
Dengan langkah pelan dan wajah menunduk Salsa menghampiri Alex diiringi Riko pria yang tidur bersama nya. Tatapan mata Alex begitu datar tanpa ekspresi membuat tubuh Salsa bergetar.
"Jangan salahkan Salsa bro, salahkan aku yang tidak pernah bisa melepaskan nya" pria yang meniduri Salsa tersebut berinisiatif memulai pembicaraan karena melihat Salsa dan Alex yang begitu setia dengan kebungkaman nya.
"Sejak kapan" Tanya Alex dingin.
"Bahkan aku lebih dulu hadir dalam hidup Salsa sebelum kamu. Sayang nya Salsa hanya bisa memberikan tubuh nya padaku sementara hatinya selalu untuk kamu" Alex tersenyum miris.
"Bisa biarkan aku dan Salsa bicara berdua?"
"Apa kamu bisa menjamin tidak akan terjadi apa-apa padanya?" Tanya pria itu sedikit ragu, ia takut Alex akan melakukan sesuatu pada gadis yang dikasihinya itu.
"Kami bisa mempercayaiku untuk hal itu, aku bukan tipe pria yang akan bersikap sok jagoan pada seorang wanita" Pria itu mengangguk mendengar ucapan Alex. Ia menatap sekilas pada Salsa yang sama sekali tak menatap padanya, hatinya terasa sakit melihat air mata yang menetes di pipi Salsa, air mata yang keluar karena dan untuk pria lain.
"Aku pergi dulu Salsa" Salsa tak menjawab membuat Riko tersenyum pahit. Hati wanita itu tak pernah untuknya meski berbagai cara telah ia lakukan. Tapi Salsa selalu dengan senang hati melemparkan tubuhnya, meminta kehangatan darinya.
"Tolong jangan mengambil keputusan gegabah yang akan kamu sesali nantinya, yang harus kamu tau Salsa sangat mencintai mu" Ucap pria itu kemudian berlalu dari hadapan keduanya. Alex menghela nafasnya, entah mengapa ia begitu ingin tertawa mendengar ucapan pria tersebut. Salsa mencintainya? tapi melemparkan tubuhnya pada pria lain?
Selepas kepergian pria itu Salsa mengangkat wajahnya, menatap dengan takut pada Alex.
"Maaf" Kata itu terucap lirih dari bibir Salsa.
Alex tersenyum getir, diam-diam hatinya melantunkan syukur karena Tuhan menunjukkan pengkhianatan Salsa di saat yang tepat, di saat sebagian besar perhatian nya sudah teralih pada Bianca terlebih ada bayi yang mengikat dirinya dengan adik dari sahabat nya itu, memikirkan Bianca membuat Alex tidak sabar untuk pulang dan memeluk Bianca nya.
Alex tak bisa membayangkan betapa hancur hatinya jika ia mendapati kenyataan ini di saat seluruh dunianya hanya berfokus pada Salsa. Memang apa yang ia lakukan pada Bian tak bisa dijadikan pembenaran, namun Alex merasa kisahnya bersama Bianca ada untuk menyelamatkan hatinya dari keterpurukan akibat Salsa yang tak setia.
"Tak perlu meminta maaf, karena aku juga tidak sepenuhnya setia dalam hubungan kita"
Yah tak perlu bertele-tele. Tak ada gunanya membahas terlalu jauh, lebih baik ia selesaikan semuanya sekarang juga. Sementara Salsa menatap bingung pada Alex, ia tak mengerti makna ucapan pria itu.
"Apa maksud mu" Tanya nya.
"Aku kemari bermaksud untuk menyelesaikan hubungan kita. Aku minta maaf karena tak bisa menikahi mu" Ucapan Alex bagaikan petir yang menyambar dan meluluh lantakkan tubuh Salsa. Air mata nya semakin banyak berlomba menyusuri pipinya.
"Ku mohon jangan lakukan ini, aku sangat mencintai kamu babe. Aku tau aku salah tapi aku berjanji setelah ini akan setia padamu. Bahkan aku dan Riko sudah sepakat bahwa hari ini adalah pertemuan terakhir kami karena aku yang akan segera menikah dengan mu. Ku mohon babe jangan lakukan ini" Mohon Salsa. Alex tak habis fikir pada gadis yang pernah sangat ia cintai ini, bagaimana bisa ia seolah menganggap bahwa apa yang ia lakukan bukanlah suatu hal yang patut untuk dipermasalahkan
"Percayalah aku hanya mencintaimu babe, Riko tak lebih dari sekedar partner di atas ranjang, aku tak pernah menyerahkan hatiku padanya" Potong Salsa dengan panik. Ucapan Salsa terasa menusuk, Alex merasa tersindir karena selama ini ia memperlakukan Bianca seperti hal nya Salsa memperlakukan pria yang menidurinya.
