
"Kamu bahagia menikah dengan suami mu?" Bella tersenyum dan mengangguk.
"Bella sangat bahagia ma, bang Brian pria yang bertanggung jawab. Sangat mencintai dan menyayangi Bella. Bahkan bang Brian menerima Bella apa adanya meski Bella sudah ternoda karena dilecehkan Doni , walaupun pada akhirnya kita semua tau kalo Doni nggak berhasil merenggut kehormatan Bella." Elza tersenyum dan mengusap rambut Bella.
"Syukurlah, mama bahagia mendengarnya. Mama tenang menyerahkan kamu padanya." Tak Elza pungkiri sejak awal ia bisa melihat menantunya itu tipe pria yang penuh kasih sayang dan tanggung jawab.
"Tapi sampai sekarang Bella belum hamil ma" wajah Bella kini berubah sendu.
"Kamu masih muda sayang bersabarlah, mama dulu juga nunggu kehadiran kamu di rahim mama selama satu tahun. Mama yakin nanti ia akan segera hadir dalam pernikahan kalian. Uda periksa ke dokter?"
"Belum ma, bang Brian bilang nanti kalau uda satu tahun masih belum hamil juga abru kita periksa. Bang Brian nggak mau Bella terlalu stres mikirin hal ini" Ucap Bella.
"Suami kamu benar Bella, kamu harus enjoy. Jangan merasa terbebani. Nikmati saja dulu masa-masa indah pernikahan kalian." Bella mengangguk. Beruntung orang-orang terdekatnya begitu pengertian dan selalu menenangkan nya, tidak membuat Bella tertekan dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Bella bersedih dan semakin stres.
Yah mungkin ia memang harus berlapang dada, menunggu dengan sabar kehadiran buah hati dengan menikmati dan mensyukuri momen-momen kebersamaan nya dengan Brian.
🍁🍁🍁
Bianca terus berusaha menenangkan hatinya. Ia mencoba untuk berfikir jernih dan tidak termakan hasutan Salsa yang jelas sengaja ingin menghancurkan hubungan nya dengan Alex.
Tapi sebagai seorang istri yang sangat mencintai suaminya, Bianca tak bisa menepis rasa cemburu melihat foto yang dikirimkan oleh nomor yang tak dikenal.
Sebuah Foto yang menunjukkan Salsa yang tengah memeluk suaminya sambil tersenyum bahagia, Bianca tak bisa melihat ekspresi suaminya karena posisi Alex yang membelakangi kamera. dan dari baju yang Alex pakai jelas kejadian nya adalah siang ini.
Pesan yang mengiringi foto itu membuat hati Bianca seperti tertusuk "Sejauh apapun ia pergi dan tersesat, cinta selalu mampu menuntun nya menemukan jalan untuk kembali 😊"
Bianca menahan diri untuk tidak menghubungi Alex, ia tak mau emosi membuat semuanya hancur. Jika memang Alex dan Salsa masih saling mencintai dan memutuskan untuk kembali maka Bianca akan meminta Alex melepaskan nya dengan cara baik-baik.
Tapi hatinya masih meyakini bahwa ini adalah akal-akalan Salsa yang ingin memisahkan nya dengan Alex. Rasanya tidak mungkin Alex mengkhianatinya, ia bisa merasakan ketulusan Alex selama menjalani pernikahan beberapa bulan ini.
Namun meski ia meyakini Alex tak mungkin menyakitinya, air mata Bianca tetap mengalir membasahi pipinya. Ini menandakan betapa hati dan otaknya sedang bertentangan.
Detik jam berlalu terasa begitu lamban, ia benar-benar tidak sabar ingin bertemu Alex dan menanyakan semuanya. Mata Bianca terasa berat setelah banyak mengeluarkan air mata, ia merasa lelah hingga perlahan ia mulai jatuh ke dalam lelap.
Entah berapa lama Bianca tertidur saat merasakan ciuman-ciuman lembut di wajah dan mengusik mimpinya. Senyum Alex yang selalu mempesona tersuguh di hadapan nya ketika ia membuka mata pertama kali.
"Abang uda lama pulang?" Tanya nya dengan suara serak.
"Baru saja, gimana hari ini? apakah menyenangkan? pergi ke mana saja tadi sama Bella?" Alex membantu Bianca bangun dari tidurnya.
"Cuma ke kafe, langsung pulang karena uda nggak mood" ingatan Bianca kembali pada chat yang dikirimkan oleh orang yang tak dikenal. Melihat raut sedih istrinya, Alex segera memeluk Bianca dan mengusap pundaknya.
