My Brother'S Friend Is My Partner

My Brother'S Friend Is My Partner
Chapter 62



Brian menunggu dengan gelisah, chat sudah ia kirimkan bahkan sudah terbaca dari satu jam yang lalu namun tak ada tanda-tanda Bella akan membalas chat darinya.


"Jadi benar kamu sudah menyerah" Gumam Brian dengan mata yang tak lepas menatap ponsel miliknya.


Brian mencebik sinis. "Wanita memang merepotkan" Pria itu memutuskan untuk mengantongi ponselnya lalu kembali fokus dengan pekerjaan. Urusan gadis berisik itu harus ia enyahkan sementara waktu dari fikiran nya.


"Ah nyaman sekali bekerja tanpa harus menghadapi gadis menyebalkan itu" Brian berusaha mendoktrin otaknya bahwa selama 5 hari ke belakang tanpa gangguan dari Bella adalah hari-hari terbaik yang menenangkan.


"Dia kira dia siapa, seenaknya saja mengabaikan pesan dari ku, padahal aku sudah sangat merendahkan diriku dengan menghubunginya lebih dulu." nyatanya gerutuan tak lepas dari bibir pria itu sepanjang ia menyelesaikan pekerjaan nya.


🍁🍁🍁


Bella melangkah keluar kamar dengan malas kala sang mama memanggilnya untuk makan malam. Ia masih ingin berdiam diri di kamar namun karena tak ingin membuat sang mama semakin khawatir ia memaksakan diri untuk keluar menuruti permintaan mama nya


Selama ini Bella begitu membenci sepi. Ia tidak suka sendirian, namun sejak 5 hari yang lalu ia begitu nyaman berteman dengan kesunyian. Ia jadi betah berlama-lama menyendiri.


Langkahnya terhenti, matanya membulat kala mendapati pria yang telah menghancurkan dirinya berada di meja makan dan menyeringai ke arahnya. Tubuhnya bergetar, mendadak merasa ngilu dan terasa kehilangan daya nya untuk berdiri.


Bayangan malam kelam itu melintas hingga membuat tubuhnya semakin menggigil.


"Bella kamu kenapa sayang?" Sang mama yang mendapati Bella membeku dengan tatapan ketakutan itu tampak khawatir. Ia melihat wajah Bella begitu pucat.


"Kenapa dia ada di sini ma?" Bella menunjuk pada pria yang tengah menatap ke arah dirinya ada kemarahan dan ketakutan secara bersamaan pada suara gadis itu. Sang mama menghela nafas nya dengan sedikit berat. Sudah setengah tahun ia berusaha meluluhkan hati putrinya agar mau menerima Doni menggantikan sang papa yang sudah tiada sejak 3 tahun yang lalu, namun respon Bella selalu sama. Gadis itu selalu menunjukkan penolakan nya.


"Bella mama mohon bersikaplah yang sopan pada om Doni, kamu nggak boleh bersikap seperti ini" Elza mama Bella menatap dengan tak enak hati pada Doni, pria yang telah menjalin kasih dengan nya selama 1 tahun ini.


Awalnya Elza tak berniat menikah lagi setelah kematian suaminya, namun ia tak bisa menolak kala hatinya terpaut pada kebaikan dan kesabaran Doni, setelah 6 bulan menjalin kasih ia mulai mengenalkan pria itu pada Bella. Namun sayang sang putri masih menutup hatinya dengan rapat hingga kini.


Bella menghela nafasnya untuk menghilangkan gemuruh di dadanya. Ia tak boleh bertindak gegabah atau semua akan semakin hancur.


"Bella ke kamar" Bella berusaha menguatkan dirinya, ia tak boleh lemah berhadapan dengan pria bejat yang telah merebut mimpi-mimpi indah yang ia miliki.


"Bella! duduk ke kursi kamu!" Teriakan sang mama tak Bella gubris, ia terus melangkah meninggalkan ruang makan.


Sesampainya di kamar Bella mengunci pintunya, ia menyandarkan tubuhnya pada pintu tersebut namun sesaat kemudian tubuhnya merosot ke lantai bersama dengan deraian air mata nya yang jatuh begitu banyak.


