
"Kamu kenapa seperti itu sama om Doni, niatnya baik dan kamu selalu saja menyalah artikan kebaikan nya" Ucap Elza saat Doni dan Brian sudah pergi untuk bicara.
"Terserah, di mata mama memang om Doni tu malaikat tanpa cela. Meski kenyataan nya dia lebih dari iblis" Elza akan menampar Bella namun Bianca segera menarik Bella ke dalam pelukan nya. Alex begitu geram melihat apa yang terjadi di depan nya.
"Tolong jangan berbuat kekerasan di sini tante, jangan merusak momen bahagia Bella dengan keributan" Ucap Alex masih berusaha sopan. Elza mendengus kesal.
"Entah apa yang ada dalam otak kamu hingga bisa berfikir sepicik itu tentang om Doni" ucap Elza geram. Ia lantas meninggalkan Bella yang masih berada dalam pelukan Bianca.
"Yang sabar ya Bell, mudah-mudahan mama kamu akan cepat disadarkan" Bisik Bianca sambil mengusap punggung Bella yang bergetar.
Sementara itu Doni dan Brian sudah berada di halaman belakang kantor pencatatan pernikahan.
"Jadi apa yang mau anda katakan" Brian sama sekali tak bermanis muka pada Doni. Ia berusaha menahan diri agar tidak memukul pria bejat itu. Doni malah tersenyum sinis.
"Dari caramu bersikap padaku, aku yakin kamu sudah mengetahui apa yang sudah terjadi antara aku dan Bella. Selamat menikmati bekas ku" Sungguh Brian tak tahan lagi, sebuah pukulan ia daratkan di pipi Doni. Beruntung tak ada siapapun di sana hingga Brian bisa melampiaskan kekesalan nya.
"Aku tidak habis fikir ada manusia sebejat dirimu! Merenggut kesucian seorang gadis yang merupakan putri dari kekasihmu! Neraka tempat mu bajingan!" Brian kembali menghantam perut Doni dengan tinjunya. Doni ingin membalas namun Brian sama sekali tak memberikan kesempatan bagi pria itu untuk melawan.
"Salah sendiri gadis murahan itu selalu bersikap sinis padaku, kesombongan nya membuat ku ingin memberikan pelajaran padanya. Oh ya tanyakan pada istrimu itu, aku yakin dia sangat menikmati servis yang kuberikan padanya" Tawa Doni menggelegar. Emosi Brian kembali terpancing namun pekikan dari mama Bella saat melihat Doni sudah tak berdaya menghentikan Brian. Tawa Doni seketika berhenti, ia mengubah raut wajahnya menjadi sedih.
"Sayang lihatlah, ternyata Bella sudah meracuni otaknya hingga dia ikut-ikutan membenci ku" Ucap Doni yang membuat Brian semakin muak.
"Kenapa? apa salah nya. Kalian keterlaluan" Elza berdiri menantang pada Brian dengan penuh kemarahan.
"Tanyakan pada bajingan ini kenapa aku memukulinya" ucap Brian yang membuat emosi Elza semakin tersulut. Wanita itu mengangkat tangan nya bersiap untuk menampar Brian.
"Jangan pukul suamiku!" Pekik Bella, ia segera berlari melindungi sang suami dari serangan mama nya. Sebelumnya Bella, Bianca dan Alex mendengar pekikan Elza hingga mereka menyusul ke belakang.
"Dia keterlaluan, dia memukuli om Doni tanpa sebab" Ucap Elza geram.
"Bang Brian nggak mungkin memukulinya kalau dia tidak keterlaluan ma"
Elza akan menyela namun sebuah suara rekaman dari ponsel Brian membuat mata wanita itu membulat penuh. Ia memandang ke arah Brian dan Doni bergantian, ia bisa melihat wajah Doni yang memucat. Tubuhnya terasa kaku, ia merasa seperti tergulung badai yang begitu dahsyat.
Bella terlihat tak kalah terkejut dengan apa yang Doni ucapkan pada suaminya begitupun dengan Bianca dan Alex.
"Itulah alasan nya kenapa aku memukuli suami mu" Ucap Brian. Setelah itu ia menarik Bella untuk segera pergi dari tempat itu.
