
Bianca yang tampak sedang melamun tak menyadari Alex yang masuk ke dalam kamarnya setelah berbicara dengan Brian. Gadis itu tampak memeluk lututnya. Alex merasa tercubit melihat kesedihan di wajah Bianca yang tak juga surut. Ia melangkah cepat dan segera meraih tubuh Bianca ke dalam pelukan nya.
"Abang belum pulang?" Mata yang sebelumnya tampak redup kini sedikit menunjukkan sinar nya. Alex melepaskan pelukan nya dan meraih wajah Bianca, ia menyatukan bibir mereka, lalu menyesap nya dengan penuh perasaan.
Alex menyatukan kening keduanya kala ia melepaskan ciuman nya. Tangan pria itu masih menangkup pipi Bianca yang terlihat sedikit pucat.
"Abang sudah bilang jangan bersedih sayang" Bisik pria itu dan kembali mendaratkan kecupan di bibir Bianca yang masih terlihat basah akibat ulahnya.
"Bang Brian nggak ngusir abang?" Tanya Bianca lirih, Alex menggeleng sembari tersenyum.
"Abang baru saja bicara pada Brian, dan Bian mau tau apa keputusan nya?" Alex menatap Bianca, gadis itu terlihat menunggu Alex melanjutkan kata-katanya dengan jantung yang berdetak tak menentu. Ada harapan dan ketakutan yang sama besar terpancar di mata nya.
Bianca menunggu dengan gelisah karena Alex tak kunjung berucap, namun ia juga tak berani untuk bertanya, ia takut keputusan Brian masih sama. Rasanya Bian sudah tidak sanggup untuk bersabar lagi. Raut wajah Alex begitu sulit ditebak hingga ia tak bisa menafsirkan apa yang menjadi keputusan Brian.
"Brian memberikan restunya pada kita sayang" Alex tersenyum lebar, sementara Bianca ternganga tak percaya. Air matanya berhamburan keluar dengan begitu banyak, ia tak mampu mengekspresikan perasaan nya hingga ia hanya bisa terpaku.
"Abang sudah bilang kan sama Bian kalo semuanya akan baik-baik saja. Brian hanya sedang emosi dan sekarang saat lebih tenang ia menyetujui hubungan kita sayang, please berhentilah bersedih" Alex mengusap air mata yang menyusuri pipi Bianca yang mengalir deras. Namun ada senyuman di balik tangisan nya.
"Bi-Bian terlalu bahagia, Bian nggak bisa berhenti nangis" ucap gadis itu sambil tersedu.
"Baiklah sayang abang mengerti, tidak apa-apa asal kan ini adalah air mata kebahagiaan abang mengizinkan nya" Ucap Alex sambil terkekeh, ia kembali memeluk Bianca dengan erat, beberapa kali menghujamkan ciuman pada puncak kepala gadis itu.
Setelah tangisan Bianca mereda, Alex melepaskan pelukan nya. Memandangi wajah Bianca dengan bahagia. Pria itu tak menyangka gadis kecil yang ia temui saat Bianca masih berseragam putih biru ini tengah mengandung anak nya dan akan segera menjadi istrinya.
"Akhirnya kita akan segera menikah Bi" Ucap Alex, Bianca mengangguk dengan malu-malu. Tiba-tiba Alex merubah posisinya hingga kepalanya kini berada di perut Bianca.
"Hai sayang nya papa, sebentar lagi kita akan selalu bersama. Jangan nakal selama papa tak bisa menemani mama ya. Jadi anak yang baik" Alex mengecupi perut Bianca berkali-kali, sambil mengulas senyuman Bianca mengusap rambut pria itu. Ia merasa menjadi orang yang paling bahagia saat ini.
"Bi, abang akan meminta mama dan papa untuk segera pulang lalu meminta restu mereka. Sebelum menikah abang nggak bisa nemenin Bian tidur. Nggak apa-apa?" Ucap Alex penuh kelembutan.
