My Brother'S Friend Is My Partner

My Brother'S Friend Is My Partner
Chapter 53



Bianca menatap sedih pada Alex yang beranjak keluar dari kamar nya. Ia kini sudah berada di rumahnya lagi, dokter sudah mengizinkan pulang karena memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kondisinya. Dokter hanya mengingatkan Bianca untuk menjaga emosinya agar tidak berpengaruh buruk pada kandungan nya.


Jika bisa memilih Bianca lebih baik berada di rumah sakit agar bisa terus bersama Alex, tapi pria itu terus meyakinkan gadis itu bahwa semua akan baik-baik saja.


"Kita tidak bisa terus-terusan seperti ini Bi, kita butuh kejelasan. Bayi kita butuh status" Ucap Alex sebelum nya. Ia dan Bian memang bisa bersama saat di rumah sakit, namun mereka belum bisa tenang sepenuhnya karena Brian belum memberi keputusan apapun pada mereka. Berlama-lama di rumah sakit hanya karena ingin terus bersama cuma mengulur waktu sia-sia. Meski berat Bian tak punya pilihan selain menurut dan berharap Alex bisa segera meluluhkan hati abang nya.


Sementara itu Brian dan Alex masih saling terdiam. Kesunyian menyelimuti keduanya yang sekarang tengah duduk di ruang keluarga. Alex menunggu Brian untuk mengeluarkan suara.


"Jadi gimana Yan" Alex akhirnya berinisiati membuka pembicaraan karena tak tahan lagi pada kebisuan sahabatnya itu. Namun Brian masih dengan mode diamnya seolah tak mendengar kan ucapan Alex.


"Yan..." Panggil Alex dengan sedikit frustasi, ia tak ingin kembali mendapat penolakan dari pria itu. Ia tak bisa harus kembali dipisahkan dengan Bianca yang sangat membutuhkan dirinya.


"Lu harus selesaikan dulu hubungan lu sama Salsa Lex, gue nggak mau adek gue dibayang-bayangi oleh masa lalu lu" Ucap Brian akhirnya.


"Hubungan gue sama Salsa uda gue selesaikan sebelum gue ngomong sama lu untuk menikahi Bianca Yan" Brian menatap pada Alex ingin memastikan apakah Alex jujur dengan ucapan nya.


"Gue serius Yan, hubungan gue dan Salsa uda berakhir. Ternyata selama ini dia selingkuh" Ucap Alex.


"Jadi hubungan lu sama Salsa berakhir karena Salsa selingkuh?" Tanya Brian sinis.


"Nggak bukan gitu, sebelum gue tau Salsa selingkuh gue udah ingin mengakhirinya. Tapi emang kebetulan momen nya bertepatan dengan Salsa selingkuh. Maksud gue lu nggak usah khawatir mengenai Salsa karena dia juga ambil peran dalam berakhirnya hubungan gue sama dia, jadi gue yakin dia nggak akan berani ganggu hidup gue dan Bian nantinya" ah hampir saja ia melakukan kesalahan. Alex merutuki dirinya sendiri.


"Tapi gimana sama mama dan papa? Setau mereka lu pacaran sama Salsa dan nyokap uda deket banget sama dia. Gue takut nyokap nolak Bian"


"Lu tau mama gimana Yan, mama nggak mungkin nolak Bian. Selama ini juga mama deket dan sayang sama Bian" timpal Alex cepat. Ya hubungan mereka memang sudah sedekat itu, orang tua Alex bahkan memperlakukan Brian seperti mereka memperlakukan Alex, Bian juga sudah beberapa kali ikut Brian main ke rumah dan bertemu orang tua pria itu.


"Kondisinya kan beda, selama ini mama dekat sama Bian karena mama uda anggap kita berdua seperti anak nya sendiri, tapi untuk menantu gue ragu. Gue nggak tau apa mama akan cocok dengan Bianca yang manja" Alex menghela nafas, ternyata begitu berat meyakinkan sahabat nya ini.