🍁🍁🍁
Bella menunggu dengan gelisah sang suami yang sedang membersihkan dirinya di kamar mandi, ia sudah lebih dulu mandi atas permintaan suaminya. Sejak tadi ia dan Brian belum berbicara membahas apa yang Doni ucapkan pada suaminya.
Ada ketakutan yang menyeruak di benak Bella, ia takut Brian akan terpengaruh pada ucapan Doni yang mengatakan bahwa ia menikmati apa yang Doni lakukan padanya. Ia takut Brian akan melabelinya sebagai wanita murahan.
Ah rasanya ingin pergi sejauh mungkin, ia tak sanggup menghadapi Brian saat ini. Bella hampir saja menangis, namun ia menahan dirinya saat mendengar pintu kamar mandi yang terbuka, menampilkan sosok Brian yang hanya berbalut handuk. Ini bukan pertama kali Bella melihat tubuh indah Brian, karena dulu ia sering mengintip Brian sedang berenang saat ia di kamar Bianca, namun ia masih saja terpesona pada pahatan tubuh Brian yang begitu sempurna.
"Terpesona hum?" Brian meraih dagu Bella dan mendaratkan kecupan di sana. Bella kesulitan bernafas mendapat perlakuan tiba-tiba Brian padanya.
"Kenapa harus memakai baju? nanti juga akan dilepas lagi" goda Brian yang membuat pendaran merah jambu di wajah Bella.
Ah iya karena terlalu khawatir memikirkan ucapan Doni Bella baru menyadari ini malam pengantin mereka, tapi sanggupkah ia mengingat ia selalu ketakutan tiap Brian menyentuhnya terlalu dalam. Ia takut membuat Brian kecewa malam ini karena ketidak sanggupan nya.
"Tadi ucapan Doni..." Bella harus membahas ini, ia tak mau kalau Brian beranggapan bahwa ia menikmati apa yang Doni lakukan padanya.
"Iya?" Brian menatap Bella kala sang istri terdiam tak melanjutkan kata-katanya.
"Dia berbohong, aku sama sekali tidak menikmati apa yang dia lakukan, aku tidak bisa merasakan apapun selain jijik dan ingin muntah. Beruntung malam itu aku pingsan hingga aku tak harus melihat dan merasakan semua yang dia lakukan padaku, ah seharusnya aku mati saja malam itu" Jelas sekali kilatan emosi bercampur luka dan ekspresi jijik saat Bella berusaha menjelaskan peristiwa malam itu.
"Sayang jangan berfikir seperti itu, aku bagaimana kalau kamu mati?" Brian menarik Bella ke dalam pelukan nya.
"Percayalah padaku, aku tidak menikmati apa yang Doni, aku jijik bang!" Bella mulai terisak.
"Aku percaya padamu, aku sama sekali tak terpengaruh pada ucapan bajingan itu. Tenanglah sayang" Bella begitu lega mendengar ucapan suaminya.
Ia melepaskan diri dari dekapan Brian lalu menatap wajah suaminya.
"Terimakasih sudah percaya padaku"
"Aku tidak mungkin lebih mempercayai orang lain daripada istriku sendiri sayang" Bella begitu bahagia ternyata keberuntungan masih berpihak padanya.
"Abang kenapa bisa kefikiran untuk merekam ucapan Doni?"
"Aku sudah menduga dia akan mengatakan hal itu untuk memancing kemarahan ku mungkin harapan nya aku berubah membencimu. Jadi aku menyiapkan ponselku ke dalam mode rekam, hal itu bisa kita gunakan untuk menyadarkan mama mu tentang kebusukan pria itu agar ia tak menyalahkan mu terus menerus" Bella memeluk Brian.
"Terimakasih sayang, aku mencintaimu" Bisik Bella penuh haru.
"Aku juga mencintaimu." Brian meraih wajah Bella dan menatap wajahnya dengan penuh arti.
"Jadi kita bisa memulai ritual malam pengantin kita?"
🍁🍁🍁
huh!
Jangan kecewa dulu ya guys.
Nanti malam aku kasih 1 part lagi...
Mungkin tentang malam pertama mereka
😂😂😂