
Bianca merasakan perutnya bergejolak, ia segera bangkit dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi. Ia mulai memuntahkan isi perutnya hingga tubuhnya terasa begitu lemas.
Sesaat kemudian ia merasakan pijatan di tengkuknya bersamaan dengan aroma Alex menyapa hidung nya, setelah membasuh mulutnya Bianca langsung berbalik dan memeluk Alex erat. Ia menyesapkan wajahnya ke dada pria itu dan menghirup aroma tubuh Alex sebanyak-banyaknnya.
"Mual banget ya?" Bianca mengangguk, Alex mengusap rambut Bian dengan lembut dan mendaratkan kecupan-kecupan di rambut gadis itu. Ia sangat iba melihat Bianca begini.
"Masih mau muntah?" Bisik Alex lagi. Bianca menggeleng. Karena kondisi Bianca yang begitu lemas Alex menggendong tubuh mungil Bianca dan membawanya ke kamar lalu menidurkan nya dengan hati-hati di atas ranjang.
Ia segera menutupi tubuh Bianca yang masih polos karena percintaan semalam dengan selimut lalu mengusap rambut Bian dengan sayang. Tatapan nya begitu meneduhkan.
"Maaf ya? gara-gara abang kamu harus mengalami kesulitan seperti ini" Ucap pria itu lembut, Bianca hanya tersenyum tipis.
"Tadi abang lagi bikinin sarapan. Abang ambilin dulu ya, kamu harus sarapan dulu"
"Nanti aja boleh? Bian cuma mau dipeluk. Wangi tubuh abang bisa ngilangin mual yang Bian rasain" Gadis itu terlihat malu, namun demi kenyamanan nya Bianca terpaksa harus mengatakan nya.
"Benarkah? ah anak papa benar-benar baik. Dia nggak mau papa dan mama nya berjauhan" Alex dengan bersemangat masuk ke dalam selimut lalu memeluk Bianca. Kehangatan yang Alex berikan benar-benar memberikan kenyamanan yang dalam pada gadis itu.
"Bayi kita menginginkan kita terus bersama sayang, kita harus berjuang sekuat tenaga demi dia" Alex mengusap perut Bianca.
"Tapi abang pasti sedih banget kan gara-gara Bian hamil abang harus mengorbankan cinta abang pada Salsa" Lirih Bianca. Bianca yang terlihat begitu merasa bersalah membuat hati Alex sakit.
"Bi, mungkin kamu akan sulit untuk percaya. Tapi jujur abang sama sekali tidak merasakan itu, abang merasa terlalu bahagia menyadari bahwa buah cinta kita akan segera hadir. Hingga abang sama sekali tidak mempersoalkan tentang hubungan abang dengan Salsa." Hati Bianca berdesir saat Alex menyebut bayi mereka sebagai 'buah cinta'. Benar kah bayi ini buah cinta mereka? bukan kah cinta Bianca adalah cinta sendirian?
"Tapi nggak adil buat Salsa bang" Bianca merasa sedih saat mengingat posisinya yang merebut paksa Alex dari sisi gadis itu
"Yah abang tau itu, abang sudah bersalah padanya. tapi kamu dan bayi kita lebih membutuhkan abang Bi. Abang akan meminta maaf pada nya, pasti ia akan merasa sakit tapi setidaknya Salsa tidak mengalami kerugian apapun dengan berakhirnya hubungan ini" Bukankah hidup ini selalu dihadapkan pada beberapa pilihan? dan hatinya mengatakan bahwa ia harus memilih Bianca dan bayinya.
"Abang sangat menginginkan bayi ini?" Alex tersenyum lalu menciumi wajah Bianca dengan gemas.
"Ini sudah ke sekian puluh kalinya kamu menanyakan ini pada abang bi. Abang sangat, sangat, sangat menginginkan bayi ini" Bianca tersenyum kecut mendengar jawaban Alex. Yah Alex menginginkan anaknya karena itu Alex ingin menikahinya. Memang nya apa lagi? masih berharap ucapan cinta akan keluar dari bibir pria itu?
