
Bianca menatap puas pada penampilan Bella yang begitu cantik. Awalnya Bella dan Brian benar-benar akan menikah dengan mengenakan kemeja putih. Namun Bianca memprotes keras. Ia begitu miris pada pernikahan Brian dan Bella yang akan mereka gelar dengan begitu sederhana.
Meski hanya memakai kebaya milik Bianca namun sama sekali tak mengurangi pancaran kecantikan Bella. Waktunya tidak memungkinkan untuk mencari lagi karena itu Bella terpaksa menerima usul Bianca untuk memakai kebaya miliknya. Untung saja ukuran mereka sama, begitupun dengan Brian yang tak bisa menolak saat Bianca memintanya memakai pakaian yang dikenakan Alex pada saat pernikahan mereka.
Ada rasa haru yang tak bisa Bianca deskripsikan saat ia dan Bella memasuki ruangan tempat di mana ikrar pernikahan akan Brian ucapkan. Matanya berkaca-kaca melihat Brian begitu gagah dalam balutan baju pengantin nya. Pria yang telah menjaga nya dan menggantikan peran kedua orang tua mereka dalam merawat nya kini akan memasuki babak kehidupan yang baru. Hati Bianca tak henti melantunkan doa untuk kebahagiaan abang tercinta nya.
Bianca mengambil posisi duduk di sebelah Alex yang langsung menggenggam tangan nya diiringi sebuah senyum teduh, sepertinya ia dapat merasakan apa yang tengah istrinya rasakan kini. Keduanya duduk persis di belakang kursi tempat di mana Brian dan Bella akan melakukan prosesi pernikahan.
Brian menoleh sejenak pada Bella yang kini telah berada di samping nya.
"Kamu cantik, apa kamu bahagia?" Bisik Brian pada Bella yang kini menolehkan kepalanya menatap pada pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Ia tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Aku sangat bahagia" Jawab Bella dengan suara bergetar. Ia tak bisa menutupi rasa harunya, jantung nya tak henti berdebar kencang menanti detik-detik saat ia resmi menjadi milik Brian, seorang pria tampan dengan segala kebaikan nya.
"Apa kamu bersedih?" Bella paham apa yang Brian maksud, meski sudah dikabari namun sampai detik ini Elza belum menampakkan batang hidung nya. Wanita itu juga tak mengkonfirmasi apapun perihal kesediaan nya hadir atau tidak.
"Nggak, aku sudah menduganya. Aku sudah bisa menata hatiku dengan baik. Jangan khawatir, aku sudah terlatih untuk mensyukuri apa yang aku punya dan tidak terfokus pada apa yang tidak ada" ucap Bella. Keduanya serentak menoleh saat mendengar bisikan Bianca.
"Akad nikah sebentar lagi akan dilaksanakan, jangan membahas yang terlalu berat" Ucap Bianca dengan gemas. Ia takut fokus Brian teralih dan tidak bisa mengucapkan janji pernikahan mereka dengan baik.
"Jadi kamu nguping kita?" Brian menatap sinis pada Bianca.
"Bian dengar pembicaraan kalian karena posisi kita begitu dekat, Bian nggak tuli bang. Tolong jangan mengajak berdebat dalam kondisi seperti ini bang, tau dirilah sedikit" Bisik Bianca dengan mata melotot. Brian akan menjawab namun Bella segera menarik lengan Brian agar kembali menghadap pada penghulu yang sedang menyiapkan berkas. Begitupun dengan Alex yang merangkul tubuh istrinya dan mengusap lembut lengan Bianca.
"Aneh, dalan kondisi seperti ini masih aja nyebelin" gerutu Bianca yang belakangan ini seringkali merasa kesal dengan sikap Brian.
"Sabar sayang, mungkin itu trik Brian untuk menghilangkan kegugupan nya" Bisik Alex menenangkan Bianca yang begitu gampang tersulut emosi efek kehamilan nya. Alex kembali menautkan jemari mereka yang sempat terlepas.
