
Kening Brian berkerut saat melihat istrinya yang keluar dari kamar mandi dengan menundukkan kepala nya. Langkah nya begitu pelan menandakan ia sama sekali tak bersemangat.
Bella sendiri tak menyadari kalau Brian tengah memperhatikan dirinya ia mengira sang suami masih tertidur seperti saat ia meninggalkan nya ke kamar mandi untuk memenuhi panggilan alam. Bella kemudian mendudukkan tubuhnya di ranjang masih dengan menundukkan kepala nya.
"Kenapa?" Brian menggeser tubuhnya dan memeluk pinggang Bella, pria itu masih dalam posisi berbaring.
"Abang uda bangun?" Tanya Bella lirih namun tanpa menoleh. Brian segera beranjak dari tidurnya kala menyadari suara istrinya lirih dan bergetar hal itu menandakan sang istri sedang tidak baik-baik saja.
Brian meraih wajah Bella agar menatap padanya, dan benar saja mata istri nya tampak membengkak, ada jejak tangisan di wajah ayu Bella. Brian mengusap wajah itu dan menatap khawatir.
"Kamu kenapa sayang? kenapa menangis? kamu sakit?" Brian memberondong Bella dengan pertanyaan. Bukan nya menjawab Bella kembali menangis sesegukan menandakan sebelumnya Bella sudah menangis cukup lama.
"Sayang kenapa?" Brian memeluk Bella erat, ia merasa panik melihat istrinya begitu bersedih dan rapuh. Semalam Bella masih baik-baik saja hubungan mereka juga harmonis, bahkan tadi malam mereka masih melakukan sesi percintaan yang panas seperti banyak malam yang sudah mereka lewati selama pernikahan mereka yang sudah memasuki usia tiga bulan.
"A-aku datang bulan" ucap Bella terbata. Brian terdiam, berusaha mencerna makna ucapan istrinya.
"Sakit banget ya? ayo ke dokter." ajak Brian. Ia melepaskan dekapan nya dan akan beranjak namun Bella menahan nya.
"Nggak sakit kok bang" Bella menggelengkan kepalanya.
"Terus kenapa menangis kalo nggak sakit? bukan nya seorang wanita memang datang bulan? dan ini bukan pertama kalinya kan kamu mengalaminya? lalu kenapa menangis?" Brian benar-benar tak mengerti kenapa Bella harus sesedih ini saat mendapati siklus bulanan nya. Pria itu kembali menarik Bella ke dalan pelukan nya.
"B-bang aku tuh u-da telat lima hari" Ucapan Bella terhenti dan kini tangisan nya semakin kencang. Brian masih belum mengerti, ia hanya bisa mengusap punggung istrinya sambil terus berfikir apa yang salah dalam hal ini. Ah iya, mungkin karena perasaan wanita yang sedang datang bulan memang tidak stabil.
"Iya terus kenapa?"
"Aku kira aku hamil bang, ternyata enggak. Padahal aku uda berharap banget" Brian menghela nafas dan menghembuskan nya dengan begitu lega, ia kira ada apa ternyata ini alasan Bella begitu bersedih.
"Nggak apa-apa. Kenapa harus bersedih kita masih punya banyak waktu untuk mencobanya lagi sayang. Lagian baru tiga bulan kan kita menikah? kita belum lama berpacaran sayang mungkin Tuhan ingin kita menikmati masa berdua dulu" Brian mengeratkan pelukan nya, ia tak menyangkan diam-diam Bella sudah begitu berharap untuk memiliki momongan. Padahal selama ini mereka tidak pernah membahas hal itu, ia kira Bella sama seperti dirinya yang tidak terlalu memusingkan hal itu.
Keinginan untuk memiliki tentu saja ada namun Brian tidak ingin terlalu ngoyo yang akan melahirkan kekecewaan jika hasilnya belum sesuai harapan
"Tapi Bian malah nggak pacaran sama sekali sama Alex, Tuhan uda langsung kasih Bian hamil. Nggak lama lagi bayi mereka akan lahir" ucap Bella.
