
"Untung aku nggak punya mantan, jadi pernikahan kita aman dari gangguan orang-orang di masa lalu" Ucap Brian setelah selesai bercerita pada Bella tentang apa yang menimpa Alex dan Bianca.
"Kalau yang pernah abang sukai ada?" Bella melukis pola abstrak pada dada Brian dengan telunjuknya.
"Nggak pernah, waktu sekolah dan kuliah aku fokus belajar. Setelah bekerja aku fokus pada pekerjaan. Jadi tidak sempat untuk menaruh perhatian pada siapapun" Brian menangkap tangan Bella yang begitu lincah mempermainkan dadanya, hingga membangkitkan sesuatu di bawah sana.
"Jadi kalau aku nggak ngedeketin abang sampai sekarang abang tetap jomblo?"
"Iya, aku bersyukur kamu berinisiatif duluan" Brian terkekeh mengingat betapa menyebalkan nya Bella di matanya dulu. Ia sama sekali tak menyangka ia akan menaruh cinta yang teramat besar pada Bella seperti saat ini.
"Tapi abang anti banget sama aku dulu, risih banget kalo dekat aku"
"Iya tapi sekarang berpisah beberapa jam untuk bekerja aja rasanya begitu menyesakkan. Kamu pakai pelet apa sayang?" Goda Brian.
"Aku tu baru punya rencana mau nyari dukun. Eh abang uda kecantol duluan. Jadi batal deh" Keduanya terbahak atas kekonyolan mereka sendiri.
"Ngomong-ngomong kamu sendiri pernah pacaran?" Hubungan mereka sudah sejauh ini namun belum sekalipun mereka membahas tentang hal ini.
"Enggak, dulu aku tu sempat iri sama Bian yang disukai banyak cowok. Sementara aku nggak ada satupun yang melirik. Sebenarnya nggak ada yang aku sukai juga sih. Aku tu pertama kali ngerasa jatuh cinta gara-gara lihat abang lagi berenang, aku pernah ceritain ini kan? karena sikap abang dingin banget ya udah aku nekat buat deketin duluan" Brian memeluk erat istrinya sambil menahan tawa nya. Sikap Bella yang ia rasa sangat menyebalkan dulu malah begitu menggemaskan jika diingat lagi sekarang.
"Tapi seperti yang abang bilang, aku beruntung nggak pernah pacaran jadi nggak mesti ada drama para mantan dalam pernikahan kita"
Tapi Bella dan Brian sadar setiap rumah tangga punya masalahnya sendiri. Contohnya mereka meski tak direcoki kisah masa lalu namun rumah tangga mereka sedang diuji dengan belum hadirnya buah hati.
Mereka berharap bisa melewati ujian ini dengan baik, seberat apapun masalah yang mereka hadapi nanti semoga perpisahan tidak akan pernah menjadi pilihan yang mereka ambil.
🍁🍁🍁
Alex memegangi tangan Bianca, beberapa kali menciuminya dengan mata berkaca-kaca. Ia tercekat tak mampu berucap setiap kali melihat tubuh Bianca yang kesakitan kala kontraksi menyapa. Alex hanya bisa mengusap kening istrinya yang mengeluarkan banyak keringat. pria itu mati-matian mengusir semua fikiran buruk yang terasa mencekik nya.
"Sebentar lagi kita akan bertemu adek bayi, abang kenapa nggak bersemangat begitu?" Tanya Bianca saat kontraksinya mereda.
"Haruskah seperti ini sayang? Bian harus merasakan kesakitan seperti ini sementara abang nggak bisa berbuat apa-apa. Ini nggak adil sayang, Bian mengandung nya dengan susah payah dan sekarang Bian juga harus merasakan kesakitan untuk menghadirkan nya ke dunia sementara abang tidak berperan apapun"
Ia bahagia sebentar lagi buah hati yang mereka nantikan akan segera melihat dunia, namun ia tak sanggup jika harus menyakiti istrinya.
Bianca tersenyum tulus pada Alex yang tak bisa menutupi kekhawatiran nya.
"Abang selalu menemani Bian, memenuhi semua keinginan Bian itu udah lebih dari cukup bang. Mengandung dan melahirkan adalah kodrat Bian sebagai wanita. Abang sudah punya tugas yang tak kalah berat, menafkahi Bian dan anak kita nanti, selalu memastikan kebahagiaan Bian itu juga nggak mudah" Tepat setelah kalimatnya berakhir Bianca kembali meringis dengan tangan menggenggam erat tangan Alex, genggaman yang mungkin bisa meremukkan jari-jari suaminya.
