
"Kenapa harus terburu-buru menikah sekarang. Bella masih 20 tahun, masih terlalu muda untuk menikah" ucap Elza yang kembali menyulut amarah Bella. Namun karena Brian mengusap tangan nya Bella tak jadi membalas ucapan sang mama.
"Kami tidak ingin terlalu lama membuang waktu dengan berpacaran yang tidak jelas tante. Saya rasa Bella sudah cukup matang untuk menjalankan peran nya sebagai istri. Lagipula saya tidak akan memaksakan atau menuntut sesuatu yang belum mampu Bella jalan kan nantinya" Brian masih berusaha untuk tidak terpancing, meski ia sudah sangat gerah berada di ruangan yang sama dengan seorang bajingan.
"Atau jangan-jangan sudah terjadi sesuatu diantara kalian hingga kalian begitu terburu-buru ingin menikah" ucap Doni sinis.
"Saya bukan pria bajingan yang akan merenggut kesucian seorang gadis tanpa ikatan yang sah" Ucap Brian penuh penekanan. Matanya tajam menatap Doni yang tersenyum pahit.
"Bang Brian bukan pria pengecut yang akan mengambil sesuatu yang bukan hak nya" Ucap Bella dengan begitu menusuk. Ia tak menutupi ekspresi jijik nya melihat wajah Doni.
"Lagipula aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini ma. Dengan menikah aku memiliki seseorang untuk tempatku bersandar, yang akan selalu melindungi ku. Yang mencintaiku dan aku cintai dengan sepenuh hati." Ucap Bella sambil mengalihkan tatapan nya pada Elza.
"Kamu masih punya mama, jangan menyakiti hati mama dengan ucapan kamu yang penuh sindiran Bella. Hanya karena mama menikah dengan om Doni yang tidak kamu sukai tanpa alasan, kamu langsung menganggap tidak ada keberadaan mama" Elza menatap penuh kecewa. Bella tersenyum sinis.
"Ada banyak sekali alasan kenapa aku nggak suka sama dia, tapi mama nggak percaya. Jadi semua percuma. Aku nggak akan ganggu hidup mama dan juga rumah tangga baru mama, aku mohon Mama juga jangan halangi kebahagiaan aku" tegas Bella, Sang mama menghela nafas berat. Ia tak berdaya menghadapai Bella yang menurutnya begitu keras kepala.
"Terserah padamu Bella" ucapnya lirih.
Bella menatap pada Brian yang kini juga menatap padanya.
"Ayo pergi bang, urusan kita uda selesai di sini" ucapnya sendu. Brian menganggukkan kepalanya. Pria itu lalu menatap ke arah Elza.
"Kami pamit tante, mungkin dalam waktu dekat aku dan Bella akan menikah. Kami benar-benar mengharapkan restu dari tante sebagai orang tua Bella"
Keduanya beranjak saat tak ada jawaban apapun yang keluar dari bibir Elza maupun Doni. Bella tak habis fikir pada perubahan sikap sang mama yang kini semakin tak peduli padanya.
Keduanya melangkah keluar meninggalkan Elza dan Doni yang masih betah dengan kebisuan mereka.
🍁🍁🍁
"Sabar ya, suatu saat mama kamu pasti akan menyadari kesalahan nya" Brian mengusap rambut Bella. Ia paham kekecewaan yang tengah memenuhi hati kekasih nya.
"Aku nggak habis fikir aja, mama sama sekali gak peduli sama aku bang. Mama bahkan nikah diam-diam dengan pria brengsek itu meski mama tau aku nggak suka sama pacarnya. Hati mama uda dibutakan sama cinta, sampai akal sehatnya tertutup. Mama bahkan nggak bisa ngerasain penderitaan aku" Bella menghembuskan nafasnya berat.
"Berdoa saja sayang, semoga Tuhan membukakan hati mama kamu. Aku yakin dari hati nya yang paling dalam mama kamu sangat menyayangi kamu, hanya saja sekarang ia sedang tersesat akibat cintanya pada bajingan itu" Ah mengingat Doni betapa Brian sangat ingin mencincang tubuh pria itu.