Beberapa waktu kemudian prosesi pernikahan Brian dan Bella berjalan lancar. Meski hanya dihadiri Alex dan Bianca serta penghulu dan beberapa pegawai yang menjadi saksi pernikahan keduanya namun sedikitpun tak mengurangi kesakralan pernikahan itu. Bella tak henti meneteskan air mata mengiringi suara merdu Brian mengucapkan sumpah pernikahan mereka.
Bella mencium tangan pria yang telah resmi menjadi suaminya dengan penuh rasa syukur, kini beralih dengan Brian mencium kening Bella. Terlihat jelas kebahagiaan di wajah pria itu.
Setelah semua prosesi selesai mereka melakukan sesi foto bersama, meski hanya menggunakan ponsel.
"Jaga Bella ya bang, jangan sakiti dia. Perlakukan dia dengan baik seperti abang memperlakukan dan menjaga Bian selama ini" Ucap Bianca, ia tak bisa menahan laju air matanya. Bianca memeluk erat Brian yang mengusap lembut rambut sang adik.
"Iya sayang abang janji" Brian menghapus air mata yang mengalir di pipi Bianca.
Brian hanya mengangguk, kerongkongan nya tercekat hingga ia tak bisa berucap apapun saat Bianca mengingatkan tentang kedua orang tua mereka yang telah tiada. Kini Bianca beralih pada Bella, keduanya berpelukan erat.
"Jaga abang aku ya Bell. Kamu juga harus bahagia, lupakan masa lalu yang menyakitkan. Kamu sempurna dan kamu istimewa" Bisik Bianca yang membuat Bella kembali meneteskan air matanya. Dukungan Bianca begitu berharga untuknya, ia sangat beruntung memiliki sahabat sekaligus adik ipar seperti Bianca, meski terkadang manja ia begitu bijak dan penuh cinta.
Tak jauh berbeda, Brian dan Alex kini juga tengah berpelukan. Mereka tak menyangka persahabatan ini berujung pada ikatan keluarga.
"Mama dan papa titip salam, siap-siap nanti kalau mereka pulang lu diomelin, nikah mendadak sampe mereka nggak bisa pulang. Kalo pernikahan lu besok aja mereka pasti bela-belain buat pulang" ucap Alex sambil menepuk pundak sahabatnya.
"Ya ampun gue benar-benar lupa." ah Brian harus menebalkan telinga nanti, ia pasti kena omel habis-habisan sama mama Rani karena kesalahan nya ini.
Momen haru mereka harus terjeda dengan kedatangan Elza dan suaminya, Bella akan bahagia meski kedatangan nya telat andai sang mama datang sendiri dan tidak mengajak pria penghancur masa depan nya. Karena pria itu Bella tak bisa menyuguhkan sesuatu yang istimewa untuk suaminya. Kehadiran Doni benar-benar merusak kebahagiaan Bella.
Brian meraih pundak Bella dan menenangkan nya, ia paham apa yang dirasakan Bella sekarang. Jangan kan istrinya, ia saja harus selalu menahan mati-matian naluri membunuh nya setiap melihat Doni.
"Maaf mama terlambat Bella, semoga kamu bahagia dengan pilihan kamu" ucap Elza sambil memeluk Bella yang menatap datar padanya.
"Terimakasih sudah datang ma, dan aku akan sangat berterimakasih lagi andai mama datang sendiri" Ucap Bella, Sang mama tersenyum getir. Ia menatap tak enak hati pada Doni yang tersenyum santai.
"Boleh kita bicara sebentar Brian? Sebagai seorang papa pengganti bagi Bella, om ingin menjalan kan peran itu, mengobrol dan memberikan sedikit nasehat pada pria yang sudah menikahi putrinya" ucap Doni pada Brian.
"Mau apa? tidak perlu repot-repot. Kamu bukan papa saya" Ucap Bella ketus.
"Nggak apa-apa. Tenangkan dirimu sayang" Bisik Brian, mata Bella menatap penuh protes padanya namun Brian menyunggingkan senyuman, seolah menyatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
🍁🍁🍁
Sah ya, walaupun nggak diundang yg mau kasih amplop nanti di share norek nya mereka 😉😉😉 Nantikan malam pertama mereka malam nanti ya, itu momen yang paling ditunggu kan??? 😂😂😂
Please jangan bosan!!
See u
❤️❤️❤️