My Brother'S Friend Is My Partner

My Brother'S Friend Is My Partner
Chapter 47



"Bian tidak mau memakan sarapan nya?" Tanya Brian saat melihat Bella yang baru saja keluar dari kamar Bianca dengan membawa gelas susu yang sudah kosong namun makanan nya masih bersisah bahkan mungkin hanya tersentuh sedikit.


"Dia cuma bisa minum susunya, untuk makanan baru satu suapan uda dimuntahin lagi sama Bian" Ucap Bella lalu menghampiri Brian di meja makan setelah meletakkan piring dan gelas ke westafel.


"Muntah?"


"Iya bang, wanita hamil kan memang sering mual dan muntah. Dia bilang biasanya aroma tubuh Alex bisa menyembuhkan mual yang ia rasakan." Ucap Bella, gadis itu bisa melihat ekspresi gusar di wajah Brian kala ia menyebut nama Alex.


"Bian bilang dia nggak mual waktu minum susunya mungkin karena yang beliin susunya itu Alex. Bian juga bilang sepertinya si bayi sangat menyayangi ayah nya karena kemarin juga Bian menyukai makanan milik Alex" Bella menghentikan sejenak ucapan nya untuk melihat reaksi Brian, meski raut wajah nya sedikit berubah namun Bella merasa masih cukup aman untuk membahas kembali tentang Bian dan Alex.


"Abang pasti kaget kalo tau apa yang dimakan Bian kemarin" Ucap Bella


"Bian makan apa memang nya?"


"Udang saus pedas. Abang tau sendiri kan dari dulu Bian tu paling nggak suka sama udang, karena menurutnya udang tu bentukan nya kayak ulat." Yah Brian sangat tau akan hal itu, adiknya tidak menyukai semua jenis seafood terutama udang.


"Tapi kemaren dia malah lahap banget padahal harusnya itu makanan milik Alex, sementara mencium aroma ayam teriyaki kesukaan nya dia malah muntah. Itu bukti bahwa bayi yang diperut Bian sangat menyayangi dan mengidolakan ayahnya, Abang tega misahin mereka?"


Brian menatap sebal pada Bella saat tau inti dari apa yang gadis itu ceritakan.


"Kamu pasti ngarang kan? mana ada kayak gitu. Aku tetap nggak akan izinin mereka menikah, aku bisa merawat Bianca dan anaknya sendiri tanpa Alex" Ucap Brian dengan wajah masam


"Eh nggak percaya, ibu hamil memang seperti itu. Si bayi juga bisa ngerasain apa yang tengah dialami ibunya. Mungkin yang terjadi sekarang itu kode buat abang supaya merestui hubungan mereka. Bianca itu nggak hamil aja manja banget orang nya apalagi kalo lagi hamil begini, dan abang harus paham bahwa ada hal-hal tertentu yang hanya bisa dilakukan oleh Alex sebagai ayah dari bayinya dan nggak bisa dilakuin sama abang" tegas Bella dengan sedikit berapi-api. Baru sehari dipisahkan Bianca sudah sedemikian menyedihkan dan Bella merasa sangat tidak tega.


"Tapi aku belum bisa menerima apa yang Alex lakukan. Rasanya begitu sakit dan berat banget buat maafin dia" Brian sedikit melunak namun nada bicaranya yang lirih juga membuat Bella iba. Bella paham di sudut hatinya Brian juga tak tega memisahkan Bianca dan Alex.


"Aku ngerti kok perasaan abang, memang nggak mudah dan butuh waktu. Tapi abang juga harus fikirin perasaan Bian, kasihan bayinya kalo Bian terus bersedih seperti ini. Waktu akan mengobati luka di hati abang, mungkin juga kalo abang sudah lebih tenang abang akan bisa melihat ketulusan Alex yang ingin bertanggung jawab pada Bianca. Tapi jangan lama-lama mikirnya, keburu lahir anak mereka nanti" Ah dasar Bella! Brian tak habis fikir pada gadis ini, ia bisa bersikap bijak dan menyebalkan secara bersamaan.