"Kenapa menatap ku seperti itu? aku tau aku tampan. Tapi tolong jangan menatapku penuh minat seperti itu, tatapan mu itu seolah ingin melahap ku bulat-bulat" Goda Brian yang membuat Bella mengulum senyum nya.
"Yah betapa aku beruntung, entah kebaikan apa yang sudah aku perbuat di masa lalu hingga aku bisa memiliki kamu yang tidak hanya tampan tapi juga begitu baik. Kamu begitu sempurna untuk ku yang sudah tidak utuh" Ucap Bella tulus.
Brian menarik Bella dan memeluknya erat. Pujian yang gadis itu lontarkan membuatnya begitu bahagia, namun ia merasa sedih pada Bella yang terus saja membahas ketidak sempurnaan nya. Semua itu akibat ulah Doni yang begitu tak berperasaan, hingga Bella nya berubah menjadi sosok yang begitu tak percaya diri.
"Jangan terlalu memujiku seperti itu, aku juga tak kalah beruntung memiliki kamu sayang. Aku mohon berhentilah membahas ketidak sempurnaan mu. Karena di mataku kamu tetap sosok yang paling sempurna yang pernah aku temukan. Kamu melengkapi hidup dan kebahagiaan ku" Bisik Brian.
"Abang benar-benar tak jijik padaku?" Entah sudah berapa kali Bella mempertanyakan hal ini.
"Kenapa aku harus jijik padamu? aku mencintaimu!" Ucap Brian gemas.
"Aku sudah disen....." Bella tak sempat menyelesaikan ucapan nya. Brian membungkam bibir Bella dengan kecupan bibirnya.
Bella yang sebelumnya tersentak memejamkan matanya kala bibir Brian mulai bergerak. Memagut dengan lembut dan penuh kasih sayang, sentuhan bibir Brian membuat Bella merasa terhanyut. Ada kehangatan mengaliri setiap sel tubuhnya. Tak berbeda dengan Brian yang selalu merasakan sensasi memabukkan tiap kali menyesap bibir Bella.
Brian merapatkan tubuhnya hingga tak ada lagi jarak antara keduanya, tangan nya mengusap lembut punggung Bella seirama dengan pergerakan bibirnya ******* bibir Bella.
Kecupan yang sebelumnya berlangsung lembut dan perlahan kini berubah sedikit kasar dan menggebu. Keduanya seperti terbakar hasrat yang mulai menggiring keduanya pada percumbuan yang semakin dalam.
Brian hampir kehilangan akal sehat nya, ia mulai menjamah tubuh Bella lebih jauh. Namun Brian menghentikan aksinya saat tiba-tiba Bella mendorong tubuh Brian dengan tubuh yang bergetar. Brian dapat melihat ketakutan yang besar di mata Bella.
Nafas Bella terengah, matanya berkaca-kaca.
Brian dengan hati-hati mengulurkan tangan nya ingin meraih wajah Bella, mulanya gadis itu akan menjauh namun bisikan lembut Brian membuatnya perlahan lebih tenang.
"Tidak apa-apa sayang, ini aku kekasihmu. Aku tidak akan menyakitimu. Jangan takut" Bisik Brian. Masih ada jejak ketakutan di mata Bella. Dari reaksi tubuh Bella seperti ini yang sudah dua kali terjadi, Brian dapat menyimpulkan rasa trauma Bella masih menghantuinya. Ini membuktikan bahwa perbuatan Doni benar-benar melukai Bella begitu dalam. Tidak hanya fisik namun juga jiwanya.
"Aku begitu menjijikkan bang" Keluh Bella dengan air mata yang mengalir deras. Ia begitu takut membayangkan wajah kecewa Brian padanya.
"Kata siapa? aku mencintaimu Bella. Aku tidak mungkin merasa jijik padamu. Aku justeru begitu memuja setiap jengkal tubuhmu" Bisik Brian sambil menatap penuh ketulusan pada kekasihnya.
🍁🍁🍁