
Alex menidurkan Bianca di ranjang nya dengan sangat hati-hati. Ia lalu mendaratkan kecupan di seluruh wajah Bianca hingga jantung gadis itu terasa berdetak dengan gila, perlakuan Alex membuat Bianca merasa Alex begitu mengistimewakan dirinya, hal itu semakin membuatnya tak berdaya dengan perasaan cintanya yang semakin menguat.
"Kamu masih pucat bi, bagian mana yang nggak nyaman?" matanya lekat menatap pada Bianca. Ia juga membelai lembut pipi Bianca yang terlihat kemerahan karena perlakuan manisnya.
"Nggak ada bang, Bianca baik-baik saja sekarang" ucap nya berusaha mengendalikan perasaan nya. Alex mengambil posisi di sebelah Bianca lalu ikut merebah kan diri.
Pria itu memeluk Bianca dan mengusap perutnya dengan penuh kasih sayang.
"Maaf ya bi, padahal kamu uda kelihatan sering nggak enak badan beberapa minggu ini tapi abang nggak peka. Pasti kamu sering ngalamin kesulitan ya?"
"Nggak perlu minta maaf bang, kita sama-sama belum berpengalaman." lirih Bianca. kebersamaan Ini benar-benar indah, namun benarkah jalan ini yang harus mereka ambil?
"Oh ya bi, sekarang berapa usia bayi kita?" entah mengapa Bianca merasa begitu bahagia tiap kali Alex menyebut nya dengan sebutan 'bayi kita'.
"Dokter bilang 8 minggu bang" Alex tampak menganggukkan kepalanya.
"Abang hebat ya bi?" Pria itu mengulum senyum terlebih melihat Bianca yang mengernyitkan kening nya.
"Maksud abang?" tanya nya heran.
"Benih yang abang tanam langsung tumbuh, itu membuktikan bahwa abang begitu hebat kan? kita beruntung sayang tidak perlu menunggu lama kehadiran nya, di luar sana ada banyak sekali orang tua yang belum diberi kepercayaan untuk memiliki anak." ucap Alex terdengar bijak. Tapi bukan kah kehadiran nya belum dinantikan mengingat ia dan Alex tak memiliki ikatan apapun? Bianca ingin tertawa mendengar ucapan Alex yang terdengar menggelitik.
"Apa sebenar nya yang kamu rasain selama ini bi?" Alex mengecup puncak kepala Bianca.
"Cuma suka tiba-tiba lemas, terus gampang sedih apalagi kalo kangen abang, beberapa kali juga mual" Jujur Bianca sambil mengulum senyum.
"Jadi diam-diam kamu sering ngerasa kangen abang? walaupun setiap hari kita ketemu?" Tanya Alex dengan begitu bersemangat. Bianca mengangguk dengan malu-malu.
"Mungkin bayi kita yang kangen bang, Bian nya enggak, biasa aja" ucap Bianca kemudian.
"Ah masa sich? duh sayang masa mama mengkambing hitamkan kamu loh." Alex mengusap perut Bianca sambil berbicara pada janin itu. Andai bisa Bianca ingin menghentikan waktu saat ini juga, jujur ia takut menghadapi Brian dan Salsa nantinya.
"Bi? beneran ngerasa kangen sama abang terus?" oh my God sepertinya pria ini begitu bersemangat kembali membahas hal itu.
"Enggak bang, beneran bayi kita yang kangen" ucap Bianca sambil terkekeh.
Alex tiba-tiba melorotkan tubuhnya hingga posisi wajahnya kini berada tepat di perut Bianca.
"Sayang kangen papa ya? Mau ketemu papa?" Wajah Bianca memanas saat Alex sepertinya malah menggunakan kesempatan itu untuk menuntaskan hasrat nya.
"Mak-maksud abang?" Bianca mendadak panik.
Alex menyeringai pada Bianca yang semakin kelabakan.
"Bayi kita mau ketemu papanya, kamu sendiri yang bilang dia kangen abang" Alex menaik turunkan alisnya.
"Bang tadi siang Bian baru saja dirawat. Kata dokter nggak boleh kecapean. Mungkin selama hamil kita nggak boleh ngelakuin itu dulu bang" Kilah Bianca yang merasa posisinya sedang tidak aman
Tanpa menjawab Alex malah meraih ponselnya. Ia tampak serius mengetikkan sesuatu lalu diam beberapa saat.
