
"Bang ada apa?" Bella yang datang bermaksud untuk menjemput dan mengajak Bianca kuliah malah kebingungan melihat Alex yang panik membawa Bianca naik ke mobilnya. Diiringi Brian yang terlihat juga tak kalah panik.
"Pinjam mobil kamu Bell, ikuti mobil Alex, Bianca melukai dirinya" Ucap Brian cepat, terlalu lama jika harus mengeluarkan mobilnya di garasi. Mata Brian tak lepas menatap pada mobil Alex yang mulai bergerak. Bella melemparkan kunci mobilnya pada Brian lalu mengikuti pria itu naik ke mobilnya.
Brian bergegas mengikuti mobil Alex dengan kecepatan tinggi karena mobil Alex sudah tidak terlihat. Brian harus segera menyusulnya, sementara Bella hanya diam meski ia bingung atas apa yang terjadi namun ia harus menahan diri karena sekarang bukan waktu yang tepat untuk bertanya. Gadis itu bisa melihat dengan jelas kepanikan yang diselimuti rasa khawatir di mata Brian.
Di tempat yang berbeda Alex terus bergumam memanggil Bianca, sesekali menoleh pada Bianca yang terlihat pucat.
"Sayang sadarlah, jangan buat abang jadi takut" Bayangan menakutkan akan apa yang mungkin saja terjadi membuat Alex tak bisa menahan air matanya, ini kali kedua air matanya menetes untuk Bianca, hanya Bianca yang berhasil membuatnya sekacau ini. dan Brian masih meragukan perasaan nya pada gadis itu?
Alex terus memacu mobilnya dengan gila, untung saja kondisi masih pagi dan jalanan belum terlalu macet.
"Sayang kenapa kamu lakukan ini, kamu mau abang gila hum? bayi kita pasti akan sangat sedih" Racau Alex lagi, ia sangat kesulitan untuk menenangkan hatinya. Ia tak berani membayangkan akan seperti apa diri nya andai sesuatu yang buruk terjadi pada gadis itu.
Saat tiba di rumah sakit Alex memarkirkan mobilnya dengan asal, ia menggendong tubuh Bianca dan berteriak pada suster yang ia temui.
"Tolong istri saya suster, selamatkan dia. Dia sedang hamil" Ucapnya dengan begitu panik. Suster mengambil brangkar dan meminta Alex meletakkan tubuh Bianca di sana. Alex beralih menggenggam tangan Bianca
Mereka tiba di UGD dan Alex ikut masuk, ia sama sekali tak ingin meninggalkan Bianca
namun saat dokter akan memeriksa gadis itu suster yang tadi menghampirinya.
"Pak tunggu saja di luar ya" Ucap suster itu berusaha menenangkan Alex yang begitu panik.
"Tapi istri saya bagaimana suster" Alex begitu berat harus meninggalkan Bianca sendiri.
"Kami akan melakukan yang terbaik, bapak tenang saja" Mau tak mau Alex melangkah keluar. Hatinya tak henti berdoa, meminta agar Tuhan menyelematkan Bianca dan bayi mereka.
Saat keluar dari sana ia melihat Brian dan Bella berlari ke arah nya.
"Gimana adek gue Lex" tanya Brian masih dengan kepanikan yang sama.
"Dokter sedang memeriksanya" ucap Alex dengan suara bergetar. Ia terlihat begitu kusut.
"Duduk dulu bang" Bella berbisik pada Brian, pria itu menurut. Sementara Alex masih dengan posisinya, berdiri menghadap pada pintu.
"Bang Alex duduk saja dulu" Bella juga meminta Alex untuk duduk, namun pria itu tak bergeming. Otaknya tak bisa mencerna apapun saat ini, ia hanya memikirkan kondisi Bianca yang terlihat begitu lemah.
Brian menatap pada Alex, ia dapat melihat bagaimana kekhawatiran tercetak jelas di wajah sahabatnya itu. Ia mulai mempertanyakan pada dirinya sendiri, benarkah tindakan yang telah ia ambil? ia tak menyangka sang adik akan senekat ini.
Setelah menunggu dengan gelisah, seorang suster keluar dan memanggil keluarga Bianca.
