My Brother'S Friend Is My Partner

My Brother'S Friend Is My Partner
Chapter 77



Alex masuk ke dalam kamar dengan perasaan yang tak menentu, bayangan luka yang terpancar dari tatapan istrinya sebelum masuk ke dalam apartemen membuat Alex begitu khawatir pada Bianca.


Saat memasuki kamar tak nampak wanita kesayangan nya hingga membuat Alex semakin khawatir, namun ia menghela nafas lega saat mendengar pintu kamar mandi yang terbuka, menampilkan Bianca dengan baju tidur seksi yang semakin menampakkan tonjolan perutnya yang menggemaskan. Wajahnya terlihat segar meski Alex dapat melihat ada jejak air mata di sana.


Alex berjalan cepat ke arah Bianca yang menatap terpaku padanya. Ia meraih tubuh istrinya dan memeluk dengan erat.


"Bian nggak apa-apa?" Tanya Alex sambil mengusap rambut Bianca.


Tubuh Alex menegang kala merasakan tubuh Bianca bergetar menandakan wanita itu sedang menangis. Ia melepaskan pelukan nya dan menuntun Bianca untuk duduk di ranjang


"Bian kenapa menangis?" Bianca menatap kecewa pada Alex.


"Abang masih tanya kenapa?" Tanya Bian dengan terbata. Alex menghela nafas berat.


Ia menangkup wajah Bianca dan menatap pada istrinya


"Bian percaya sama abang ya? bayi dalam perut Salsa bukan milik abang sayang" Ucap Alex sungguh-sungguh.


"Please percaya sama abang, abang berani sumpah kalo bayi itu bukan milik abang. Bayi abang cuma satu, yang sekarang ada di rahim Bian" Ucapan Alex masih belum mampu menghentikan tangisan istrinya dan itu membuat Alex tersiksa.


"Bian jangan menangis sayang, Bian percaya sama abang kan?" Tatap Alex dalam, berharap Bianca mampu merasakan kejujuran nya.


"Abang pernah bilang kan kalo abang nggak pernah nyentuh Salsa sejauh itu, abang cuma melakukan itu sama Bian. Sumpah abang nggak bohong" Alex terus berusaha meyakinkan Bianca yang jelas sekali masih meragukan nya


"Abang nggak cinta sama Bian tapi abang nyentuh Bian. Sulit dipercaya kalo abang nggak pernah nyentuh Salsa yang jelas-jelas begitu abang cintai" Ucap Bianca tak bisa menutupi luka nya.


"Tapi itu faktanya sayang, abang nggak pernah nyentuh Salsa sekalipun" Alex hampir putus asa rasanya.


"Kalo abang mau kembali sama Salsa nggak apa-apa. Toh Abang juga cinta banget kan sama dia apalagi sekarang ada bayi kalian di perut Salsa."


"Sayang, sumpah demi Tuhan bayi diperutnya bukan milik abang! dan satu lagi Bian harus tau kalo abang uda nggak cinta sama Salsa." Tegas Alex.


"Abang nggak perlu membohongi diri abang terus menerus. Bian nggak apa-apa kalo abang balik sama Salsa. Bian tau diri kok abang pasti akan lebih memilih Salsa dan bayinya dibandingkan Bian dan bayi Bian. Karena memang abang nggak pernah cinta sama Bian" ucap Bianca lirih dengan tetesan air mata yang semakin deras. Alex terperangah tak percaya Bianca bisa berucap demikian.


Ia meraih wajah Bian lagi dan menatap tepat di mata wanita tercintanya.


"Katakan abang harus bagaimana agar Bian percaya bahwa bayi itu bukan milik abang, demi Tuhan abang nggak pernah nyentuh dia sayang. Terus siapa yang bilang kalo abang nggak cinta sama Bian?"


