
"Kapan perkiraan adek bayinya lahir?" Tanya Bella, keduanya janjian ketemuan di kafe langganan mereka sewaktu Bian masih kuliah dulu. Bian merasa bosan di rumah sendirian, mama Rani sedang ada urusan jadi hari ini tidak datang ke apartemen Bian. Untung saja Bella sedang tidak ada kuliah jadi bisa menuruti keinginan adik iparnya yang sedang hamil besar.
"Kata dokter sekitar 3 mingguan lagi. Aku gendut banget ya sekarang" Bianca mengerucutkan bibirnya.
"Nggak kok, kamu perut aja yang gede. Nanti abis lahiran body kamu uda oke lagi tuh"
"Apaan, nih lihat muka uda kayak bakpao"
"Aku pengen banget hamil loh Bi, badan aku mau segede tedmond pun aku nggak apa-apa. Tapi Tuhan belum mempercayakan itu sama aku, jadi aku sedih loh kamu ngeluh hanya karena kondisi badan kamu padahal banyak banget yang pengen kayak kamu" Bian menatap salah tingkah pada Bella.
"Bukan gitu maksud aku, jangan kira aku nggak bersyukur dengan kehamilan aku ini, takut aja suami aku jadi ilfeel. Aku cuma lagi nggak percaya diri aja nama nya juga cewek Bell, sensitif banget kalo berat badan uda naik" Ah Bianca sama sekali tidak bermaksud untuk menyinggung Bella. Ia jadi tak enak hati karena nya.
"Jangan tersinggung ya Bell, aku sama sekali nggak maksud buat nyinggung kamu"
Bella tertawa melihat Bianca yang terlihat begitu mengkhawatirkan perasaan nya.
"Aku nggak tersinggung Bi, cuma ngasih tau kamu supaya nggak usah terlalu mikirin hal yang nggak penting. Mau tambah gendut atau mau gimana pun itu cuek ajalah, yang penting bayi kami sehat"
"Iya Bell, kamu juga yang sabar ya. Aku yakin suatu saat kamu pasti akan hamil. Sekarang nikmati masa berdua sama bang Brian aja dulu" ucap Bianca.
"Iya, bang Brian juga bilang kayak gitu. Eh tau nggak Bell, bang Brian bilang kalo emang Tuhan nggak ngasih kita kepercayaan untuk memiliki anak, dia mau minta dibikinin anak yang banyak sama kamu dan Alex" Ucap Bella sambil terkekeh, terlebih melihat ekspresi shock sahabat sekaligus adik iparnya itu.
"Emang kue bisa asal minta bikinin. Lagian kalian mikirnya kejauhan, aku yakin kok kalian pasti akan dikasih kepercayaan suatu saat nanti"
"Iya Bi, aku harap juga begitu. Tapi kalo emang takdirnya aku sama bang Brian nggak bisa punya anak mau yah bikinin kita anak yang banyak?" Bianca menangkupkan kedua tangan pada wajahnya, tak mengerti pada jalan fikiran abang dan sahabat nya ini.
"Pantesan kamu sama bang Brian jodoh, kalian sama-sama aneh!" ucap Bianca sewot sementara Bella terbahak melihat Bianca yang begitu kesal.
Beberapa waktu kemudian, Bianca tamoaj membuka ponselnya yang berbunyi. Wajahnya tiba-tiba memucat dengan mata membulat penuh membaca chat yang masuk ke ponselnya.
"Bell aku pulang duluan ya, aku capek banget mau istirahat" Bella yang sempat melihat perubahan wajah Bianca saat membuka chat di ponselnya merasa khawatir.
"Siapa yang kirim pesan? kamu kenapa?"
"Nggak ada Bell, aku nggak apa-apa. Tiba-tiba perut aku keram" Ucap Bianca dengan suara bergetar.
"Ada apa? kita uda sahabatan cukup lama Bi, kami nggak bisa bohongin aku. Ceritain ada apa?" Desak Bella.
"Beneran nggak apa-apa. Bayarin dulu ya aku mau pulang sekarang, Bye" Bianca beranjak dan berjalan terburu. Ia mengabaikan Bella yang memanggil-manggil dirinya.