"Kenapa?" Tanya Bianca sendu.
"Brian nggak ngebolehin selama kita belum menikah Bi, kita turuti saja ya? daripada nanti Brian menarik kembali restunya" Alex begitu sabar memberikan pengertian nya pada gadis itu.
"Iya bang, tapi abang nggak akan ninggalin Bian kan?" Tanya Bianca.
🍁🍁🍁
"Ngapain ke sini?" tanya Brian ketus saat melihat kedatangan Bella. Gadis itu memasang senyum manisnya seperti biasa, tak terpengaruh pada sikap dingin Brian padanya.
"Eh abang ngagetin aja" ucap Bella saat menyadari keberadaan Brian yang tiba-tiba. Brian mendelik sinis.
"Bian bilang dia uda pulang dari rumah sakit, makanya aku ke sini" ucap nya berusaha bersikap sesantai mungkin padahal jantungnya sejak melihat Brian seperti akan meloncat keluar. Tentu saja bayangan indah tadi malam selalu berputar diingatan nya, kejadian yang bahkan membuatnya tak berminat untuk melakukan apapun. Sepanjang malam ia tak bisa memejamkan matanya, saat di kampus pun sama. Raganya memang berada di dalam kelas namun fikiran nya melanglang buana pada kejadian di mobil saat mereka terjebak pohon tumbang, kejadian itu seperti sebuah film yang tak bisa berhenti berputar di benak nya.
Tak jauh berbeda dengan Bella, saat gadis itu menjawab pertanyaan nya Brian malah menatap pada bibir Bella. Pria itu sama sekali tak fokus pada apa yang gadis itu ucapkan.
'Ah aku pasti sudah gila' Umpat Brian di dalam hati kala fikiran kotor mulai mempengaruhinya. Ia segera berlalu tanpa mengatakan apapun lagi pada Bella, ia takut tak bisa menahan diri dan kembali menyesap bibir Bella yang terlihat bagaikan magnet yang menarik nya untuk kembali merasakan rasa lembut dan manis bibir cerewet itu.
"Bang, Bianca nya ada di kamar kan?" tanya Bella setengah berteriak, ia sedikit heran pada tingkah Brian yang langsung pergi dengan ekspresi wajahnya yang begitu sulit di artikan.
"Ada" jawab Brian tanpa menoleh pada Bella yang masih menatap nya dengan begitu terpana.
Setelah Brian tak lagi nampak Bella berbalik dan melangkah menuju kamar sahabatnya.
"Hai Bi, gimana uda sehat?" Bella menghampiri Bianca yang tengah terbaring.
"Iya udah sehat" Bian tampak tersenyum, binar kebahagiaan tak bisa Bianca tutupi dan itu jelas tertangkap oleh mata Bella.
"Kamu cerah banget, lagi bahagia nih ceritanya" Bella ikut merebahkan tubuhnya di samping Bianca, ia menatap pada langit-langit kamar.
"Bang Brian sudah merestui aku dan bang Alex untuk menikah Bell" Bella menoleh cepat pada Bianca, Bella tampak tersenyum lebar dengan mata membulat.
"Beneran Bi? oh syukurlah" ucapnya ikut merasakan kebahagiaan sahabatnya itu.
"Iya Bell, aku bahagia banget. Aku dan bang Alex akan segera menikah. Aku nggak nyangka pria yang aku cintai secara diam-diam selama ini akan segera menjadi suamiku" ucap Bianca. Keduanya berpelukan sembari tertawa bahagia.
"Aku ikut bahagia Bi. Aku emang uda yakin bang Brian nggak mungkin tega misahin kalian. Dia nggak akan sejahat itu" ucap Bella dengan tatapan menerawang serta senyuman yang tak surut. Ia malah kembali terkenang saat Brian mengambil ciuman pertamanya.
🍁🍁🍁