
"Abang...!" Bianca menjerit melihat Alex yang sudah tidak berdaya saat Brian menghempaskan tubuhnya ke lantai. Ia segera menghambur meraih tubuh Alex dan meletakkan nya ke pangkuan nya, Alex mencoba membuka matanya. Ia mencoba tersenyum agar Bianca tak terlalu khawatir.
"Ken-kenapa keluar" Lirih Alex. Hatinya berdenyut sakit melihat wajah Bianca yang sudah dibanjiri air mata.
"Masuk ke dalam kamar bi!" Geram Brian mendekat pada Bianca.
"Abang jahat! abang kenapa mukulin bang Alex kayak gini. Kalau bang Alex mati gimana, hiks!" Ucap Bianca sambil tersedu.
"Dia pantas mendapatkan nya Bi, ayo masuk ke kamar kamu!" Alex meraih tubuh Bianca namun gadis itu bertahan dengan posisi nya memeluk Alex.
"Abang nggak boleh kayak gini, bang Alex itu ayah dari bayi Bian. Abang mau dia lahir tanpa ayah huh?" tantang Bianca masih dengan tangisan nya, hati dan tubuhnya terasa nyeri melihat pria yang ia cintai terluka separah ini.
"Bell bantuin aku bawa bang Alex ke rumah sakit" pekik Bianca saat melihat Alex semakin melemah.
"Bianca!! masuk ke kamar. Kamu nggak usah ngurusin pria brengsek ini" Ucap Brian geram. Selama ini Brian selalu berucap dan bersikap lembut pada adiknya tersebut, apalagi saat orang tua mereka meninggal. Namun kali ini amarah dan kekecewaan nya pada Alex mengubah segalanya.
"Bang dia ayah dari bayi Bian, mana mungkin Bian ninggalin dia dalam kondisi begini. Abang nggak boleh sekejam ini" ini kali pertama Bianca membantah dengan keras ucapan dari pria yang teramat ia sayangi.
"Tapi dia ini bajingan yang sudah merusak kamu bi."
"Tapi Bian cinta sama bang Alex bang, Bian secara suka rela menyerahkan diri padanya. Ini bukan kesalahan bang Alex" tegas Bianca.
"Kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan Bi? dia ini punya pacar Bi. Dia tidak mencintai kamu. Kamu tidak akan bahagia bersama nya" Mendengar ucapan Brian Alex begitu ingin melayangkan protesnya. Dalam kondisi seperti ini Alex menyadari bahwa sejak ia bersama Bianca menjalani hubungan yang berbeda selam 2 bulan ini perasaan nya pada Salsa perlahan memudar. Namun ia terlalu lemah hingga untuk membuka matanya saja ia tak sanggup.
"Jangan menyimpulkan sesuatu sendiri sementara abang tidak tau yang sebenarnya" Ucap Bianca kecewa.
"Bella tolong panggilkan ambulance kenapa dari tadi cuma diam aja" Bianca berteriak lagi pada Bella yang mematung tak bergerak.
"I,-iya Bi" Bella membuka ponselnya untuk memanggil ambulance dengan tangan bergetar karena terlalu gugup.
"Bi, abang akan mengurus Alex dan mengirimnya ke rumah sakit. Sekarang kamu masuk ke kamar. Jangan berniat untuk menemuinya lagi, kubur mimpi mu untuk menikah dengan nya" hati Bianca merasa teriris mendengar ucapan Brian yang tak tergoyahkan.
"Kamu mau menuruti abang atau kamu akan kehilangan abang untuk selama-lamanya" Ucapan Brian membuat ia tersentak, ia menatap tak percaya pada pria itu.
"Kalau kamu tetap berada di sini artinya Alex lebih penting dari abang, dan kamu memilihnya. Maka jangan pernah harap kamu akan melihat abang lagi sampai kapan pun" Tatapan penuh kesungguhan itu membuat Bianca menciut, bagaimana pun ia tak mau kehilangan Brian. Tapi bagaimana dengan hatinya?
Bianca menatap pada wajah Alex dengan tatapan yang mengabur terhalang air mata. Ia dapat melihat Alex menganggukkan kepalanya dengan samar.