"Abang menginginkan bayi ini sebesar abang menginginkan ibunya" Bisik Alex lagi setelah menyadari sorot mata Bianca yang menyimpan kekecewaan. Jadi sejak kemarin karena ini Biancanya terlihat ragu menerima keinginan nya?
Mata Bianca membulat penuh mendengar ucapan Alex. Benarkah? bolehkan ungkapan menginginkan itu ia samakan dengan Cinta?
🍁🍁🍁🍁
Alex memutuskan untuk menemui Salsa sebelum menemui Brian. Dirinya harus menyelesaikan semuanya terlebih dahulu agar Brian yakin akan keseriusan nya, ia sudah menghubungi Brian dan mengatakan akan membawa Bianca pulang sore nanti.
"Dan jangan khawatirkan apapun, semua pasti akan baik-baik saja sayang" Lagi-lagi Alex mendaratkan kecupan lalu memeluk erat Bianca.
"Abang berangkat ya" Alex segera meninggalkan Bianca, ia merasa begitu berat berpisah dari gadis ini meski hanya beberapa saat.
Alex berusaha menghubungi Salsa namun sejak tadi pagi Salsa tak merespon nya, chat yang ia kirimkan tak kunjung terbaca, telfon pun tak diangkat. Namun Alex tak ingin menunda permasalahan ini lebih lama, karena nya ia memutuskan untuk menemui Bianca di apartemen nya.
Setelah hampir 30 menit menempuh perjalanan Alex tiba di apartemen Salsa, setelah memarkirkan mobil pria itu langsung menuju unit apartemen Salsa.
Beberapa kali menekan bel namun tak ada respon dari Salsa, Alex akhirnya menekan tombol mengetikkan password. Ia harus mengecek keberadaan gadis itu.
Suasana tampak sepi, sepertinya Salsa sedang tidak ada di sana. Alex bertanya-tanya di dalam hati, biasanya Salsa akan pamit jika akan bepergian.
Alex akan keluar dan berniat untuk meninggalkan apartemen tersebut namun langkahnya terhenti saat samar-samar ia mendengar suara Salsa, gadis itu seperti merintih membuat Alex sedikit khawatir. Ia takut terjadi sesuatu pada Salsa.
Namun rasa khawatir Alex berubah ketegangan kala samar-samar ia juga mendengar suara seorang pria. Otaknya berfikir cepat suara-suara itu seperti suaranya kala ia dan Bianca tengah berbagi hasrat.
Alex melangkah cepat menuju kamar Salsa, semakin mendekati pintu suara percintaan itu semakin terdengar jelas. Jantung Alex berdetak kencang, mungkinkah Salsa?
Alex menegang dengan mata membelalak ketika ia membuka pintu kamar itu apa yang Alex fikirkan sebelumnya benar-benar nyata di depan matanya. Tampak Salsa dan seorang pria tengah meracau dengan tubuh telanj**g yang saling bertautan. Suara leng**an dan er***an keduanya saling bersahutan, tak menyadari sepasang mata yang terus mengamati keduanya.
Alex terus membeku di tempatnya hingga akhirnya Salsa dan pria itu mencapai pelepasan nya.
"Ehemm"
Keduanya yang masih saling berpelukan dengan nafas terengah, menoleh cepat saat mendnegar deheman dari Alex.
Wajah Salsa memucat, ia segera mendorong pria yang masih berada di atas tubuhnya lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polos nya.
"Ba-babe" Panggil Salsa dengan suara bergetar. Pria yang bersama Salsa tampak salah tingkah mendapati keberadaan Alex yang menatap tanpa ekspresi.
"Salsa aku tunggu di ruanh tamu, aku ingin mengatakan sesuatu" Ucap Alex datar. Ia segera berbalik menuju sofa ruang tamu apartemen Salsa.
Perasaan nya kini terasa campur aduk, ia merasa terlalu kaget dan kebingungan untuk mencerna apa yang tengah terjadi. Salsa tidur dengan pria lain? benarkah Salsa mengkhianatinya? haruskah ia marah sementara dirinya juga melakukan hal yang sama?
🍁🍁🍁🍁