"Aku juga bisa bantuin untuk mengobati hati abang itu" Bella tersenyum penuh arti. Dan Brian tau maksud dari gadis itu. Namun ia pura-pura tak mengerti.


"Apa?"


"Yah abang harus membuka hati abang buat aku, biar aku bisa masuk lalu mengobatinya. Kalo pintu nya ditutup terus gimana caranya aku bisa ngobatin." Hem sudah Brian duga beginilah akhirnya


🍁🍁🍁


Alex sudah tak bisa bertahan lebih lama lagi di rumah sakit, ia memaksa pada dokter agar diizinkan pulang.


Rasa sakit di tubuhnya tak lagi ia rasakan, dikalahkan oleh rasa khawatir serta rasa rindunya pada Bianca, ia tak bisa terus berdiam diri tanpa bisa melakukan apa-apa. Ia tak mau menunggu restu Brian tanpa mengusahakan nya.


Di sinilah Alex kini, berada di depan rumah Bianca dengan harap-harap cemas. Takut Brian akan kembali menolak niatnya untuk menikahi Bianca.


Setelah meyakinkan dirinya, ia memutuskan untuk masuk ke rumah itu, dengan langkah yang sedikit tertatih karena luka ditubuhnya bahkan belum mengering dengan sempurna. Wajahnya bahkan masih membengkak dan akibat luka memar.


"Mau apa ke sini" Bentak Brian dengan tatapan yang masih menyimpan bara kala pria itu mendapati Alex saat membuka pintu rumahnya. Dulu Alex begitu bebas keluar masuk ke rumah itu bahkan menginap berbulan-bulan. Kesalahan fatal yang Alex lakukan benar-benar membentangkan jarak antara ia dan Brian, menghancurkan persahabatan yang telah terjalin selama 7 tahun.


"Yan please, kita harus bicara" Mohon Alex.


"Nggak ada lagi yang harus kita bicarain, semua uda jelas, gue tetap pada pendirian gue" Tegas Brian. Pria itu bahkan tidak mempersilahkan Alex untuk masuk.


"Tapi Bian dan anak yang ia kandung butuh gue Yan, lu nggak bisa bersikap seperti ini" Alex terus berusaha meyakinkan Brian.


"Nggak Bian nggak butuh lu, ada gue yang siap merawat dan menjaga dia"


"Bian setiap pagi mual, dia nggak bisa tidur tanpa pelukan dari gue. Lu tega misahin kita berdua?" Brian mengepalkan tangan nya lalu menatap tajam pada Alex.


"Tapi gue akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat Bianca terbiasa tanpa lu, gue nggak mau dia terus bergantung pada laki-laki yang jelas-jelas nggak mencintai dia." Alex menatap tak percaya pada Brian.


"Gue cinta sama Bian Yan sumpah gue cinta!" Alex menatap tajam pada Brian berharap sahabatnya bisa melihat kesungguhan nya.


"Gue nggak percaya, yang gue tau lu itu cinta sama Salsa bahkan baru beberapa hari lu bilang Salsa nerima lamaran lu" Alex menghela nafas frustasi.


"Lu ingat gue cerita Salsa nerima lamaran gue, tapi lu lupa sama cerita gue yang tiba-tiba merasa ragu untuk menikahi dia. Dan sekarang gue uda tau jawaban keraguan gue itu, karena hati dan perasaan gue sudah tertuju pada Bianca"


"Nggak mungkin perasaan lu ke Salsa yang hue tau begitu dalam bisa beralih secepat itu sama Bianca, gue tau perasaan lu itu hanya sebatas tanggung jawab"


Alex mengepalkan tangan nya atas sikap Brian yang keras kepala dan meragukan perasaan nya.


🍁🍁🍁


Seperti biasa 1 chapternya lagi nanti malam ya gaes...


tak bosan utk bilang thanks untuk kalian readers yang selalu mendukung ku....


Alapiyu 🥰😘