"Masuklah, kamu bisa mempercayakan nya pada abang" nada bicara Brian masih terdengar datar dan dingin.
"Bang, Bian cinta sama abang. Demi bayi kita bertahan lah. Bian menyayangi abang, Bian percaya abang akan menjemput Bian. Bian dan bayi kita menunggu abang" Bisik gadis itu di telinga Alex, ia mencium wajah Alex yang sudah berlumuran darah.
Dengan berat hati Bianca berjalan menuju kamarnya, di tuntun oleh Bella yang sejak tadi menyaksikan kejadian itu dengan hati yang berdenyut.
🍁🍁🍁🍁
Bianca berulang kali mengubah posisi tidurnya, matanya sudah membengkak karena terlalu banyak menangis. Ia teramat mengkhawatirkan Alex, yang ia tahu Brian telah membawa pria nya ke rumah sakit dari informasi yang Bella berikan. Namun mengenai kondisinya sekarang Bella belum memberi tau lebih jauh.
Bianca memandangi ponselnya, berharap Alex menghubunginya agar ia bisa tenang.
"Dek, doakan papa" Bisik Bianca sembari mengusap perutnya, air mata nya kembali keluar. Ia sangat takut sesuatu yang buruk menimpa pria yang amat ia cintai itu.
Bianca begitu membutuhkan kehangatan dekapan Alex saat ini. Ia ingin mencium aroma tubuhnya untuk menghilangkan kegundahan hatinya. Sungguh Brian membuatnya berada pada pilihan yang sulit.
"Brian hanya sedang emosi Bi, aku yakin nanti Brian akan luluh dan merestui kalian. Brian tidak mungkin tega memisahkan kalian mengingat bayi kalian membutuhkan ayahnya" ucapan Bella tadi siang terngiang kembali.
Bianca mencoba memupuk keyakinan bahwa Brian akan luluh dan memberikan restunya seperti apa yang Bella katakan. Ia tau Brian hanya sedang kecewa sekarang, bagaimana pun Alex adalah pria yang paling ia percayai selama ini. Sangat wajar jika ia merasa dikhianati, bukan kah setiap pengkhianatan itu menyakitkan? terlebih jika dilakukan oleh orang yang paling kita percayai
Bianca mencoba memahami Brian, namun sisi sensitifnya sebagai ibu hamil membuatnya tak kunjung menemui ketenangan. Fikiran nya hanya dipenuhi oleh bayangan Alex yang terluka, hatinya terus menyalahkan sikap abang kandung nya itu.
Sayang tidurlah, bayi kita akan bersedih kalau mamanya menangis
Sebuah pesan masuk dengan nama kontak Alex membuat Bianca membulatkan matanya. Ia merasa teramat lega dan bahagia mendapatkan kabar setelah berjam-jam berkutat dengan kegelisahan. Sepertinya Alex mengetahui dirinya yang terus menunggu kabar dari pria itu.
Abang kenapa baru kasih kabar, abang gimana sekarang?
Balas Bianca cepat. Ia ingin menelfon pria itu namun ia takut mengganggu, mengingat betapa parah luka yang Alex alami. Namun seperti sebuah harapan yang bersambut sebuah panggilan Video menampilkan nama Alex masuk ke ponsel Bianca. Dengan tangan bergetar ia segera menekan tombol hijau pada panggilan itu, tampak Alex dengan luka-luka wajahnya yang telah dibersihkan tersenyum, pria itu terlihat pucat hingga membuat Bianca tak bisa menahan air mata kesedihan nya.
"Maaf, abang baru saja bangun. Kayaknya dokter menyuntikkan obat bius terlalu banyak makanya abang tertidur lama. Ah rasanya ingin abang maki dokternya bi, gara-gara dia abang nggak bisa ngabarin istri abang dengan cepat" Ucap Alex dengan wajah kesal, sementara Bianca tersenyum diantara derai air mata yang membasahi pipinya. Di sebut demikian oleh Alex membuat hati Bianca menghangat.
🍁🍁🍁