My Brother'S Friend Is My Partner

My Brother'S Friend Is My Partner
Chapter 46



Pagi-pagi seperti biasa tidur Bianca harus terganggu karena rasa mual yang tiba-tiba ia rasakan. Semenjak mengetahui kehamilan nya mual itu selalu saja datang.


Bian masuk ke dalam kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Kali ini Bianca tak bisa menahan tangisan nya, karena ia butuh Alex saat seperti ini, memeluk Alex dan mencium aroma tubuhnya adalah obat yang bisa meredakan rasa tidak nyaman yang ia alami. Juga bisa mengalirkan kehangatan dan ketenangan baginya.


Bianca terus muntah dengan air mata yang terus menetes. Ia tak beranjak dari tempatnya meski mual nya telah mereda. Ia tersedu, ia sangat merindukan pria itu.


Setelah cukup lama, Bianca kembali menuju kamarnya tidak hanya membawa tubuh yang lemas namun juga hati yang hancur.


Bianca meraih ponselnya yang berbunyi, kehangatan seketika mengaliri hatinya kala melihat nama Alex yang tertera. Ia menyeka air matanya sebelum mengangkat telfon itu.


"Selamat pagi istri" Sapa Alex dengan senyum lebar nya. Melihat wajah Alex malah membuat Bianca kembali ingin menangis, karena tak sanggup lagi menahan akhirnya tangis gadis itu pecah.


"Sayang kamu kenapa hem?" Alex nampak begitu panik di seberang sana.


"Bi-Bian kang-ngen ab-bang" Suara Bian terdengar putus-putus karena isakan nya.


"Iya sayang, abang juga kangen Bian. Nanti kita segera ketemu, abang janji akan segera sembuh dan menemui kamu. Please jangan menangis, abang tidak tenang jadinya bi" Bujuk Alex dengan begitu lembut.


"Bian abis muntah, Bian mau peluk abang mau cium wangi tubuh abang biar mual nya hilang" adu Bianca dengan tersedu-sedu. sudah Alex duga gadisnya akan muntah kembali, karena nya pagi ini ia menghubungi gadis itu. Hatinya teramat sedih karena tak ada di samping Bian saat gadis itu membutuhkan nya, apalagi mengingat kemarin Bianca begitu lemas setelah muntah-muntah begitu parah.


"Sabar ya, maafin abang karena nggak ada di sana saat Bian butuh abang. Nanti kamu boleh hukum abang karena kesalahan abang ini ya" Bujuk Alex.


"Bang Brian jahat, tega banget ngelakuin ini sama Bian. Dia nggak tau apa ibu hamil itu butuh didampingi" gerutunya sembari berusaha menghentikan tangisan nya.


"Abang yang salah Bi, siapapun akan marah mengetahui adiknya dirusak oleh sahabat yang sangat ia percayai" ucap Alex sendu.


"Abang menyesal?" tanya Bianca lirih.


"Tidak, abang tidak menyesal. Kalau menyesal sama saja abang menyesali keberadaan bayi kita sayang. Dan abang tak sampai hati untuk melakukan nya" Meski apa yang ia dan Bian lakukan tidak benar namun bayi itu berhak untuk diterima dan disayangi. Karena ia tak tau apa-apa.


"Bian menyesal?" Tanya Alex, dan gadis itu menggeleng.


"Bian bahagia memiliki dia bang. Karena dia adalah bagian dari diri abang, pria yang sangat Bian cintai" ucap Bianca tulus, Alex merasa begitu terharu dan membuat rasa rindunya semakin menggunung. Ia harus segera merebut restu Brian agar dia bisa memiliki Bian seutuh nya.


"Bian uda sarapan? Jangan lupa susu yang abang beli kemarin diminum bi. Supaya bayi kita sehat dan kamu juga kuat" Sudut hati Bianca terasa nyeri saat Alex tak menjawab pernyataan cinta darinya, benarkah yang Brian bilang Alex tidak mencintainya? tapi bukan kah Alex mengatakan bahwa pria itu menginginkan dirinya? perhatian-perhatian nya? apakah semua itu hanya sebatas rasa tanggung jawab karena ia sedang mengandung anak nya?


"Bi kamu ngelamunin apa sayang?" Tanya Alex saat Bianca tak menjawabnya meski sudah memanggilnya beberapa kali.