"Jadi Bian nggak bisa ngerasain perasaan abang ke Bian? perjuangan abang untuk menikahi Bian hingga dipukuli Brian dan papa tak bisakah itu Bian rasakan sebagai bukti cinta abang pada Bian? terus bayi ini? apa menurut Bian keberadaan nya juga bukan sebuah bukti cinta? sentuhan abang, tatapan memuja abang pada Bian, kecemburuan abang, sikap posesif abang, dan semua sikap abang selama ini apa kalau bukan cinta?" Bian terpaku mendengar ucapan pria itu. Benarkah itu semua bukti cinta Alex padanya? Alex mencintainya?


"Tapi sekalipun abang nggak pernah bilang kalo abang cinta sama Bian" ucap gadis itu lirih.


"Benarkah? tapi Bi, nggak pernah bilang bukan berarti nggak cinta. Abang cinta sama Bian, cinta banget malah. Abang cinta Bi cinta!!" Ah Alex mengutuk ketidak pekaan nya, ia lupa bahwa wanita perlu ungkapan cinta tak cukup hanya sebatas tindakan saja.


"Abang kira ikrar yang abang ucapkan di hadapan penghulu sudah cukup menyatakan betapa abang sangat mencintai Bian! Mungkin sejak dulu cinta itu sudah memenuhi hati abang, namun abang terlalu bodoh untuk menafsirkan perasaan abang pada Bian. Abang menganggap rasa sayang abang pada Bian karena Brian semata, tapi abang selalu nggak suka Bian dekat sama laki-laki lain, abang selalu merasa rindu dan ingin dekat-dekat Bian terus, apa coba namanya kalo bukan cinta? abang juga sadar abang nggak mungkin bisa menyentuh Bian sejauh itu kalo abang nggak cinta sama Bian. Percayalah sayang abang sangat cinta sama Bian" ucap Alex yang membuat tangis Bianca pecah. Ia tak menyangka apa yang ia harapkan menjadi nyata, sesuatu yang sangat ia impikan benar terjadi. Alex membalas perasaan cinta nya. Bian memeluk Alex erat, ia ingin menyalurkan rasa bahagianya yang begitu membuncah.


"Bian percaya sama abang?" Tanya Alex lirih sambil menciumi puncak kepala Bianca.


"Iya Bian percaya" ucapnya terbata.


"Bian percaya kalo abang nggak pernah nyentuh Salsa?" Tanya Alex lagi namun Bianca hanya diam. Alex melepaskan pelukan nya.


"Lihat abang Bi? apa abang terlihat berbohong? apa Bian nggak bisa ngerasain kejujuran abang?" Lagi-lagi Bianca hanya terdiam.


"Sayang, apa abang terlihat seperti pria bejat yang akan meniduri banyak wanita dan menebar benih di mana-mana? apa Bian bisa mencintai pria yang seperti itu" Tanya nya dengan sabar. Bianca menggeleng ada keyakinan yang begitu kuat di hatinya bahwa Alex bukan pria seperti itu. Alex tersenyum


"Jadi apa Bian tetap beranggapan bahwa bayi di perut Salsa adalah milik abang? " Lagi-lagi Bianca menggeleng, Alex begitu lega karena nya.


"Jangan terpengaruh pada ucapan bohong Salsa. Dia hanya nggak mau kita bahagia, dia sengaja ingin merusak pernikahan kita. Jangan biarkan usahanya berhasil ya Bi?"


"Iya bang" pernyataan cinta Alex seperti obat yang berhasil meluruhkan keraguan nya, ia merasa mendapatkan kembali kekuatan nya yang sempat hilang beberapa saat yang lalu.


Ia berjanji untuk menjadi lebih kuat lagi agar kerikil yang menghadang di tengah perjalanan tak mudah membuat cinta mereka tumbang.


"Abang cinta sama Bian" Bisik pria itu.


"Bian juga cinta sama abang" Balas nya lembut.


"Jadi abang uda bisa menagih janji yang tadi Bian ucapkan sebelum pergi?" Goda Alex yang seketika membuat wajah Bian merona, namun dengan malu-malu Bianca menganggukkan kepalanya.


Tak perlu menunggu lagi, Alex segera meraih bibir Bianca dan menyesapnya. Ia memeluk erat tubuh Bianca. Ia merasa begitu takut kehilangan Bianca karena peristiwa ini.


🍁🍁🍁