
Brian mendekat pada Bella yang sedang melamun di taman rumahnya, kepala gadis itu terangkat ke atas menikmati langit malam yang tampak gelap.
"Kamu kenapa malah di sini? ini uda malam. di sini dingin" ucap Brian sambil duduk di sebelah Bella. Gadis itu menoleh dan tersenyum tipis pada pria itu.
"Aku belum bisa tidur" ucapnya. Ia kembali menatap langit, meski tidak nampak bintang di sana namun Bella tetap menikmatinya.
"Udara malam nggak bagus buat kesehatan Bell" Brian menyibak rambut Bella yang menutupi wajah gadis itu akibat tiupan angin, membuat Bella menoleh pada Brian. Seketika pandangan mereka bertemu melahirkan guratan merah di wajah Bella.
Tatapan sendu Bella dengan wajahnya yang merona selalu berhasil menghipnotis Brian, membuat pria itu tanpa sadar menangkup kedua pipi Bella. Ia lalu mendekatkan wajahnya pada gadis itu.
Bella dapat memahami apa yang Brian inginkan dari gerak-gerik pria itu yang menatap dalam padanya dengan wajah yang semakin dekat. Dengan jantung yang terasa akan melompat dari tempatnya Bella memejamkan matanya kala hembusan nafas hangat Brian terasa membelai pipinya, hingga beberapa saat kemudian Bella dapat merasakan sapuan lembut bibir Brian menyapa bibirnya. Kehangatan menjalari seluruh bagian tubuhnya hingga menenggelamkan Bella dalam rasa nyaman yang gadis itu harap tak pernah berhenti.
Angin yang bertiup membuat suhu dingin semakin menusuk, Brian memeluk erat tubuh Bella tanpa melepaskan pagutan nya pada bibir yang selalu membuatnya kehilangan akal sehat. Keduanya begitu menikmati cecapan dan belitan yang mereka ciptakan.
Brian melepaskan pagutan nya namun wajahnya masih begitu dekat dengan wajah Bella. Kedua tangan nya masih melingkar di tubuh Bella. Keduanya menghela nafas sebanyak-banyak nya, dengan mata yang saling bertaut.
"Aku sudah menyadari perasaan ku padamu Bell, bisakah batalkan niat mu untuk berhenti mengejar ku lalu menjauh dariku? tetaplah di sisiku Bella. Aku mencintaimu" Wajah Bella memucat dengan mata yang membulat, kata-kata cinta yang Brian ucapkan adalah mimpi indah yang kini menjadi nyata.
Brian kembali membenamkan bibirnya pada bibir Bella, menyesapnya dengan penuh perasaan, kini ia mengerti mengapa ia bisa terjerat pada rasa bahagia tiap kali menyentuh Bella. Tentu saja karena ada peran cinta di dalam nya. Brian menghentikan lu*at*n nya pada bibir Bella namun tak melepaskan nya kala menyadari Bella meneteskan air mata. Sesaat Brian menduga Bella menangis karena terharu atas ungkapan cinta dari nya. Ia memeluk erat tubuh gadis itu dan kembali melanjutkan aksinya mereguk kenikmatan yang Bella suguhkan.
Brian menghentikan kegiatan nya kala tangisan Bella kini berubah isak. Ia meraih pipi Bella dan menghapus air matanya.
"Kenapa menangis? ada apa dengan mu Bella?" Tanya Brian dengan khawatir.
"Apa aku menyakitimu?" lanjut Brian kala Bella tak menjawab, tak juga menghentikan tangisan nya.
"Bella ayolah jangan membuatku khawatir. Apa kamu merindukan mama kamu? kamu mau pulang?" cecar Brian lagi, namun kali ini Bella menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
"Terus kenapa menangis?"
"Kenapa abang baru menawarkan cinta disaat aku sudah mencapai titik lelah menantikan nya? kenapa abang baru datang saat aku sudah menutup rapat hatiku" Ucap Bella terbata dengan tatapan kecewa pada Brian, ah lebih tepatnya ia kecewa pada dirinya sendiri yang tak berjuang lebih kuat lagi melawan Doni hingga ia harus kehilangan hal berharga dan melewatkan perasaan Brian yang merupakan impian nya.
