
"Abang siapa yang nemenin di sana?" Tanya Bian dengan penuh rasa khawatir.
"Jangan khawatirkan abang sayang, kamu tenang saja ada banyak suster di sini"
"Suster nya cantik-cantik?" Wajah sendu Bian berubah menyala. Ah apakah Alex salah bicara lagi?
"Nanti abang minta dijagain sama suster yang uda tua bi, atau nggak nanti abang minta dirawat sama perawat yang cowok ajalah" 'mudah-mudahan Bianca tak membahas ini terlalu jauh' harap Alex di dalam hati. Sungguh wajah Bianca yang terlihat cemburu begitu menggemaskan dan ini membuat Alex merasakan rindu yang teramat besar.
"Beneran ya bang, ingat Bian dan bayi kita selalu nunggu abang di sini. Jangan keganjenan di sana" Bianca mengerucutkan bibirnya.
Alex lega setidaknya kesedihan Bianca teralih karena rasa cemburunya itu meski kecemburuan nya sangat tidak beralasan.
"Iya sayang, tenang aja. Abang di sini lagi berobat bukan lagi cari pacar. Uda malam kamu sekarang tidur ya?" Bujuk pria itu lembut.
"Tapi telfon nya jangan dimatiin ya bang, Bian pengen dipeluk abang" Wajah Bian kembali terlihat sedih.
"Iya nggak abang matiin, semoga abang bisa segera meluluhkan hati Brian agar kita bisa segera menikah ya bi, supaya abang bisa nemenin kamu terus" Bianca mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca. Alex merasa sedih dan sangat tidak tega melihat wanitanya seperti ini.
Inilah kenapa Alex memaksakan diri untuk segera menghubungi gadis itu meski nyeri masih terasa di sekujur tubuhnya, untung saja tidak ada yang serius akibat pukulan yang membabi buta dari sahabat nya. Hanya memar dan luka luar.
"Abang juga tidur, supaya cepat pulih dan bisa segera jemput Bian dan adek bayi" Suara Bianca yang terdengar manja membuat Alex semakin dirundung rindu yang mendalam. Sudut hatinya terasa nyeri karena tak bisa menyentuh dan memeluk Bian nya.
"Iya sayang, abang juga tidur" Alex memaksakan senyuman nya.
"Bi, pakai selimutnya yang benar supaya nggak masuk angin" Ucap Alex lagi, gadis itu mengangguk dengan mata yang sudah terpejam.
"Bi abang kangen" Namun kalimat itu hanya Alex ucapkan di dalam hati, tak ingin memancing kesedihan bagi Bianca.
🍁🍁🍁
Bella masih setia menemani Brian yang masih terlihat kalut. Berulang kali pria itu mengeram dan mengepalkan tangan nya.
Sebelumnya setelah mengantarkan Alex ke rumah sakit dan memastikan kondisinya Brian langsung pulang. Karena kekalutan yang tengah melandanya saat melihat Bella yang menunggunya membuat Brian tanpa sadar langsung memeluk erat gadis itu, ia butuh seseorang untuk menemani nya saat ini.
"Aku nggak nyangka Alex setega itu meniduri Bianca bahkan hingga hamil. Aku kira Alex akan sama seperti ku, menjaga Bianca dengan baik seperti adiknya sendiri" Brian lagi-lagi mengeluh, ia meremas rambutnya dengan frustasi.
"Dia sahabat aku Bell, tapi kenapa? Argh dia emang pantas aku hajar kan Bell?" Brian menatap Bella, ia membutuhkan jawaban gadis itu. Bella tersenyum sambil mengangguk.
"Tapi kenapa aku malah merasa bersalah karena memukulinya hingga seperti itu Bell. Aku benci perasaan ini" Gerutu Brian dengan kesal. Bella kembali tersenyum, ia memberanikan diri menggenggam tangan Brian dan menatap dalam pada mata Brian yang terlihat resah.
"Itu artinya abang masih memiliki hati, walau bagaimana pun kalian sudah bersahabat lama. Kalian sudah seperti saudara yang akan merasa ikut sakit jika salah satu dari kalian tersakiti" Ucap Bella lembut.
"Tapi kenapa dia merusak adikku Bell, apa dia tidak berfikir bahwa hal itu akan sangat menyakitiku. Atau memang dia sama sekali tak menganggap ku sahabat nya" Kilat emosi dan kekecewaan kembali menyala di mata pria itu.