Bella akan segera menyusul Bianca sehabis membayar pesanan mereka namun langkahnya terhenti saat melihat sosok sang mama yang sedang duduk sendirian, ia tak menyadari sejak kapan sang mama juga berada di kafe itu.
Awalnya Bella ragu untuk menemui Elza yang sudah 3 bulan lebih tak pernah ia tau kabarnya. Setelah berperang dengan perasaan nya akhirnya Bella memilih untuk menurunkan egonya, walau bagaimana pun ia adalah seorang anak yang harus menghormati ibunya.
Elza mengangkat kepalanya, wanita itu terlihat kaget namun sesaat kemudian matanya tampak berkaca-kaca.
"Be-Bella, duduk sayang" ucapnya, Bella dapat melihat kilatan rindu di mata wanita itu.
"Mama baik-baik aja? Hemm Bella kangen mama" ucap nya sambil tersenyum. Sontak Elza menggenggam tangan Bella, air mata kini tak lagi ia bendung.
"Mama juga kangen, kangen banget. Bella nggak benci mama?"
"Kenapa Bella harus membenci mama"
"Karena mama mengabaikan perasaan kamh dan lebih percaya pada bajingan itu" Elza terlihat begitu menyesal.
Bella beranjak dari kursinya dan berpindah ke samping Elza. Ia memeluk mama nya erat.
"Jadi mama sekarang uda percaya sama Bella?" Elza mengangguk, ia menciumi Bella. Wanita itu begitu merindukan putrinya.
"Iyah maafkan mama, gara-gara mama kamu harus menderita"
"Bella uda maafin mama kok, maafin Bella yang egois ya ma" Bisik Bella. Ia menyesal tak mencoba menghubungi sang mama.
"Mama yang egois sayang, mata hati mama sudah ditutupi oleh cinta buta."
"Jadi hubungan mama dengan om Doni gimana?" Tanya Bella setelah melepaskan pelukan nya.
"Menurut kamu apa mama akan bertahan pada laki-laki yang sudah melecehkan anak mama? mama langsung meminta berpisah dari nya Bella. Beruntungnya lagi sekarang pria itu sudah tertangkap karena ternyata ia adalah seorang pengedar narkoba. Mama malu pernah terjerat pesona nya" Bella begitu terkejut dengan berita yang Elza sampaikan, namun ia sangat lega akhirnya rasa sakit hatinya terbalaskan meski tidak melalui tangan nya sendiri.
"Kenapa mama nggak pernah menghubungi Bella? Bella kira mama masih marah sama Bella"
"Mama malu nak, mama kehilangan muka untuk bertemu kamu karena mama begitu egois. Maafkan mama sayang" Jadi keduanya sama-sama memendam ketakutan untuk menghubungi lebih dulu.
"Maafin Bella ya ma, harusnya Bella bisa menurunkan sedikit ego Bella untuk berlapang dada menghubungi mama lebih dulu" ucap Bella menyesal.
"Nggak apa-apa sayang, mama yang bersalah dalam hal ini. Bahkan kamu harus mendapatkan pelecehan dari pria bejat itu gara-gara keegoisan mama. Tapi mama yakin dia nggak berhasil merenggut kesucian kamu kan nak?"
"Kok mama tau?" Tanya Bella heran. Bella melihat sang mama mengulum senyum dan wajah merona.
"Sebenarnya mama malu, bahkan mama ingin membunuh diri mama sendiri karena rasa menyesal pernah terjebak pada pria itu. Dia itu brengsek, tapi lemah!. Sama mama yang uda nggak rapat aja dia nggak pernah berhasil masuk. Uda lemes karena muntah duluan 'itu' nya, apalagi sama kamu yang masih tersegel dengan baik mana bisa dia nembus kamu" Bella ternganga mendengar penjelasan sang mama, pantas saja ada cairan itu di pangkal paha nya. Membayangkan nya Bella begitu jijik, beruntung Tuhan masih melindungi dirinya.
🍁🍁🍁
Terjawab ya kenapa Bella masih suci, Doni si sok-sok an pengen merawanin Bella. Sendirinya aja lemah, Belum apa-apa uda muntah duluan.😂😂😂