My Brother'S Friend Is My Partner

My Brother'S Friend Is My Partner
Chapter 49



Pagi ini berbeda dari hari sebelumnya Bianca masih tertidur dengan nyenyak tanpa gangguan mual yang menyiksa. Ia semakin merapatkan pelukan nya pada kehangatan yang membuatnya semakin tenggelam dalam lelap. Alex tersenyum memandangi wajah Bianca yang tampak polos dan menggemaskan saat tengah terlelap seperti ini. Wajah nya begitu tenang, seolah tak ada permasalahan pelik yang tengah melandanya.


Alex masih betah memandangi wajah gadis itu saat mata dengan bulu mata lentik itu perlahan terbuka. Alex semakin gemas saat melihat rona kemerahan dan senyuman malu ketika Bianca mendapati dirinya tengah memandangi wajah nya.


"Selamat pagi istriku" Bisik Alex lalu mencium kening gadis itu, dada Bianca berdetak kencang dengan kehangatan yang mengaliri seluruh tubuhnya. Ah begini kah indahnya andai ia dan Alex benar-benar telah menikah? melihat wajah tampan pria itu tiap kali ia membuka mata pasti terasa amat menyenangkan.


"Kamu ke kampus hari ini?" Tanya Alex sambil membelai rambut Bianca. Ia sendiri telah mengajukan cuti kepada atasan nya mengingat kondisi nya tak memungkinkan untuk berangkat ke kantor


"Nggak mau" ucapnya sembari menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" Tanya Alex heran. Bianca menyesapkan wajahnya pada dada Alex. Memeluk tubuh pria itu dengan erat.


"Bian malu, nanti teman-teman tau kalo Bian hamil. Sementara Bian nggak punya suami" Ucapnya yang berhasil membuat hati Alex lagi-lagi teriris.


"Tapi kita akan segera menikah sayang" Alex masih mengusap lembut rambut Bianca namun kali ini disertai kecupan bertubi-tubi di sana.


"Kalo bang Brian tetap nggak kasih izin, artinya Bian nggak punya suami kan bang"


"Brian pasti akan kasih izin, Bian percaya saja sama abang" Alex kembali meyakinkan gadis kecilnya itu.


"Kamu nggak mual pagi ini?" Tanya Alex kemudian.


"Agak mual, tapi kan ada abang. Bian bisa cium wangi tubuh abang banyak-banyak" Jawab gadis itu. Pantas saja sejak tadi Bianca menyesapkan wajah di dada Alex. Ia tengah meredam rasa mual yang tiba-tiba menderanya.


"Dari kemaren kamu cuma minum susu aja kan bi? pagi ini harus sarapan ya. Kasihan adek bayi kalo nggak dikasih makanan apa-apa" Bianca hanya mengangguk. Alex tengah berfikir bagaimana menyiapkan sarapan untuk Bianca, ia berharap Brian pergi ke kantor hari ini agar ia bisa menyiapkan semua yang Bianca butuhkan.


"Bi buka pintunya, abang bawa sarapan buat kamu" Suara ketukan di pintu yang disertai panggilan dari Brian membuat Alex dan Bianca seketika dilanda kepanikan. Bianca refleks melepaskan pelukan nya dan menatap pada Alex.


"Bi, abang tau kamu masih marah. Tapi kamu tetap harus sarapan" ucap Brian lagi, Bian tak bisa menepis rasa haru menjalari hatinya. Meski ia sudah mengecewakan Brian namun pria itu tetap peduli padanya.


"Bang gimana?" Bisik Bianca panik.


Alex mengusap rambut Bianca tanpa menjawab apa-apa.


"Ya sudah abang tarok di depan pintu ya. Harus dihabiskan ya. Kalo butuh apa-apa panggil saja. Abang nggak ke kantor hari ini" Kelegaan segera menyapa keduanya, namun mendengar kalimat terakhir mereka juga nampak kecewa. Artinya mereka tak bisa bebas di rumah ini. Sudah Alex duga Brian tak mungkin memberi nya kesempatan untuk bertemu Bianca.