"Mungkin Alex mencintai Bianca begitupun sebaliknya hingga mereka tidak bisa menahan diri dan melakukan kekhilafan itu" Entahlah Bella kesulitan menemukan kalimat yang tepat untuk menjawab ucapan Brian.
"Enggak Bell, Alex sangat mencintai Salsa bahkan Salsa sudah menerima lamaran nya. Aku nggak mau Bianca menikah dengan Alex karena dia mencintai gadis lain."
"Iya hanya sebatas tanggung jawab, bukan karena cinta." Balas Brian.
"Abang akan meniduri gadis yang tidak abang cintai?" Tanya Bella tiba-tiba yang membuat kening Brian berkerut.
"Tidak, tapi pria lain nya bisa" Jawab Brian sedikit salah tingkah.
"Apa menurut abang Alex sama seperti pria lain nya itu?"
Entahlah, Brian meragukan nya. Bagaimana pun ia sangat mengenali Alex, dia bukan tipe pria brengsek yang suka bermain wanita. 'Ah tidak-tidak, meniduri adik dari sahabat sendiri itu jauh lebih brengsek.' Ralat Brian pada anggapan yang sempat menghampiri hatinya.
"Tapi Bianca mencintai Alex bang, bahkan sudah sejak 7 tahun yang lalu" ucap Bella
Brian menatap Bella, ia terlihat kaget.
"7 tahun yang lalu?" Bella mengangguk, Brian menghela nafas berat. Sulit dipercaya ternyata selam ini Bianca diam-diam mencintai Alex.
"Jadi Alex memanfaatkan perasaan Bianca untuk mendapatkan keuntungan itu" Brian kembali tersulut amarah. Ia mengepalkan tangan nya dengan erat.
Salsa tersentak mendapat respon Brian yang diluar dugaan. Ia kira Brian akan luluh karena mendengar ceritanya, namun ternyata malah kembali menyulut emosi pria itu.
'Ah Bian maafkan aku'
"Tapi kalo emang Alex hanya memanfaatkan Bian untuk memuaskan hasratnya pasti dia akan meminta Bian untuk menggugurkan kandungan nya, apalagi kalo Alex sangat mencintai Salsa seperti yang abang bilang dia nggak akan mau menikahi Bianca. Tapi enggak kan? bahkan dia rela abang pukuli hingga babak belur" ucap Bella hati-hati.
"Kalau hanya sekedar naf*u mungkin Alex bisa menyalurkan nya pada Salsa yang jelas-jelas pacarnya, aku yakin Alex dan Bianca saling mencintai" Brian tampak berfikir berusaha mencerna ucapan Bella.
Selama ini Alex begitu posesif pada Bianca, bahkan melebihi dirinya. Terakhir Alex sangat marah saat melihat Bianca dipeluk Andre, apa itu artinya Alex mencintai Bian?
Sekeras apapun Brian memaksa otak dan hatinya untuk memaklumi dan menerima apa yang Alex lakukan namun egonya menolak, Ia merasa amat terluka. Pengkhianatan yang Alex lakukan begitu sulit untuk ia terima, mungkin jika pria lain yang melakukan nya Brian tidak akan semarah dan sekecewa ini meski tentu saja ia akan tetap memukulinya.
"Sudahlah, tenangkan diri abang dulu. Mungkin sekarang abang masih shock, belum bisa menerima masukan apapun. Abang istirahatlah dulu, ini sudah malam" Ucap Bella memecah keheningan yang sempat menyelimuti mereka.
"Kamu tidak pulang?"
"Aku pulang kok bang tenang saja" ucap Bella, meski sangat ingin tetap di sini namun untuk sekarang ia harus tau diri. Brian tidak nyaman akan keberadaan nya, perburuan cinta harus ia hentikan sejenak hingga keadaan nya memungkinkan.
"Ini sudah malam, bahaya kalau kamu pulang sendiri. Kamu menginap saja" Bella mengulum senyum, selama ini Brian selalu bersikap masam dan berucap ketus. Tapi malam ini ia menunjukkan perhatian nya.
"Abang mengkhawatirkan aku?" Tanya Bella masih mengulum senyum. Brian mendengus mendengarnya.
"Terserah, tidurlah di kamar tamu" Brian beranjak menuju kamarnya meninggalkan Bella yang tersenyum bahagia.
🍁🍁🍁🍁