My Brother'S Friend Is My Partner

My Brother'S Friend Is My Partner
Chapter 72



"Gue bingung sama jalan fikiran cewek Lex, gue nggak ngerti mau mereka apa" keluh Brian, sepertinya ia memang butuh tempat berbagi cerita. Alex cukup berpengalaman soal wanita. Berbeda dengan dirinya yang belum pernah menjalin hubungan dengan gadis mana pun, terlebih saat kedua orang tuanya meninggal fokusnya hanya pada Bianca hingga tak sempat meladeni para gadis yang sering kali tebar pesona padanya.


"Emang kenapa?" Alex mulai penasaran melihat Brian yang mulai gusar.


"Lu tau kan gimana Bella akhir-akhir ini getol banget ngedeketin gue? abis ketemu di pernikahan kalian dia mulai aneh, bahkan selama satu minggu menghilang nggak ada ngabarin gue. Gue yang penasaran nekat nyamperin dia, sikap nya aneh gitu akhir-akhir ini" Brian menghela nafas sejenak, Alex masih fokus mendengarkan sama sekali tak bermaksud menyela ucapan sahabat sekaligus kakak iparnya itu.


"Gue akhirnya sadar kalo gue emang uda jatuh cinta sama dia karena saat dia menghilang gue ngerasa nggak utuh" Brian menatap pada Alex, ingin memastikan apakah pria itu akan meledek dirinya. Namun Brian melihat Alex hanya mengulum senyum.


Lagi-lagi Brian menghela nafas dan menghembuskan nya dengan kasar.


"Saat terakhir kali ketemu Bella sempat bilang sama gue, dia bakalan nyerah suatu saat nanti kalo perasaan nya nggak gue respon, tapi nyerah nya belum dalam waktu dekat." Brian kembali menjeda ucapan nya.


"Terus masalah nya apa? sekarang lu uda sadar perasaan lu kan? jadian dong sekarang?" tanya Alex saat kakak iparnya diam cukup lama.


"Dia nolak gue Lex" lirih Brian yang membuat Alex membulatkan matanya. Ia sungguh heran.


"Serius lu? masa Bella nolak elu?"


"Makanya gue bingung Lex, dia bilang dia cinta sama gue. Tapi dia nggak bisa buat jalanin hubungan sama gue, makanya gue bilang gue nggak ngerti jalan fikiran cewek tu gimana. Ribet!" keluh Brian.


"Mungkin Bella mau tau keseriusan lu Yan, dia masih ragu sama perasaan lu ke dia. Jadi lu harus lebih ekstra meyakinkan Bella kalo lu beneran sayang sama dia"


Brian mengangguk.


"Gue juga mikirnya gitu, tuh kan ribet banget makhluk yang namanya perempuan. Dia uda mati-matian ngejar gue, giliran gue uda mau malah meragukan perasaan gue. Kan aneh! buang-buang waktu" Kalau saja perasaan nya dengan mudah ia hilangkan mungkin ia tak akan merendahkan diri memperjuangkan Bella.


"Tapi Bian gue nggak seribet itu Yan, dia nggak pernah ngerepotin gue" Brian mencebik sinis mendengar ucapan Alex.


"Ya karena lu masih pengantin baru. lagi anget-anget nya. Semua yang tampah baru yang indah-indah nya aja"


🍁🍁🍁


"Gimana honey moon nya?" Tanya Bella sementara Bianca sibuk mencari paper bag yang berisi oleh-oleh untuk Bella.


"Cuma di kamar doang" Cebik Bianca sambil menyerahkan makanan khas daerah yang mereka kunjungi.


"Makanya oleh-olehnya cuma itu, makanan doang. Nggak sempat jalan-jalan" lanjut Bianca. Bella terkekeh melihat wajah kusut Bianca.


"Nggak apa-apalah namanya juga honeymoon"


"Ya ngapain jauh-jauh kalo cuma mau bercinta doang. Di sini juga bisa, lagian ngapain gituan mulu uda ada hasil ini" cebik Bianca lagi.


