My Brother'S Friend Is My Partner

My Brother'S Friend Is My Partner
Chapter 67



"Makasih, nanti pulang nggak usah jemput. Alu pulang sendiri" ucap Bella saat mereka telah tiba di kampus gadis itu


"Pokoknya aku jemput" Kekeh Brian.


"Nggak usah bang, aku nggak mau ngerepotin abang"


"Aku nggak ngerasa direpotin" balas Brian membuat Bella menarik nafas kasar. Ia tak tau harus bagaimana bersikap pada Brian. Semua sikap yang ia tunjukkan bertentangan dengan hatinya. Ia harus terlihat cuek padahal hatinya begitu peduli. Dan rasanya itu seperti menikamkan belati pada hatinya.


"Ya sudah terserah abang, aku pamit" Bella akan mencoba membuka pintu namun sesaat kemudian Brian menarik tubuhnya hingga ia jatuh ke dalam hangatnya dada bidang Brian, pria itu memeluknya membuat jantung Bella bergetar hebat, dada Brian masih terasa begitu nyaman dan hangat.


Bella semakin tak berdaya kala Brian mengurai pelukan dan meraih wajah gadis itu dengan kedua tangan nya. Bella memejamkan matanya kala bibir Brian menyapa bibirnya, menyesap dengan lembut namun begitu hangat. Tubuh Bianca terasa membeku dengan jantung yang bertalu. Lidah Brian terus menyapa berharap Balasan dari Bella. Gadis itu sejenak lupa diri, ia melingkarkan tangan nya pada leher Brian dan membalas pagutan Brian padanya hingga ciuman mereka semakin dalam. Bella terhanyut menikmati permainan pria yang begitu ia cintai.


Sialnya bayangan malam kelam itu membuat hati Bianca serasa ditusuk-tusuk, ia tak melepaskan diri dari kungkungan Brian namun air mata nya berderai dengan begitu derasnya. Sontak Brian melepaskan pertautan bibir mereka dan menatap khawatir pada Bella yang tiba-tiba menangis.


"Kamu kenapa menangis?" Bisik Brian sembari menghapus air mata Bella. Gadis itu tergugu dengan bibirnya yang tetap terkuci. Hatinya terasa begitu sesak.


"Bella bilang aku kamu kenapa? kamu marah padaku?" Brian meraih dagu Bianca agar menatap padanya.


"Tolong jangan seperti ini lagi, tolong jangan membuat ku tenggelam pada harapan yang tak mungkin aku gapai. Bersikaplah seperti biasanya" ucap Bella sambil tersedu.


"Maaf Aku tidak bermaksud seperti itu" Brian menarik Bella ke dalam pelukan nya, membiarkan Bella menikmati tangisan itu. Ia mengusap rambut dan punggung Bella dengan lembut.


Beberapa saat kemudian setelah cukup tenang, Bella melepaskan diri dari Brian. Ia menatap sendu pada Brian yang juga sedang menatapnya.


"Kenapa harus bersikap seperti ini disaat aku telah mengambil langkah untuk mundur dari abang, ini menyakitiku kak. Tolong hentikan lah, aku lebih suka abang bersikap judes padaku" cicit gadis itu.


"Maaf Bell, aku nggak maksud kayak gitu." Ah Brian benci pada dirinya yang tak bisa tegas menafsirkan perasaan nya. Sebagian hatinya masih saja menyangkal bahwa ia sudah jatuh cinta pada Bella.


"Baiklah, aku permisi. Ini sudah waktunya masuk" ucap Bella kemudian setelah berhasil menghentikan tangisan dan memperbaiki rambut dan make up tipisnya. ia lalu beranjak keluar dari mobil pria itu. Namun Brian kembali menahan nya.


"Nanti saat pulang aku jemput kamu ya, tolong jangan menolak" ucapan penuh permohonan Brian membuat Bella tak sampai hati untuk menolak, meski sedikit ragu ia akhirnya menganggukkan kepala. Bella begitu terpukau kala melihat senyum tulus Brian atas jawaban nya.


Brian melepaskan tangan nya, Bella segera turun dan meninggalkan Brian yang menatap kepergian nya dengan hati tak menentu.