Namun Alex sama sekali tak peduli akan rasa sakit pada jari-jarinya. Tak apa jika Bian ingin mematahkan nya sekaligus asalkan itu bisa membuat rasa sakit Bian sedikit berkurang.
"Berapa lama lagi istriku harus menderita seperti ini. Abang mohon Bian, kita operasi saja ya? abang nggak sanggup lihat Bian seperti ini" Bisik Alex, air mata nya menetes meski telah mati-matian ia tahan.
"Bian nggak mau bang, kondisi Bian dan bayi kita sehat dan memungkinkan untuk melahirkan norm...." Bianca tak sempat menyelesaikan kata-katanya saat sakit itu kembali datang.
"Bang mungkin sekarang saat nya, sakitnya uda semakin sering. Panggil dokter ya" Ucap Bianca lembut, ia menyisipkan senyum tulus di sana agar sang suami tak terlalu khawatir.
"Iya sayang, tunggu ya" Alex berlari memanggil dokternya. Tak sampai 5 menit Alex telah kembali lagi, sedetikpun rasanya ia tak tega meninggalkan istrinya kesakitan sendirian.
Alex ingin menghukum dirinya sendiri melihat perjuangan Bianca melahirkan bayi mereka. Saat mengingat dulu ia pernah menyakiti hati Bianca semakin membuat seluruh jiwanya kesakitan.
Air mata Alex semakin tumpah pada setiap helaan nafas Bianca yang sedang berjuang.
"Maafkan abang sayang" Bisik nya pilu.
'Selamatkan istri dan bayiku Tuhan' Alex tak henti berdoa di dalam hati. Betapa ia takut jika Tuhan mengambil Bianca dari sisinya.
Setiap detik waktu berlalu terasa panjang dan menyesakkan. Hingga pada akhirnya tangis Alex dan Bian pecah secara bersamaan kala tangisan bayi terdengar memenuhi ruangan. Alex menciumi kening dan wajah Bianca di akhir perjuangan istrinya.
"Terimakasih sayang telah berjuang melahirkan putra kita" Rasa haru dan lega melingkupi hati keduanya, buah cinta mereka telah lahir ke dunia.
🍁🍁🍁
"Cukup satu aja ya sayang" Alex memeluk tubuh Bianca dari belakang sementara Bianca tengah menyusui putra mereka selepas beberapa jam berjuang melahirkan nya.
"Kenapa? lihatlah bayi kita begitu lucu. Abang nggak mau punya banyak anak?"
Mata Bianca berbinar melihat putra mereka yang hampir 100% menjiplak wajah suaminya. Bianca tak kecewa meski ia yang mengandung dan melahirkan nya, wajah sang bayi menunjukkan betapa Bianca mencintai dan memuja suaminya hingga bayi mereka mewarisi ketampanan pria itu.
"Abang mau, tapi abang nggak tega kalau harus melihat Bian kesakitan lagi. Rasanya abang kesulitan untuk bernafas." Alex semakin erat memeluk Bianca. Jiwanya masih berada pada suasana menakutkan beberapa jam yang lalu. Masih seperti mimpi ia bisa melihat istrinya segar kembali seperti ini. Ia begitu takut tak bisa lagi melihat pancaran penuh cinta di mata Bianca.
"Tapi Bian bisa melalui nya sayang, lihatlah Bian dan adek bayi sehat-sehat aja kan?"
Bianca begitu bahagia, hidupnya terasa begitu lengkap dan sempurna. Memiliki suami yang begitu ia cintai dan mencintainya serta hadirnya buah hati yang semakin mewarnai hidupnya. Semoga kebahagiaan ini terus dapat ia rasakan hingga helaan nafas terakhirnya.
The End
🍁🍁🍁
Akhirnya sampai pada part ending....
Terimakasih untuk para pembaca yang sudah begitu setia membersamai perjalanan Al_Bi dan Double B. Aku nggak nyangka akan mendapat pembaca yang luar biasa padahal cerita ini begitu banyak kekurangan namun kalian selalu memberikan dukungan yang membuatku semakin bersemangat.
Kalian semua memang yang terbaik
Terimakasih, aku mencintai dan menyayangi kalian semua... 😘🥰😍
Jangan lupa mampir ke kisah Aleena dan Ivan dalam novel "Affair dengan Tunangan Sahabatku"