"Abang ambil sarapan nya dulu ya sayang, nanti abang suapin" Ucap Alex. Setidaknya pagi ini ia bisa menemani sang calon istri memakan sarapan nya.


"Bang Bian aja yang ambil" Bianca memegang tangan Alex yang akan turun dari ranjang.


"Biar abang saja, Bian tunggu di sini oke" Alex kembali mendaratkan kecupan nya di kening Bianca dan beranjak menuju pintu kamar gadis itu.


"Sudah gue duga, lu emang nggak bisa dipercaya brengsek!" Ucap Brian dengan suara lantang, ia memegangi kerah Alex dan menatap nya dengan penuh amarah. Brian mulai curiga kala melihat mobil Alex yang terparkir di seberang jalan rumahnya, saat melihat ke dalam mobil tak nampak sosok pria itu di sana. Brian curiga Alex diam-diam menyelinap ke kamar adiknya, ternyata apa yang ia curigai kini terbukti


"Abang jangan sakiti bang Alex lagi, Bian mohon" Bianca berlari dan memeluk tubuh Alex. Di sudut bibir pria itu tampak luka yang memang belum sembuh kembali mengeluarkan darah. Sungguh hati Bianca nyeri melihat nya.


"Dia nggak pantas kamu bela Bi! berani-beraninya dia masuk ke kamar kamu seperti pencuri. Abang Muak bi, menyingkir lah!" Bentak Brian


"Kalau abang nggak larang bang Alex buat ketemu Bian, bang Alex nggak mungkin melakukan hal ini. Abang jangan egois, bayi Bian butuh ayah nya!" Balas Bianca tak kalah tegas.


"Menjauh lah Bi!" Brian berusaha melepaskan tangan Bianca yang erat memeluk Alex.


"Nggak! abang jangan sakiti ayah dari bayi Bian atau abang akan kehilangan Bian untuk selama-lama nya" Baiklah bukan hanya Brian yang bisa mengancam. Bianca akan melakukan hal yang sama.


"Sayang apa maksud mu" Alex nampak panik begitupun dengan Brian yang menatap tak percaya pada Bianca.


"Bian nggak bisa melihat ayah dari bayi ini terus disakiti seperti ini, bahkan luka yang lama saja belum kering. Bian nggak sanggup melihat bang Alex terluka. Lebih baik Bian mati supaya abang puas" Ancam Bianca.


"Sayang abang mohon jangan berkata seperti itu" Alex menangkup wajah Bianca lalu menatapnya penuh permohonan. Ucapan Bianca membuatnya begitu ketakutan.


"Jangan mengancam abang Bianca. Kamu kira abang ini anak kecil yang akan dengan mudah percaya omong kosong mu itu" Brian tersenyum sinis pada sang adik yang kini menatapnya penuh kekecewaan.


Bianca melepaskan tangan nya pada tubuh Alex dan berbalik meraih vas bunga di atas nakas, ia memecahkan vas tersebut lalu mengambil pecahan kaca tersebut dan meletakkan nya di pergelangan tangan nya. Bianca tersenyum menatap pada Brian.


"Baiklah, mungkin abang lebih suka melihat Bianca tak bernyawa." Ucap Bianca dingin.


"Sayang jangan seperti ini please, ingat bayi kita sayang" Bujuk Alex akan mendekat.


"Bi jangan bercanda, itu tajam Bi" Teriak Brian, keduanya akan mendekat pada Bianca namun gadis itu balas membentak.


"Menjauh lah!" Ancam Bianca sembari menggoreskan kaca itu ke pergelangan tangan nya.


"Bian jangan!!!" Alex berteriak seperti kesetanan kala melihat darah mulai menetes dari pergelangan tangan gadis itu.Ia melompat meraih tubuh Bianca.


Kondisinya yang lemah serta shock yang ia rasakan membuat Bianca kehilangan kesadaran nya. Tanpa peduli pada Brian Alex segera menggendong tubuh Bianca dan membawanya berlari keluar.


"Sayang bangunlah!" Gumam Alex sambil terus berlari menuju mobilnya. Tampak Brian mengikuti langkah Alex dengan wajah yang memucat.


🍁🍁🍁