"Meski belum sepenuhnya, aku mulai mengerti perasaan ku. Ku mohon bertahanlah sedikit lagi" Gumam Brian pada bayangan Bella yang sudah tak terlihat.


🍁🍁🍁


Bella masuk ke dalam kamar dengan wajahnya yang sedikit cerah. Mendung yang selama beberapa hari ini bergelayut mulai sedikit memudar.


Tadi Brian menepati janjinya untuk menjemput Bella di kampus dan mengantarnya pulang, sebenarnya Brian ingin mengajak Bella makan siang terlebih dahulu, namun sayang ada pekerjaan mendadak yang harus ia selesaikan.


Bella tak menjawab, tak mengiyakan ataupun menolak. Brian tak perlu memintanya untuk menunggu, ia akan melakukan nya dengan senang hati andai si brengsek Doni tidak merenggut apa yang ia punya.


Namun sekarang? kondisinya begitu berbeda. Ia sungguh tak lagi percaya diri meski hanya sekedar bermimpi untuk hidup bersama dengan Brian.


Bella menatap langit-langit kamar, air matanya mengalir lagi meratapi kepedihan yang menimpanya. Sekarang ia tak bisa benar-benar merasa bahagia.


Ketukan di pintu kamar nya membuat Bella menoleh cepat ke arah pintu yang sejak kejadian Doni masuk ke kamarnya selalu ia kunci. Jantung nya berdetak cepat, tiba-tiba kejadian malam itu kembali membayangi. Tubuhnya bergetar dengan wajah yang mulai memucat.


"Bell, mama noleh masuk?" Suara sang mama yang memanggilnya membuat Bella menghela nafas lega. Perlahan kondisinya kembali normal.


Bella membuka kan pintu, Elza masuk ke dalam kamar putrinya dan duduk di ranjang Bella.


"Tumben masih siang mama uda pulang?"


"Nggak apa-apa. Kebetulan lagi nggak banyak kerjaan" Elza mengulas senyum.


"Mama ada apa?" Ia tau mama nya tak akan masuk ke kamar nya jika tidak ada tujuan apapun. Elza kembali tersenyum dan mengusap punggung tangan Bella.


"Kamu uda makan?" Tanya nya, begitu lembut dan keibuan.


"Udah tadi di kampus" Jawab Bella singkat


"Hemm Bell, om Doni ngelamar mama lagi. Mama nggak enak buat nolak untuk ke sekian kali. Please ngertiin posisi mama kali ini ya?" Bella terhenyak mendengar ucapan sang mama, tatapan penuh permohonan wanita itu membuat hati Bella begitu sakit. Mama nya begitu menginginkan untuk bersama dengan pria yang telah menghancurkan nya.


"Ma, mama akan lebih percaya sama aku atau om Doni?" Kening Elza berkerut kala Bella malah balik bertanya.


"Tentu mama akan percaya sama kamu, mama sudah hidup bersama kamu selama 20 tahun. Kamu itu putri mama, mama sudah memahami kamu luar dalam" ucapan Bella membuat hatinya menghangat, ia memiliki harapan untuk memisahkan mama nya dari pria brengsek itu.


"Ma, saat mama sedang keluar kota apa benar mama meminta om Doni ke rumah buat nemenin aku?"


"Iya, mama takut terjadi sesuatu sama kamu. Jadi mama meminta om Doni menemani kamu karena mama akan pulang malam" Bella menatap sang mama.


"Jadi mama pulang malam itu? mama nggak nginap?"


"Harusnya menginap, tapi karena kerjaan mama uda kelar mama memutuskan untuk pulang. Waktu mama pulang om Doni bilang kamu uda tidur" Bella menghela nafasnya, mempersiapkan diri untuk mengungkap kebejatan kekasih mama nya.


"Om Doni jahat ma, Om Doni malam itu melecehkan aku. Dia merkosa aku ma" Ucap Bella dengan kemarahan yang mengisi setiap sel tubuhnya. Mata Bella menatap sendu pada Elza yang begitu terkejut mendengar ucapannya. Bella dapat melihat guratan merah pada wajah sang mama.


🍁🍁🍁