"Itu sesuatu yang sama sekali nggak perlu lu khawatirkan sebenar nya Yan, dan gue yakin lu tau itu. Atau lu emang sengaja cari-cari alasan buat nolak gue lagi" Alex mulai sewot.


"Eh jaga sikap lu ya, gue ini calon kakak ipar lu" Ucap Brian sedikit membentak sambil menatap tajam pada Alex. Sontak Alex membulatkan matanya menatap pada Brian.


"Gue nggak salah denger kan? lu nerima gue Yan?" Ucap Alex bersemangat, tubuhnya bergetar karena luapan kelegaan bercampur rasa bahagia memenuhi hati nya.


"Terserah mau ikhlas kek mau terpaksa bodoh amat yang penting lu kasih gue restu buat nikahin Bian" Saking senang nya Alex mendaratkan ciuman bertubi-tubi pada Brian yang membuat pria itu berteriak.


Brian mendorong tubuh Alex dengan kuat, lalu menghapus bekas ciuman Alex di wajahnya dengan kesal.


"Jijik banget tau nggak lu!" Bentak Brian, sementara Alex terkekeh.


"Itu tanda terimakasih gue buat lu Yan" Alex lega, Ia tidak hanya mendapatkan restu Brian namun kebekuan diantara mereka berdua mulai kembali mencair.


"Eh lu mau ke mana?" Ucap Brian saat melihat Alex beranjak dan berjalan menuju kamar Bianca.


"Ke kamar Bian" Jawab Alex polos tanpa rasa berdosa.


"Eh enak aja, nggak boleh! lu harus nikahin adik gue dulu baru boleh ke kamar nya" Bentak Brian.


"Gue nggak akan ngapa-ngapain Yan, gue cuma mau kasih tau kabar baik ini ke dia biar dia tenang." Ucap Alex dengan sedikit salah tingkah.


"Oke gue izinin, tapi awas lu macam-macamin adik gue lagi, dan lu pegang janji lu buat bahagiain Bian, jangan pernah nyakitin dia" Tegas Brian


"Lu percaya sama gue Yan, lu tau gimana sayang nya gue ke dia selama ini" Ucap Alex dengan tulus.


"Kapan lu kasih tau mama dan papa" Sepertinya Brian belum selesai pada pembicaraan nya, jadi Alex memutuskan untuk kembali duduk dan menunda niat nya untuk menemui Bianca meski ia sudah tidak sabar memberi tau kabar bahagia ini pada gadis itu.


"Secepatnya gue akan minta mama papa untuk pulang dan gue akan bawa Bian ketemu mereka. Supaya pernikahan ini bisa segera dilaksanakan." Brian mengangguk tanda mengerti.


"Ya udah semoga semua nya berjalan tanpa hambatan" ucap Brian, yah pada akhirnya ia harus membunuh egonya demi Bianca dan bayi yang tengah dikandung oleh sang adik. Ada banyak hal yang harus dikorbankan jika ia bertahan dengan egonya, kebahagiaan Bianca, bayi mereka dan tentu saja persahabatan yang telah ia dan Alex jalin selama 7 tahun lamanya akan hancur begitu saja. Rasanya tak ada keuntungan apapun andai ia memenangkan egonya selain kepuasan untuk dirinya sendiri.


"Jangan menutup mata dari semua kebaikan Alex selama ini bang, dia gentle mengakui kesalahan nya dan yang paling penting dia mau bertanggung jawab. Di zaman sekarang orang kayak Alex itu langka, kebanyakan cowok sekarang cuma mau enak nya. Abis itu ceweknya ditinggalin gitu aja kayak sampah." Ucapan Bella tempo hari cukup mempengaruhi fikiran nya. Lalu wajah Bella tiba-tiba terlintas saat ia mengingat ucapan gadis itu, dan tentu saja kejadian tadi malam saat mereka terjebak di mobil memenuhi benak nya.


Tubuh Brian memanas seketika kala mengingat pergumulan yang mereka lakukan tadi malam. Kejadian yang sepanjang waktu ini terus menghantuinya. Rasa bibir Bella masih begitu lekat diingatan nya.


🍁🍁🍁🍁