadi rasa sedih itu keberadaan nya nggak terlalu berasa." Pancaran mata Alex terlihat jujur hingga tak memberikan kesempatan bagi Bianca untuk meragu. Ia merasa lega dan bahagia sekarang.


"Jadi PR kita tinggal Brian bi" Ucap Alex, yang seketika membuat Bianca gusar.


"Bang Bian takut, Bian nggak berani ngebayangin respon nya dia kalo tahu bahwa ayah dari janin yang Bian kandung adalah abang" Bianca tampak khawatir dan panik, meski Alex merasakan hal yang sama namun dirinya tak mau menunjukkan nya pada Bianca. Ia harus menjaga kenyamanan gadis itu demi janin mereka.


"Tapi bang..."


"Makan dulu aja yuk, jangan mikir yang berat-berat. Kamu percaya aja sama abang semua akan baik-baik aja." Alex menyela ucapan Bianca mengingat ini sudah jam makan siang, tadi pagi Bianca hanya sedikit sekali memakan sarapan nya.


Alex beranjak menuju dapur untuk mengambilkan piring, lalu mengeluarkan makanan yang ia bawa. Alex dengan telaten mengeluarkan nasi dengan ayam teriyaki kesukaan Bianca dan udang saus pedas untuk dirinya.


"Abang suapi ya?" Ucap Alex dan menyendok kan makanan untuk gadis itu.


"Bang, Bian nggak suka. Baunya nggak enak" ucap Bianca sambil menutup hidung nya. Alex menatap tak percaya, selama ini menu tersebut begitu disukai Bianca, bahkan gadis itu tak pernah bosan memesan nya setiap kali mereka makan di luar.


"Ini makanan kesukaan kamu loh bi" meski begitu Alex menjauhkan nya dari Bianca.


"Iya tapi sekarang uda nggak suka, melihatnya saja Bian uda mau muntah" Ucapnya lirih.


"Boleh nggak Bian makan yang itu aja?" Bian menunjuk makanan milik Alex, lagi-lagi Alex dibuat tak percaya mengingat Bian sangat tidak suka semua jenis seafood.


"Beneran mau ini? sejak kapan suka seafood?"


"Sejak hari ini" Ucap Bianca mengulum senyum.


"Hei apa ini ulah mu sayang?" Alex mengusap perut Bianca, teman nya pernah bercerita bahwa wanita hamil sering kali berprilaku aneh, tidak hanya lebih sensitif soal perasaan mereka juga terkadang sangat berubah soal selera makan.


"Anak kita ingin menunjukkan rasa sayang pada papanya bi, makanan saja dia lebih memilih makanan kesukaan papanya" ucap Alex riang sembari menyendok kan makanan untuk Bianca. Benar saja Bianca tampak lahap menyantap makanan nya.


"Jadi menurut abang dia nggak sayang sama mama nya?" tanya Bianca dengan kening berkerut.


"Bisa jadi" Ucap Alex sambil terkekeh. Namun ia menyesal saat melihat raut wajah Bianca berubah sedih.


"Kan Bian yang mengandung nya bang, masa dia nggak sayang sama Bian"


Alex membulatkan matanya tak menyangka Bianca menganggap serius ucapan nya. Sepertinya Alex harus hati-hati dalam bersikap maupun berucap.


"Abang cuma bercanda sayang, anak kita pasti sangat menyayangi mama dan papa nya." Alex mengusap rambut Bianca dengan senyum tulus yang menenangkan gadis itu.


🍁🍁🍁


Hallo readers kesayangan akuu...🥰😘


Jangan bosan ya, kita kasih yang manis-manis dulu. Siapa tau nanti ketemu yang pait-pait saat Alex ketemu Brian.


Jangan lupa doain Alex ya gaesss...


🥰🥰😘😘