"Ceritakan ada apa?"
"Sebelum Bian cerita, Bian mau nanya abang ngerjain apa aja hari ini?" Bianca melepaskan diri dari pelukan Alex, ia menatap tajam suaminya untuk melihat perubahan raut wajah pria itu.
"Abang ketemu Salsa?" Bianca tidak melihat keterkejutan di mata pria itu, malah terlihat santai membuat hati Bianca ketar ketir. Ia takut Alex memang sudah kembali pada Salsa dan akan melepaskan dirinya.
"Nggak sengaja ketemu, waktu mau pulang tiba-tiba ada dia di depan abang."
"Beneran nggak sengaja ketemu? bukan janjian?" Tanya Bianca dengan tatapan penuh kecurigaan nya. Ia tidak ada rencana untuk menuduh Alex macam-macam. namun rasa cemburu yang memenuhi hatinya membuat semua rencana nya untuk bersikap dewasa pada Alex gagal.
"Tanya sama Brian kalo Bian nggak percaya" Alex mengusap pipi Bianca yang terlihat chubby dan menggemaskan.
Bianca meraih ponselnya dan memperlihatkan chat yang ia terima.
"Apa kalian memutuskan untuk kembali lagi? kalian berpelukan dengan begitu mesra"
Alex mengepalkan tangan nya dengan erat ketika melihat isi pesan yang Bianca tunjukkan. Ia begitu marah pada Salsa yang masih saja berulah.
"Salsa tiba-tiba memeluk abang, ternyata ini niatnya. Abang yakin Bian tau kalau Salsa sengaja ingin merusak pernikahan kita dengan cara kotor ini. Bian nggak akan terpengaruh kan dengan isi chat bohong ini? Brian juga tau kejadian ini, dia ada di sebelah abang. Kita temui Brian ya biar Bian nggak salah paham?" Alex begitu geram, ternyata Salsa belum menyerah dan masih berusaha mengusik hubungan nya dengan Bianca.
"Ayo kita ke rumah Brian sekarang" Alex menggenggam tangan Bianca erat.
"Nggak usah, Bian percaya sama abang." Alex menghela nafas lega, ia kira akan sulit membuat istrinya percaya mengingat betapa sensitifnya Bianca sejak kehamilan nya ini.
"Beneran percaya?"
Bianca mengangguk.
"Tapi Bian cemburu, Bian kesal sama dia yang seenaknya saja memeluk suami Bian"
"Maafin abang ya, harusnya abang bisa lebih tegas lagi pada Salsa. Tenang saja abang akan membuat perhitungan dengan wanita itu supaya nggak ganggu kita lagi" Salsa tak bisa didiamkan lagi, ia harus membuat wanita itu jera dan tidak pernah lagi mengganggu ia dan Bianca. Mungkin kali ini Bian masih bisa ia tenangkan dan ia bersyukur Bianca tak termakan hasutan Salsa. Namun jika dibiarkan ia takut suatu hari nanti Salsa akan semakin nekat dan menghancurkan semuanya.
"Tapi apa abang masih mencintai Salsa?"
"Sama sekali enggak, abang juga bingung kenapa dulu abang bisa bersama dengan nya selama itu." Mengingat bahwa ia pernah mencintai Salsa dan ingin menikahi nya membuat Alex bergidik, Sungguh ia sangat menyesalinya.
"Apa hari ini abang sudah mengatakan bahwa abang mencintai mu nyonya Alexander?" Lanjut Alex dengan tatapan mesranya yang berhasil membuat bunga-bunga di hati Bianca kembali bermekaran setelah sempat layu karena gangguan dari Salsa.
"Oh ya bang, Salsa beneran hamil?" Mengingat beberapa bulan yang lalu wanita itu sempat mengaku sedang mengandung anak Alex.
"Enggak kayaknya, tadi kalo nggak salah perutnya datar aja"
"Artinya waktu itu dia beneran bohong?"
"Iya sayang, kalaupun beneran hamil yang penting kan bukan abang yang menghamilinya. Uda ya berhenti membahas wanita itu, lebih baik jawab dulu pernyataan cinta dariku nyonya" Alex memeluk erat tubuh Bianca dan menciumi seluruh wajahnya hingga membuat Bianca tertawa geli.
Alex berharap istrinya akan terus seperti ini, tak mudah termakan hasutan yang akan menghancurkan pernikahan mereka.