My Brother'S Friend Is My Partner

My Brother'S Friend Is My Partner
Chapter 75



Sepanjang perjalanan pulang Bella sedikitpun tak membuka mulutnya, padahal Brian berulang kali memancing obrolan dengan gadis itu. Bella hanya mengangguk atau menggeleng saat Brian bertanya. Gadis itu tengah berusaha menata gejolak hatinya. Pembahasan Bianca dan Brian saat makan malam tadi cukup mengusik perasaan nya. Ia tau Brian bukan pria bodoh yang tak bisa menebak arah pembicaraan Bianca. Ia yakin sedikit banyak Brian mengerti maksud pertanyaan-pertanyaan adiknya itu.


"Ayo turun kita sudah sampai" Ucapan Brian membuyarkan lamunan Bella. Saking asiknya melamun gadis itu tak menyadari bahwa mereka telah tiba.


"Kenapa ke sini?" tanya Bella saat menyadari bahwa Brian membawanya ke rumah pria itu, bukan ke tempat kost nya.


"Aku kangen kamu, akhir-akhir ini kamu selalu menghindar. Jadi tidak ada salahnya aku menculik mu malam ini" Sejak pembicaraan terakhir mereka 2 minggu yang lalu Bella memang selalu menghindari Brian. Ia seringkali bersembunyi kala Brian datang ke kost atau ke kampusnya. Malam ini karena sudah terlanjur janji dengan Bianca akhirnya Bella terpaksa ikut kala Brian menjemputnya.


"Antar aku pulang kak, besok ada kuliah pagi" ucap Bella dengan perasaan kacau nya. Brian tidak tau saja betapa ia menderita menahan perasaan rindunya, namun ia memaksakan diri untuk mengurangi interaksi pada pria itu agar bisa segera menyelesaikan ketidak pastian hubungan mereka. Bahkan meski malam ini Brian mengatakan tetap akan mempertahankan orang yang dicintainya meski sudah tidak suci lagi tetap saja ia meragukan jika Brian benar-benar dihadapkan pada permasalahan itu, belum tentu Brian akan sanggup menerimanya.


"Besok pagi-pagi aku bisa antar kamu, tenang aja. Aku jamin kamu nggak bakalan telat" Bella menghela nafas jengah, ia tak tau harus bagaimana menghadapi Brian yang keras kepala.


Terlalu banyak berfikir lagi-lagi Bella tak menyadari Brian telah turun dari mobilnya dan membuka pintu serta menggendong tubuh Bella.


"Bang aku bisa jalan sendiri, kenapa harus gendong segala" protes Bella yang tentu saja tak digubris oleh Brian.


"Kamu kalo nggak kayak gini nggak akan mau nurut" Ucap Brian santai, ia terus membawa tubuh Bella masuk ke dalam.


"Eh bang mau ke mana" Bella begitu panik kala tiba di ruang keluarga Brian tetap berjalan dan tidak menurunkan nya. Kepanikan nya bertambah ketika pria itu membuka handle pintu sebuah kamar yang Bella tau merupakan kamar Brian.


"Aku uda bilang aku kangen kamu sayang, kamu harus bertanggung jawab karena terus lari dan mengabaikan ku 2 minggu ini" Bisik Brian lalu menggigit telinga Bella hingga membuat tubuh gadis itu meremang.


Brian merebahkan Bella di atas ranjang nya, ia dapat melihat kegelisahan di wajah gadis itu. Terlebih saat Brian mulai membuka kancing kemejanya.


"Abang mau ngapain" wajah Bella memerah saat Brian naik ke atas ranjang dengan tubuh bertelanj*ng dada. Ia menangkap tubuh Bella yang sudah bergetar.


"Aku kangen kamu Bell" ucap Brian dengan mata menatap dalam membuat Bella sejenak terpaku, gadis itu terbuai kala merasakan sentuhan bibir Brian pada bibirnya. Keduanya menikmati sensasi yang tercipta dengan memejamkan mata.


Bella begitu terhanyut dalam permainan bibir Brian yang terasa hangat menyapu, menyesap dan menghisap bibirnya.