"Tuhan menghadirkan bayi diantara Alex dan Bian sebagai jalan bagi mereka untuk bersatu sayang. Karena tanpa kehadiran bayi itu mungkin Bian dan Alex akan terlena hingga terus menumpuk dosa karena melakukan hubungan tanpa ikatan pernikahan. Selalu ada pelajaran yang bisa kita petik dari semua kejadian yang menimpa kita. Jangan selalu menilai buruk segala sesuatu yang terjadi ketika tidak sesuai dengan apa yang kita mau" Jelas Brian dengan lembut dan penuh kesabaran.
"Tapi aku takut mengecewakan abang karena belum bisa kasih abang anak" keluh Bian lirih
"Kenapa aku harus kecewa? aku nggak berhak buat kecewa sama kamu. Kehadiran seorang anak itu mutlak ketentuan dari Tuhan. Itu hak nya Tuhan sayang, kita tidak memiliki kuasa untuk merasa kecewa satu sama lain. Kita berdua hanya bertugas mengusahakan nya hasil akhir tetap Dia yang menentukan. jadi kalaupun belum bukan salah kamu dan bukan salah aku hanya waktunya saja yang belum berpihak. Tidak ada gunanya untuk saling menyalahkan" Bella merasakan begitu damai mendengar ucapan Brian yang tegas namun tetap penuh kelembutan.
"Sabar ya sayang, kita tunggu saja. Mungkin Tuhan ingin kita lebih matang dan dewasa sebelum menghadirkan buah hati ke dalam rahim kamu. Tuhan ingin kita lebih sabar lagi, karena mengurus anak juga nggak gampang tanggung jawab nya besar. Kita tidak hanya dituntut memenuhi kebutuhan finansial nya saja tapi kita juga bertugas mengisi jiwanya dengan kasih sayang dan pendidikan. Kalo kita nya saja masih labil kasian nanti anak."
"Iya bang, maaf ya" Fikiran Bella kini mulai terbuka. Ia sadar lebih baik mempersiapkan mental nya dulu dari pada terus bersedih menunggu kehadiran buah hati yang belum hadir di rahimnya. Mungkin Tuhan tidak ingin ia serakah, ia sudah memiliki suami yang begitu sempurna di matanya. Jika Tuhan langsung menghadirkan janin di rahimnya mungkin Bella akan terlalu jumawa dan tidak akan pernah belajar arti kesabaran juga perjuangan.
"Jadi uda nggak sedih lagi kan?" Bisik Brian saat tak lagi mendengar isakan istrinya. Bella menggeleng.
"Jangan lama-lama ya datang bulan nya" kali ini Brian mengubah nada bicaranya menjadi lebih manja.
"Kenapa?" Gantian Bella kini yang dibuat kebingungan.
"Aku nggak khat puasa lama-lama sayang" Ah Bella kira ada apa. Suaminya sungguh menggemaskan.
"Biasanya lima hari bang, kan ini uda ketiga kalinya semenjak kita menikah"
"Lama banget, bisa nggak dipercepat jadi tiga hari aja eh enggak satu hari aja deh?" Bella tertawa geli mendengar rengekan suaminya.
"Memang nya aku yang menentukan berapa lama nya? abang ada-ada aja" Bella menyesapkan wajahnya pada dada bidang suaminya. Kehangatan yang Brian berikan selalu mampu menenangkan nya yang gusar.
"Bang kalau seandainya Tuhan tidak pernah menghadirkan buah hati dalam pernikahan kita apa abang akan menikah lagi?" Tanya Bella tiba-tiba.
"Kenapa aku harus menikah lagi? memang nya itu kesalahan mu?"
"Seandainya kesalahan itu memang ada padaku" Bella meralat ucapan nya.
"Kalau aku yang mandul apa kamu akan meninggalkan ku?"
"Nggak!" Bella menjawab tegas.
"Jadi tau kan apa jawaban aku? perasaan cintaku padamu tidak akan dilemahkan oleh hal yang terjadi di luar kuasa mu"
"Jadi apa kita akan mengadopsi anak?" Tanya Bella, Brian menghela nafas jengah.
"Kamu sudah terlalu jauh berfikir sayang" Brian sengaja mengeratkan pelukan nya hingga membuat Bella memekik karena kesulitan bernafas.
"Kita minta saja Bianca dan Alex memberikan anak yang banyak untuk kita rawat" ucap Brian kemudian sambil terkekeh.
🍁🍁🍁