Sejak awal Bella tak menyukai pria itu, pria yang sang mama kenalkan padanya. Dari tatapan nya Bella bisa merasakan bahwa Doni bukan pria baik-baik. Ia tak suka cara pria itu menatap nya, terlihat licik dan mesum.


"Bella nggak setuju mama menikah dengan nya, Bella tau mama butuh pendamping setelah papa meninggal, Bella tak akan melarang. Tapi cari laki-laki lain saja ma." ucap Bella saat Elza mengutarakan niat nya untuk menikah lagi dengan Doni. Pria itu adalah rekan kerja sang mama di kantor.


"Om Doni itu sangat baik nak, dia mau menerima mama apa adanya. Dia juga berjanji akan menjadi papa yang baik untukmu" Elza meyakinkan Bella namun Bella tetap menolak hingga terjadi perdebatan diantara mereka. Dan hari itu adalah pertengkaran pertama Bella dengan sang mama sepanjang hidup nya. Pertengkaran itu akan berulang tiap kali Elza mencoba merayu Bella untuk merestui nya bersama dengan Doni.


Hingga kini setelah 6 bulan sudah berlalu keputusan Bella tetap sama, tak mau menerima Doni sebagai pendamping sang mama.


5 hari yang lalu,


Sepulang kuliah Bella mendapati rumahnya kosong, Namun ia tak heran karena asisten rumah tangganya memang sedang pulang kampung, dan Elza sedang pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Bella sama sekali tak pernah berfikir bahwa hari itu adalah hari di mana ia akan kehilangan semua harapan nya.


Bella dengan malas membuka pintu saat bel berbunyi, terlebih saat mendapati wajah Doni di balik pintu.


"Ada apa om? om tau kan mama sedang tidak di rumah" ucap Bella datar seperti biasanya. Sebuah senyum tersungging di bibir pria itu, senyuman yang tak pernah Bella sukai.


"Mama kamu meminta om menemani kamu" Pria itu bahkan masuk begitu saja meski Bella belum mempersilahkan nya.


"Aku berani sendiri om, tidak perlu repot-repot menemani"


"Bahaya bagi seorang gadis tinggal sendirian Bella. Biarkan om menemani kamu" ucap pria itu. Sungguh Bella merasa sangat tidak nyaman hanya tinggal berdua dengan Doni, pria yang sejak awal begitu tidak ia sukai.


"Kalau begitu aku akan menginap di rumah Bianca saja om"


'Lebih baik merendahkan diri di hadapan Brian dari pada harus seatap dengan pria mesum ini" Fikir Bella.


Bella berjalan menuju kamarnya, bermaksud untuk mengambil tas dan ponsel nya. Ia sama sekali tak menyangka bahwa Doni mengikutinya.


Gadis itu begitu terkejut kala mendapati Doni telah berada di dalam kamar nya dan mengunci pintu.


"Om mau apa ke sini" Tubuh Bella bergetar kala mendapati kilatan aneh pada mata pria itu, seringaian Doni membuat Bella semakin diselimuti ketakutan.


Bella mundur beberapa langkah kala Doni mendekat ke arahnya.


"Om jangan macam-macam. Keluar om dari sini" Teriak Bella dengan begitu gugup.


"Tidak akan, aku sudah lama menantikan momen ini gadis kecil" Pria itu terbahak hingga membuat Bella semakin bergidik.


"Apa maksud om" Bella tak bisa menyembunyikan ketakutan nya, rasanya ia ingin menangis sekarang.


"Kamu tau apa yang om maksud" Doni memainkan alisnya, menatap penuh arti pada Bella yang semakin pucat.


"Jangan macam-macam om, atau aku akan memberitahu mama tentang kelakuan mu ini" Bella membuka ponselnya, ia ingin menelfon Brian namun Doni berhasil merebut ponselnya dan melemparnya ke sembarang arah.


Ia segera menangkap tubuh Bella yang hendak meraih ponsel miliknya.


"Mama mu sangat mencintaiku, dia tidak akan pernah mempercayaimu. Ia hanya akan menganggap bahwa itu akal-akalan mu untuk menghalangi pernikahan kami" Ucapan Doni terdengar begitu menusuk hatinya. Otak nya diam-diam membenarkan ucapan pria itu.


🍁🍁🍁