Namun Bella membuka matanya dengan cepat kala merasakan tangan Brian mulai bergrilya menyapa lekuk tubuhnya, tubuhnya bergetar saat pria itu mulai menyesap lehernya dan tangan nya dengan ganas menarik baju gadis itu. Bayangan menakutkan malam itu terlintas hingga membuat Bella semakin memucat. Ia berusaha mendorong Brian agar melepaskan dirinya.


Brian terdiam memandangi wajah Bella, dari reaksi tubuh dan wajahnya yang memucat Brian bisa mengerti apa yang telah menimpa gadis itu. Ia kini semakin meyakini bahwa kecurigaan nya benar adanya.


"Tenang Bella tenang lah" Brian memegangi tangan Bella yang sejak tadi terus memukulinya. Mata gadis itu terpejam rapat sementara tubuhnya bergetar hebat. Brian menatap iba menyadari wajah Bella sudah seputih kapas dengan bibir pucat yang bergetar.


"Maaf sayang, maaf aku tidak bermaksud menyakitimu. Lihat aku Bella, ini aku Brian" Bisik Brian di telinga Bella yang masih terus meronta ketakutan. Brian berusaha memeluk dan mengusap rambut Bella agar gadis itu bisa tenang.


Brian sengaja melakukan ini untuk menguji Bella, karena sejak tadi ia menunggu kejujuran terucap dari bibir gadis itu namun sepertinya Bella tetap tak berniat menceritakan apa yang terjadi padanya. Ia hanya ingin memastikan kecurigaan nya, dan kini hatinya terasa pilu menyadari kebenaran ini.


"Tenanglah, ini aku Brian. Aku mencintai mu Bella, tenanglah ada aku yang akan selalu bersama mu" Bisikan-bisikan lembut Brian berhasil membuat Bella perlahan menjadi sedikit lebih tenang, tubuh nya tak lagi bergetar sehebat sebelumnya.


"Buka matamu sayang, lihat ini aku Brian. Aku tidak akan menyakitimu, maaf aku membuat mu takut" Bujuk Brian karena Bella masih menutup matanya.


Mata sendu itu perlahan terbuka, menampilkan binar ketakutan bercampur luka yang lagi-lagi menghantam hati Brian. Rasa marah menyerang nya, ingin sekali ia membunuh orang yang telah menyakiti Bella hingga gadis ceria itu harus berubah sedemikan menyedihkan.


"A-abang" Lirih Bella.


"Iya ini aku Brian, jangan takut. Maafin aku ya?" Brian mengusap lembut rambut Bella, gadis itu merasa detak jantung nya berubah kembali normal. Nafasnya tak lagi memburu.


Setelah cukup lama terdiam dan Bella sudah benar-benar tenang, Brian meraih tangan Bella dan menggenggam nya. Pria itu menatap dalam pada gadis itu.


"Katakan apa yang terjadi sebenar nya, jujurlah" pinta Brian yang membuat Bella kembali menangis.


"Siapa yang melakukan nya padamu Bella? katakan siapa pria bejat itu?" ucap Brian yang membuat Bella menatap pada Brian. Yah ia tau Brian memang tidak bodoh, ia pasti sudah bisa menebak semuanya. Tak ada lagi gunanya menyembunyikan semua ini dari pria itu. Apapun keputusan Brian sudah tak penting lagi. Tetap menyimpan nya hanya akan membuat permasalahan ini semakin rumit.


"Doni, kekasih mama" Ucap Bella dengan kebencian yang terlihat sampai ke sumsum. Tak jauh berbeda dengan Brian, ia begitu terkejut hingga tubuhnya terasa terhempas ke dalam jurang yang dalam. Pria itu mengepalkan tangan nya dengan kuat hingga buku-buku jarinya terlihat memutih.


"Jadi abang mengerti kan kenapa aku tidak bisa menerima abang? aku tidak mungkin begitu egois dan tak tau diri memaksakan hubungan kita sementara aku begitu kotor dan hina? apalagi aku pernah dengan sombongnya mengatakan bahwa aku akan memberikan kesucian ku padamu. Aku kehilangan muka dengan kondisi ku yang seperti ini bang"


🍁🍁🍁