Bianca membelalakkan matanya, ia tak menyangka Alex malah membuka internet untuk memuluskan niat nya.
"Bi abang kangen, kamu lupa uda seminggu ini abang nggak dikasih jatah. Kamu ngambek nya kelamaan"
Bianca tak menjawab, ia merapatkan bibirnya menahan gejolak tubuhnya yang tiba-tiba merasakan getaran aneh itu hanya karena tatapan Alex yang penuh damba. Seperti nya janin di perut Bianca tak tega membiarkan sang papa menahan hasrat nya lebih lama. Ah sepertinya bayi ini akan berpihak pada papanya.
"Abang janji akan pelan-pelan. Abang nggak akan nyakitin kamu dan bayi kita" Bisik Alex di telinga Bian yang membuat gadis itu meremang, rasa panas mengaliri seluruh tubuhnya, desiran halus semakin terasa kala Alex mulai mendaratkan bibirnya pada kening gadis itu lalu turun ke seluruh bagian wajah nya. Ia meraih wajah Bian dan meraup bibirnya yang sedikit terbuka. Alex menyesapnya dengan lembut, ia terlihat sangat menikmati seolah ingin menuntaskan kerinduan nya yang tak menjamah tubuh Bianca selama 1 minggu ini.
Semua sentuhan Alex terasa lebih lembut dibandingkan biasanya. Ia memperlakukan tubuh Bianca dengan begitu memuja. Bianca tak lagi bisa menahan dirinya tiap kali tangan Alex menyentuh bagian sensitif pada tubuhnya dengan begitu seirama.
"Sebut nama abang sayang" Alex mulai mengeksplore bagian-bagian yang mampu membuat Bianca kelabakan menghadapi sesuatu dalam dirinya yang semakin tak terkendali.
"Sekarang bang, Bian ingin..."
Alex tersenyum, mengerti keinginan wanita yang tengah mengandung bayi nya tersebut.
"Iya sayang, abang segera datang"
Alex memposisikan dirinya untuk melanjutkan kegiatan mereka, yaitu menikmati menu utama sesi percintaan malam itu.
Keduanya mengeram bersamaan kala kedua inti mereka menyatu, bertemu kembali untuk menuntaskan rindu. Alex mendiamkan tubuhnya sejenak, lalu mengusap keringat yang membasahi kening Bianca.
"Boleh abang mulai?" Bianca mengangguk, ia memejamkan matanya tak berani menatap mata Alex yang selalu berhasil menenggelamkan nya pada labirin cinta yang tak ada ujung nya. Perlahan Alex memacu tubuhnya, ia melakukan nya selembut mungkin agar tak menyakiti janin yang ada di rahim Bianca. Membayangkan ada kehidupan lain buah cinta mereka di perut Bianca membuat Alex semakin digulung hasrat yang menggebu.
Sesi percintaan itu diakhiri dengan leng**an dan era**an keduanya yang telah mencapai pelepasan yang terasa begitu indah.
Seperti biasa Alex mengecup kening Bianca diiringi ucapan terimakasih atas kenikmatan yang selalu berhasil Bianca suguhkan padanya.
Keduanya kini mulai berusaha memejamkan mata dengan saling berpelukan dibawah selimut yang sama dengan tubuh yang tak tertutupi apapun.
"Good night, mimpi indah sayang" Bianca mencium puncak kepala Bianca dan mengeratkan pelukan nya.
Alex berusaha memejamkan matanya, ia butuh tenaga untuk menghadapi hari esok. Sepertinya restu Brian tak akan mudah ia dapatkan, namun apapun yang tejadi Alex akan merebut restu itu dengan cara paksa sekalipun. Ia tak bisa lagi melepaskan Bianca dan bayi yang tengah dikandungnya.
Mengetahui kehamilan Bianca membuat Alex seolah mendapatkan tujuan hidup nya.
🍁🍁🍁
Duh Lex sempat-sempat nya, nggak mau menyia-nyiakan kesempatan banget kamu tuh...🤔🤔
Ya uda lah yah itung-itung mengisi amunisi untuk menghadapi Brian besok, ya nggak readers? 😀😀
btw thanks yang uda berkenan hadir mengikuti cerita receh ini yes...
alapiyuuuu 😘😘😘😘