"Mungkin beda sensasinya Bi" Bianca mengangkat bahunya sembari memanyunkan bibirnya


"Eh Bell, kamu janjian sama abang aku? kok bisa barengan gitu datang nya. Uda ada kemajuan nih" Goda Bianca, Bella tersenyum kecut menanggapinya


"Bang Brian abis nemenin aku cari kost-kost an Bi" Kening Bianca mengernyit mendengar ucapan Bella.


"Buat aku" jawab Bella singkat.


"Ngapain? rumah kamu gede gitu malah ngekost ada-ada aja deh"


"Aku nggak betah di sana Bi, nyokap mau nikah sama si brengsek Doni pacarnya" Bianca semakin terkejut mendengarnya, Bian memang tau kalau mama Bella punya pacar dan Bella tak pernah menyukai kekasih mama nya itu.


"Bukan nya tante Elza bilang nggak akan nikah kalo kamu nggak setuju?"


"Kayaknya Doni jauh lebih penting bagi mama ketimbang aku Bi. Buktinya mama lebih memilih buat lepasin aku dan kekeh pengen nikah" Kini Bian dapat mengerti kenapa Bella tampak tidak seceria biasanya.


"Kamu sabar ya, mudah-mudahan suatu saat mama kamu sadar" Ucap Bianca prihatin.


"Eh tapi kok tumben abang aku mau nemenin kamu? kamu paksa ya?" Lanjut Bianca mengalihkan pembahasan agar Bella tak semakin sedih.


"Enak aja, bang Brian yang menawarkan diri kok" Bella meninju pelan lengan Bianca yang asal bicara.


"Bang Brian uda ngungkapin perasaan nya ke aku Bi, dia bilang dia cinta sama aku" ucap Bella sendu.


"Yang bener? hah abang aku bisa jatuh cinta juga ternyata" Bianca terkekeh. Namun ia kemudian menatap pada Bella yang malah tampak murung.


"Bukan nya kamu cinta sama abang aku ya? harusnya kan kamu seneng, ini kok malah kayak sedih gitu"


"Aku nggak bisa jalanin hubungan sama bang Brian Bi, aku juga uda nolak dia" Bianca dibuat terkejut berkali-kali hari ini oleh sahabat nya itu.


"Loh kenapa? kamu kan suka sama bang Brian, kamu juga ngejar-ngejar abang aku selama ini. Sekarang saat abang aku uda buka hati, kamu malah nolak dia. Kamu kenapa malah nyia-nyian perasaan bang Brian Bell kamu beruntung banget padahal, aku aja sampai sekarang belum berhasil untuk membuat bang Alex jatuh cinta" Pandangan Bianca berubah sendu


"Ya ampun Bi, hubungan kalian sudah sejauh ini dan kamu masih ngeraguin perasaan Alex?"


"Tapi sampai sekarang bang Alex nggak pernah bilang cinta sama aku" ucap Bian lirih.


"Kan aku uda bilang, mungkin bagi Alex ungkapan cinta itu nggak penting. Yang penting itu tindakan" ucap Bella gemas pada pemikiran sahabat nya itu.


"Yah tetap aja aku cewek biasa yang butuh kata-kata Bell. Eh tunggu kenapa jadi bahas aku? Kita kan lagi bahas masalah kamu sama bang Brian" Wajah Bella kembali murung saat Bian kembali membahas penolakan nya pada Brian.


"Aku takut ngecewain Brian Bi. Aku juga sedih sama kenyataan ini. Di saat Brian sudah membuka hatinya aku malah kehilangan kepercayaan diri untuk bersama dia. Aku bukan Bella yang dulu lagi Bi." Bianca menangkap nada penuh luka pada ucapan Bella.


"Apa maksud kamu Bell?"


Bella menghela nafas berat. Ia tidak tau apakah harus bercerita pada Bianca atau tidak tentang apa yang sudah dia alami. Ada ketakutan bahwa Bianca akan menceritakan nya pada Brian. Atau minimal pada Alex, ia belum siap mendapatkan tatapan jijik dari orang lain atas noda yang tak akan pernah bisa ia hilangkan.


Namun terus menyimpan nya sendiri juga terasa begitu menyakitkan. Ia butuh teman untuk mendengar kesahnya.


🍁🍁🍁🍁