'Tidak-tidak, aku selalu melakukan nya dengan sepenuh hati. Aku tidak pernah menganggap Bianca sebatas pemuas hasrat, aku selalu menggunakan perasaan tiap kali menyentuh Bianca' bantah Alex pada fikiran yang sempat melintas. Jika tanpa perasaan tidak mungkin dirinya selalu merindukan Bianca saat tak bersama nya, Ia menyentuh Bianca dengan penuh pemujaan. Tanpa ia sadari selama ini hatinya sudah bertaut pada gadis itu, terlebih saat mengetahui ada janin yang tumbuh di rahim Bianca ia merasa sangat bahagia dan begitu yakin ingin menikahinya.
"Maafkan aku Sal, aku sungguh tak bisa menikahi mu bukan semata karena kejadian ini. Seperti yang aku katakan sebelumnya aku juga sudah mengkhianatimu, hatiku sudah beralih pada gadis lain" Alex tak mau melimpahkan semua kesalahan pada Salsa, karena bagaimana pun kejadian ini pertanda kebaikan Tuhan padanya. Jika saja Salsa gadis yang setia dan menjaga dirinya mungkin Alex akan merasa begitu berat untuk memutuskan hubungan ini.
"Kamu bohong kan babe? kamu hanya mencari alasan agar aku setuju berpisah dari mu." Kini tatapan Salsa begitu menusuk.
"Aku tidak berbohong" Tubuh Salsa melemah, namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Karena dalam hal ini posisinya begitu lemah. Ia tak bisa mati-matian mempertahankan Alex karena kesalahan nya juga fatal.
"Apakah dia Bianca?" Entah mengapa Salsa begitu meyakini tebakan nya. Air mata Salsa kembali mengalir dengan deras kala Alex menganggukkan kepalanya.
"Aku sudah menebak dari caramu menatap nya, kamu begitu posesif, dan setiap harimu selalu dipenuhi olehnya. Kamu jahat!" Teriak Salsa.
"Maaf, Sungguh aku minta maaf. Aku tak bisa menghalangi hatiku untuk menuju padanya" Salsa menatap sinis penuh kekecewaan.
"Sejak kapan?" Pertanyaan yang sama seperti yang Alex lontarkan pada Riko.
"Sejak 2 bulan yang lalu" Jujur Alex, dan salsa mendecih sinis.
"Pantas saja kamu bersikap begitu dingin padaku selama 2 bulan ini. Nyatanya ja**ng kecil itu sudah mulai merebut hatimu"
"Jaga bicara mu Salsa, Bianca bukan Ja**ng." Ucap Alex dengan penuh penekanan. Ia begitu marah saat Salsa menyebutnya demikian. Bianca begitu suci, setidaknya sebelum ia mengambil kehormatan nya. Tak pernah seorang pun menjamah tubuh Bianca selain dirinya, Bahkan ia adalah lelaki pertama yang merebut ciuman gadis itu.
"Lantas apa sebutan yang pas untuknya yang merebut calon suami orang lain" tantang Salsa dengan mata yang menyala.
"Lalu sebutan apa yang pantas untuk aku sematkan padamu? awalnya aku ingin mengakhiri hubungan kita dengan baik. Tapi kamu malah membuat semuanya menjadi buruk. Dengar! kamu tidak sesuci itu untuk berhak melabeli Bianca ku dengan begitu keji. Jangan lupakan bahwa kamu baru saja mende**h di bawah tubuh laki-laki lain di saat kamu masih berstatus pacarku" Tegas Alex dengan wajah merah menahan amarahnya.
Salsa terdiam dengan wajah yang memucat. Ia tak menyangka Alex yang selalu memperlakukan nya lembut dan penuh cinta akan bersikap seperti ini.
"Mulai saat ini hubungan kita selesai" ucap Alex dengan tegas, lalu beranjak meninggalkan Salsa yang terpaku dengan tubuh nya yang terlihat lemas.
🍁🍁🍁🍁