
"Omong kosong apa itu Bella! Apa sedemikian benci nya kamu sama om Doni hingga kamu begitu tega memfitnahnya?" Respon sang mama membuat Bella membeku, hatinya terasa ditikam beberapa kali. Terasa sakit, hancur dan perih. Mama nya menyangsikan pengakuan nya?
"Aku nggak fitnah ma, aku bicara fakta!" ucap Bella lantang.
"Kamu nggak perlu mengarang cerita untuk memisahkan mama dari om Doni" Bentak Elza, kilatan amarah begitu menyala terang di matanya. Ini kali pertama Elza membentak dan terlihat semarah ini pada Bella.
"Mama nggak percaya sama aku? tadi mama bilang mama akan percaya sama aku" ucap Bella lirih. Hatinya benar-benar sakit.
"Tapi tidak untuk sesuatu yang jelas adalah fitnah Bella! om Doni begitu baik pada mama dan juga menyayangi kamu. Mama sangat mengenal om Doni, ia tidak mungkin melakukan hal bejat pada kamu yang sudah ia anggap seperti putri kandung nya sendiri" Elza menatap kecewa pada Bella yang kini tak lagi bisa menahan laju air matanya. Bella sama kecewanya pada Elza.
"Tapi aku nggak bohong ma, apa mama malam itu nggak masuk ke dalam kamar aku? kalau mama masuk pasti mama akan tau bahwa aku tidak sedang mengarang cerita" ucapan Bella membuat sang mama terdiam. Tapi hatinya tetap menolak pernyataan putrinya itu.
"Mama lebih percaya sama orang asing yang baru satu tahun mama kenal dari pada aku yang sudah 20 tahun hidup bersama mama?" Tanya Bella dengan tatapan penuh luka.
"Karena selama ini kamu selalu menunjukkan rasa tidak suka kamu pada om Doni tanpa alasan Bella, mama yakin ini juga bagian dari siasat mu untuk memisahkan mama dengan nya. Kali ini kamu nggak boleh egois Bella, mama tetap akan menikah dengan om Doni walaupun kamu tidak setuju. Mama juga berhak bahagia" Elza semakin meninggikan suaranya pada Bella yang begitu hancur atas pernyataan mama nya. Semua benar-benar terasa hancur kali ini, lebur tak bersisah.
"Apa menurut mama aku tipe orang yang bisa menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan nya?" Elza kembali terdiam.
"Apa menikah dengan penjahat yang sudah menghancurkan hidup ku adalah satu-satunya jalan kebahagiaan mama?" lanjut Bella sambil menatap nanar pada Elza.
"Stop mengada-ada Bella! Mama tidak percaya om Doni melakukan itu padamu" Tegas Elza.
"Aku nanya apa menikah dengan nya satu-satunya jalan agar mama bahagia? apa demi mencapai itu bahkan mama rela mengorbankan anak mama? Apa aku sudah bukan lagi sumber kebahagiaan mama?" Tanya Bella dengan suara berat, raut wajahnya sarat akan kekecewaan yang mendalam.
"Kamu masih sumber kebahagiaan mama Bella, tapi ini berbeda. Mama ini manusia biasa bukan wonder woman, mama butuh bahu yang kuat untuk tempat bersandar di saat mama rapuh. Sementara di hadapan kamu mama harus selalu kuat, mama tidak bisa menunjukkan sisi lemah di hadapan mu"
"Aku sudah dewasa ma, aku bisa mengerti ada saat tertentu seseorang mengalami titik terendah nya, mama tidak harus selalu menunjukkan bahwa mama kuat di depan ku, kita bisa berbagi kesah bersama mulai sekarang." Bella menghela nafasnya dan menatap sang mama.
"Aku tau ada ruang tertentu di hati mama yang tidak bisa aku isi, aku sama sekali tidak melarang mama untuk menikah lagi, tapi bisakah prianya bukan orang itu ma?" Ucap Bella sedikit putus asa.
"Mama mencintai om Doni Bella, mengertilah. Hanya om Doni yang bisa membuat mama merasa hidup kembali, hati mama cuma tertuju padanya sayang"
Andaikan Doni tak pernah menjamahnya mungkin Bella akan menurunkan egonya. Tapi sekarang? semua terasa menyakitkan bagi Bella.
"A-apa maksud kamu nak?"
"Mama harus memilih salah satu diantara kami. Tapi aku tau mama pasti memilih om Doni, karena itu lebih baik aku angkat kaki dari rumah ini" jelas Bella lagi yang membuat mama Bella terpaku.
"Kejar kebahagiaan mama, dan aku akan menjalani hidup aku sendiri" Bella rasa tabungan papanya cukup membiayai hidupnya sampai tamat kuliah, ia yakin dirinya tak akan merasa kesulitan.
"Kamu tidak boleh pergi Bella, mama tidak bisa berpisah dari kamu" Bujuk Elza.
"Kalau begitu lepaskan om Doni" tantang Bella yang membuat Elza membeku.
"Tapi mama mencintainya Bella, mama mohon jangan egois sayang"
"Mama yang egois, mama hanya memikirkan perasaan mama tanpa memikirkan perasaan ku. Aku tidak bisa menerima nya karena dia pria bejat yang sudah menghancurkan ku. Tapi aku bisa apa kalau mama tidak percaya. Keluar dari hidup mama adalah satu-satunya pilihan yang aku punya. Tolong jangan serakah ma, menikah dengan om Doni artinya mama harus melepaskan aku. Karena memiliki aku dan om Doni secara bersamaan adalah sebuah kemustahilan" Ketegasan Bella membuat Elza tak berdaya. Ia sangat menyayangi Bella karena bagaimana pun Bella adalah darah daging nya, namun untuk berpisah dari Doni ia juga tak sanggup karena cintanya pada pria itu sudah berakar kuat.
"Aku akan keluar hari ini juga, tidak usah mencegah ku, karena aku tak akan mengubah keputusan ku sebelum mama memutuskan hubungan dengan om Doni" tekad Bella begitu kuat, ia berusaha kuat di antara puing-puing hatinya. Sang mama telah mencampakkan nya.
Bella mengemasi barang-barang nya, hatinya terasa begitu perih karena sang mama hanya diam. Mamanya benar-benar lebih memilih Doni ketimbang dirinya, ia tak berarti apapun bagi sang mama.
Bella berusaha menahan air matanya untuk kembali tumpah, ia ingin terlihat kuat di depan sang mama yang telah membuang nya.
"Aku pergi ma" ucap Bella setelah selesai mengemasi barang yang menurutnya penting untuk ia bawa.
"Kamu akan ke mana nak? mama mohon fikirkan kembali keputusan kamu. Kamu dan om Doni sama-sama penting bagi mama. mama tidak bisa memilih salah satu diantara kalian." Bella tersenyum pahit. Mama nya memang tak bisa memilih tapi Elza membiarkan nya untuk mengambil pilihan nya sendiri.
"Keputusan ku sudah final, semoga mama bahagia dengan pilihan mama."
Bella melangkah meninggalkan sang mama yang hanya diam menatap kepergian nya.
Di dalam mobil sejenak Bella menoleh ke arah rumah tempat ia dibesarkan. Rasanya teramat pahit, ia mempertanyakan mengapa dunia akhir-akhir ini begitu kejam padanya. Apa kesalahan nya sudah terlalu besar? lantas kesalahan yang mana?
🍁🍁🍁