"Ehem nggak ada bang, Bian sarapan dulu kalo gitu bang. Matiin telfon nya ya?" ucap Bianca saat tersadar dari lamunan nya.


"Iya sayang, sarapan yang banyak ya?" Bianca mengangguk lalu memutuskan panggilan nya.


Hatinya mendadak tak menentu, Bianca membenamkan wajahnya ke bantal dan menangis. Menangisi nasip nya yang tak mendapatkan balasan cinta dari Alex.


Bianca tersentak saat merasakan sebuah tangan yang mengusap pundaknya, ia mengangkat wajahnya. Ia menghapus air matanya saat melihat keberadaan Bella yang membawa sarapan untuknya.


"Semua akan baik-baik saja Bi, bang Brian pasti akan merestui hubungan kalian. Kasih bang Brian waktu untuk berfikir dan mencerna semua ini terlebih dahulu" Lanjut Bella.


"Tapi aku juga ragu Bell, mungkin yang bang Brian bilang ada benarnya. Aku tidak akan bahagia jika memaksakan untuk bersama bang Alex. Karena dia nggak cinta sama aku Bell" Air mata Bianca kembali menetes mengingat apa yang baru saja terjadi.


"Terus gimana dia bisa hadir di sini kalau Alex nggak cinta sama kamu?" Bella meraba perut Bianca.


"Dia juga bilang menginginkan bayi ini dan ibu dari bayi nya kan? apa itu artinya kalau bukan cinta?" Bianca berusaha membenarkan ucapan Bella namun hatinya tetap meragu.


"Tapi bang Alex nggak pernah bilang cinta Bell, bahkan saat aku bilang mencintainya dia nggak balas. Barusan juga seperti itu"


"Cowok kebanyakan emang nggak peka Bi, dan bagi mereka cinta itu tak begitu penting untuk diucapkan. Mereka merasa melalui tindakan saja sudah cukup untuk menyatakan cintanya. Dan berdasarkan cerita kamu tentang bagaimana sikap Alex sama kamu selama ini aku yakin banget kalo Alex tu cinta sama kamu Bi, aku juga bisa lihat dari gimana posesifnya dia ke kamu. Nggak mungkin dia bersikap seperti itu karena menganggap kamu sebagai adik sementara bang Brian aja nggak segitunya ngelarang kamu" Ucap Bella yang membuat Bianca sedikit berbinar. Ia seakan mendapatkan kembali semangatnya.


"Kamu tu uda kayak ahli banget soal percintaan Bell. Pacaran aja belum pernah" Ucap Bianca sambil terkekeh, Bella ikut tertawa mendengar penuturan sahabat nya itu.


"Nggak apa-apa ahli dalam teorinya dulu, biar nanti kalau uda praktek nggak terlalu cupu" Ucap Bella lalu keduanya tertawa. Bella lega melihat Bianca tak terlalu bersedih lagi


"By the way kamu nginap? kok pagi-pagi uda di sini?" Tanya Bianca pada sahabatnya itu.


"Iya aku nginap, semalam mau pulang tapi dilarang sama bang Brian katanya bahaya kalo pulang sendiri malam-malam" Ucap Bella dengan wajah berbinar. Ah baru diperhatikan seperti itu saja sudah membuatnya begitu bahagia, bagaimana kalau Brian menerima cintanya?


"Kamu tidur di kamar bang Brian?"


"Nggak bi, aku disuruh tidur di kamar tamu." Bella mencebik hingga membuat Bianca terbahak.


"Sabar ya, aku yakin pelan-pelan bang Brian akan jatuh cinta sama kamu"


"Bi apa perlu aku goda aja bang Brian nya? kalo aku hamil siapa tau bang Brian lebih cepat nerima cinta aku" Ucap Bella sambil menatap serius pada Bianca.


"Ih otak kamu tu ya, cara aku nggak usah diikutin bahaya" Ucap Bianca gemas dengan pemikiran bodoh sahabatnya.


🍁🍁🍁


Masih semangat mengikuti kisah Alex_Bianca??


Terimakasih untuk readers yang setia mengikuti dan tidak meninggalkan komen yang bikin down 😀😀


Aku tuh baperan orang nya, kemaren nemu satu komen yang sedikit menusuk hati langsung rada ngedown makanya cuma up satu chapter aja. Ah mental tempe banget aku tuh hihihi...


Sekian sedikit curhatan dariku si author receh


Alapiyuuuu selalu untuk kalian semua 🥰😘❤️