"Bagaimana istri saya suster" ucap Alex cepat. Bella dan Brian saling berpandangan sekilas mendengar ucapan Alex.
"Nyonya Bianca hanya sedikit shock dan stres. Beliau sudah sadar, untung saja luka di tangan nya tidak terlalu dalam jadi tidak membahayakan nya" Alex menghela nafas lega, beban berat yang menindihnya seakan terangkat sudah.
"Bayi dikandungan nya bagaimana sus?"
"Untuk saat ini kondisinya baik, tapi harap dijaga perasaan sang ibu jangan sampai terlalu stres, kandungan nya masih rentan karena masih muda. Nyonya Bianca akan kami pindahkan ke ruang rawat, karena kondisinya yang lemah sebaiknya nyonya Bianca dirawat dulu" Ucap suster.
"Iya lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya dok" tegas Alex.
🍁🍁🍁
Brian hanya menatap dalam diam sikap Bianca yang sama sekali tak ingin berjauhan dengan Alex, Brian bahkan merasa jengah melihat tangan keduanya yang terus bertaut sejak Bianca dipindahkan ke ruang rawat.
"Bang sebaiknya beri mereka waktu berdua. Abang dengar sendiri apa kata dokter dan suster kan. Perasaan Bianca harus benar-benar dijaga" Bisik Bella pada Brian.
Untuk saat ini Brian sepertinya harus menekan egonya, keselamatan Bianca dan bayinya lebih penting sekarang. Meski masih ada ketidak relaan di hatinya namun ia berusaha untuk sedikit bersikap bijak demi kebaikan bersama.
Pria itu mendekat ke ranjang Bianca
"Abang pulang dulu, cepat sehat. Abang mohon jangan melakukan hal nekat seperti ini lagi" Ucap Brian sambil mengusap rambut Bianca, gadis itu menatap sendu padanya. Brian tersenyum tipis kala menangkap kekhawatiran di wajah sang adik.
"Kalau butuh apa-apa hubungi gue Lex, gue pulang dulu. Jagain adik gue" Brian menepuk pundak Alex.
"Iya Yan, makasih uda kasih gue kesempatan buat jagain Bian" Brian hanya mengangguk lalu melangkah keluar diikuti oleh Bella.
"Pulang?" Tanya Bella saat keduanya sudah berada di dalam mobil miliknya.
"Kamu tau tempat yang bisa membuat fikiran lebih tenang?" Tanya Brian, Bella nampak berfikir mengingat tempat yang cocok seperti yang Brian butuhkan.
"Kamar hotel?" Tawar Bella yang membuat Brian membulatkan matanya. Terlebih saat Bella malah tertawa melihat reaksinya.
"Becanda bang, serius amat" Bella masih terus menertawakan Brian yang mendengus dengan wajah masam nya.
"Tapi kalau abang mau aku hayuk aja bang, apa si yang enggak buat abang" ucapnya yang membuat Brian semakin kesal.
"Kamu tu ya, aku tu lagi nggak pengen main-main" ucap Brian ketus, ia tak habis fikir ada gadis seperti Bella di dunia ini. Ada saja tingkah nya yang membuat kening Brian berkerut.
"Ke pantai mau?" Tawar Bella.
"Boleh" Jawab Brian, ia tengah menyandarkan tubuhnya dengan mata terpejam. Ia merasa lelah dengan permasalahan yang tengah dihadapinya.
"Aku saja yang bawa mobil" Tawar Bella namun Brian menggeleng.
"Biar aku saja, aku nggak mau ambil resiko disupiri sama kamu" Ucap Brian sinis.
"Jangan sinis-sinis terus sama aku bang, nanti kalo aku tiba-tiba pergi abang pasti ngerasa kehilangan. Seperti kata lagunya bang haji Rhoma tu gini kalau sudah tiada baru terasa bahwa kehadiran nya sungguh berharga" Bahkan Bella tanpa malu menyanyikan nya meski dengan suara yang tidak begitu merdu.
Brian menghela nafas lelah, ia benar-benar kewalahan menghadapi gadis berisik sahabat adiknya ini.
🍁🍁🍁