"Apakah sudah terlambat?" Ucap Brian lirih, ucapan Bella membuat hatinya tercubit.
"Tidak bisakah hatimu dibuka kembali? maafin aku yang terlambat menyadari perasaan ku Bella, aku tau aku payah karena ini pertama kali aku merasakan nya. Tapi tolong jangan tolak aku. Beri aku kesempatan untuk memperbaikinya sayang, aku mencintaimu"
Tangisan Bella semakin kencang mendengar kata-kata manis Brian yang seharusnya amat membahagiakan itu. Tatapan penuh harap Brian mencabik-cabik hatinya lagi.
"Aku juga mencintai mu, tapi aku nggak bisa bersama mu" Jawab Bella dengan begitu berat.
"Tapi kenapa? bukan kah cinta adalah alasan dasar sepasang manusia untuk menjalani sebuah ikatan? kita sudah memilikinya lantas apa masalahnya? please sayang kasih aku kesempatan untuk memiliki kamu. Kita mulai semuanya dari awal" ucap Brian, pandangan nya terlihat begitu menuntut
"Aku nggak bisa ngejelasin nya bang, maaf tapi aku benar-benar nggak bisa menjalani ikatan apapun sama abang." Brian merasa teramat kecewa pada Bella yang seolah mempermainkan hatinya.
"Kamu nggak bisa seenaknya Begini Bella, kamu mendekatiku, membuat aku jatuh cinta dan sekarang saat aku berhasil kamu jerat kamu mencampakkan ku begitu saja! kamu jahat Bella" Brian meraup rambutnya frustasi. Begini kah rasanya ditolak? ternyata begitu sakit. Atau inikah cara Bella untuk balas dendam karena penolakan nya selama ini?
"Aku nggak bermaksud mempermainkan perasaan abang, tapi aku benar-benar nggak bisa bang" Bella tak ingin membuat Brian semakin kecewa karena dirinya yang tak bisa menjaga kehormatan nya, Bella takut Brian akan semakin membenci dirinya jika ia menerima pria itu dalam kondisinya yang sudah ternoda.
Untuk mengatakan pada Brian tentang apa yang menimpanya Bella sedikitpun tak memiliki keberanian itu, Ia saja merasa jijik apalagi Brian. Bella merasa belum siap melihat tatapan jijik dari mata pria yang masih sangat ia cintai.
"Baiklah kalau itu mau kamu Bella, terimakasih sudah mengenalkan ku bagaimana rasanya jatuh cinta dan patah secara bersamaan. Masuk dan istirahatlah" Brian beranjak meninggalkan Bella yang masih tergugu menangisi kenyataan yang menimpanya
"Maafkan aku bang, aku hanya berusaha menyelamatkan abang dari patah hati dan kekecewaan yang lebih dalam." Gumam Bella. Ia menghapus air matanya namun air mata itu kembali menyusuri pipinya, keluar dengan begitu banyak dan tak mau berhenti.
Bella memeluk lututnya, menatap kembali pada kelam nya langit yang seolah menggambarkan kondisi nya kini. Ia terus menangis, meratapi kepedihan yang tengah menderanya. Ia tak bisa memiliki Brian, dan lebih menyakitkan lagi saat ia harus melihat luka dan kekecewaan pada wajah pria itu. Mereka saling mencintai namun mereka tak bisa saling memiliki, adakah yang lebih menyakitkan dari ini semua?
Tak jauh berbeda dengan Brian pria itu masuk ke dalam kamarnya, ia berulang kali memukul tembok. Berharap rasa sakit di hatinya dapat dikalahkan oleh luka di tangan nya. Namun ia seperti mati rasa, luka yang mengeluarkan darah di tangan nya sama sekali tak terasa. Dada nya masih terasa sesak akan penolakan Bella padanya.
"Kenapa hukuman ku begitu berat atas keterlambatan lu menyadari kesalahan ku?"
"Rasanya sakit sekali", gerutu Brian sembari meremas dadanya.
🍁🍁🍁