My Brother'S Friend Is My Partner

My Brother'S Friend Is My Partner
Chapter 52



Bella tak peduli pada kata-kata yang Brian ucapkan, Bella tau pria itu masih melangit kan gengsi nya. Yang terpenting gadis itu dapat merasakan kepedulian pria itu padanya.


Brian masih memeluknya dengan sangat erat, meski belum mampu menghilangkan dingin yang menerpa tubuhnya namun Brian berhasil mengalirkan kehangatan di hati gadis itu.


"Masih dingin?" Tanya Brian saat ia merasakan tubuh Bella yang masih menggigil.


Gadis itu hanya mengangguk, bibirnya terasa kaku untuk berucap. Apa yang Brian lakukan padanya membuat tubuhnya kehilangan daya.


Brian kebingungan, ia tak tau harus melakukan apa untuk memberikan kehangatan pada Bella. Brian lalu meraih wajah gadis itu dan menangkup nya dengan kedua tangan berharap tangan nya bisa memberikan kehangatan pada gadis itu, namun tatapan penuh cinta yang terpancar di mata gadis itu serta sendunya wajah Bella yang samar terlihat dalam suasana yang temaram mengalirkan sebuah perasaan yang menuntun pria itu untuk melakukan sesuatu yang tak pernah terfikir kan sebelumnya.


Wajah Bella seolah menghipnotisnya, memerintahkan Brian untuk terus mendekatkan wajahnya dan meraih bibir gadis itu dengan bibirnya, tubuh Bella menegang bagaikan mendapat sengatan listrik ribuan volt saat merasakan benda kenyal itu menyapanya, ia tak menyangka Brian akan mengambil ciuman pertamanya, tentu saja Bella merasa teramat bahagia, ia berharap ini adalah langkah awal penerimaan Brian atas kehadiran nya. Bella kemudian memejamkan matanya, menikmati pagutan lembut Brian yang perlahan mengalirkan rasa panas di sekujur tubuhnya. Suara rintik gerimis di luar sana seolah alunan musik penghantar yang membuat suasana semakin indah. Sepasang muda mudi itu larut dalam pergumulan bibir yang mampu memberikan kehangatan pada tubuh Bella yang sebelumnya merasa kedinginan.


Brian melepaskan pertautan keduanya, ia menatap pada Bella yang membalas tatapan nya dengan penuh damba, Brian dapat melihat gurat merah di wajah gadis itu di sela helaan nafasnya yang terasa payah. Pria itu mengusap bibir Bella yang tampak basah dan memerah akibat perbuatan nya. Ia tak menyangka akan melakukan ini pada gadis berisik yang selalu mengganggu hari-harinya itu.


Brian merasakan detak jantung nya begitu menggila, sementara otaknya berusaha mencerna apa yang baru saja ia lakukan.


Karena tak ingin kembali terjerat hingga melakukan sesuatu yang terlalu jauh Brian merebahkan kepala Bella ke dadanya, ia kembali memeluk gadis itu dengan fikiran yang terus berkecamuk.


Tanpa Brian sadari, Bella mengulum senyum dengan wajah yang semakin memerah mengingat apa yang baru saja terjadi antara dirinya dan Brian.


'Terimakasih hujan, terimakasih pohon yang tumbang aku sungguh mencintai kalian' teriak Bella di dalam hati.


'Aku hanya tidak ingin dia mati kedinginan, ciuman dan pelukan ini hanya sebatas pertolongan pada sahabat dari adikku, tidak lebih! ini tidak berarti apa-apa' Brian berulang kali menyatakan hal itu pada dirinya sendiri agar tak terhanyut pada anggapan-anggapan yang begitu sulit untuk diterima oleh ego nya.


🍁🍁🍁


"Tidurlah sayang, ini sudah malam" Alex mengusap rambut Bianca yang tak kunjung memejamkan matanya.


"Bian takut saat bangun nanti abang uda nggak ada di sini, Bian takut bang Brian datang dan memaksa abang untuk meninggalkan Bian lagi" sejak tadi Bianca tak henti mengkhawatirkan hal itu. Ia tak membiarkan Alex beranjak sedetikpun dari kamarnya, kecuali ke kamar kecil untuk buang air dan mandi sore. Untung saja Alex bisa memesan makanan melalui jasa pesan antar hingga ia tak perlu meninggalkan kamar rawat Bianca untuk urusan perut nya, sebenarnya pria itu juga tak ingin meninggalkan gadis nya sendirian di sana.


"Abang janji kalau pun Brian datang dan mengusir abang, abang nggak akan pergi ke mana-mana. Abang akan tetap ada di sini nemenin Bian sampai sembuh." Bujuk Alex.


"Terus kalo Bian uda sembuh abang akan ninggalin Bian dong kalo gitu" Alex mengingat dan menelaah kembali ucapan nya, rasanya tak ada kalimat yang ia ucapkan mengandung pengertian seperti yang Bianca fikirkan.


"Abang nggak bilang gitu loh sayang"


"Iya abang bilang akan ada di sini nemenin Bian sampai sembuh, itu artinya kalo uda sembuh abang akan ninggalin Bian" sungut Bianca dengan wajah yang terlihat sedih. Oh apakah setiap ibu hamil seperti ini? atau hanya Bianca nya saja? atau dirinya yang salah bicara? Alex tbertanya-tanya di dalam hati.


"Bukan itu maksud abang sayang, kalo Bian uda sembuh dan pulang ngapain coba abang tetap di sini? jelas abang ikut Bian pulang lah" Akhirnya ia menemukan kalimat yang bisa meralat ucapan yang tak ia sadari itu.


Bianca tampak mengulum senyum.


"Loh beneran kok, siapa yang ngeles. Udah ya sekarang tidur. Kasihan bayi kita pasti nggak bisa tidur kalo mama nya begadang" Bujuk Alex kemudian.


"Tapi Bian takut" Alex menghela nafasnya. Sepertinya Bianca begitu sulit menepis rasa khawatirnya, Alex memutuskan untuk menelfon Brian.


"Ada apa?" Suara Brian masih terdengar datar dan tak bersahabat.


"Bian nanya, lu ke rumah sakit nggak?"


"Kayaknya nggak, gue masih di suatu tempat. mungkin besok siang baru bisa ke sana" Alex dapat melihat kelegaan di wajah Bianca.


"Oh ya udah kalau gitu bro, hati-hati. Gue tutup ya telfon nya" Alex berusaha bersikap seperti biasanya meski Brian masih membentang jarak dengan nya.


"Gue titip adek gue" dan sambungan telefon diputus begitu saja oleh Brian tanpa menunggu jawaban Alex. Bianca tersenyum, terlihat tak enak hati pada Alex.


"Sekarang tidur ya?" Bisik Alex lembut.


"Abang ikutan tidur di sini, supaya Bian bisa tidur" Tak ada pilihan lain Alex menuruti Bianca, untung saja badan gadis itu tergolong mungil hingga tempat tidur itu muat untuk mereka berdua.


Alex meraih Bianca, dan memeluknya erat. Ia mengusap rambut Bianca agar segera terlelap.


"Bang adek bayi kangen papanya" Bisik Bianca sambil mengusap dadanya, tentu saja hal itu membuat tubuh Alex memanas. Pria itu meraih tangan Bianca dan menciuminya.


"Ini di rumah sakit Bi, jangan menggoda abang" Ucap Alex berusaha menekan gairah yang perlahan mulai terpancing.


"Tapi bayinya pengen dijenguk papanya" Bisik Bianca lagi, kali ini tatapan gadis itu membuat Alex semakin kewalahan.


"Bi please" Ucap Alex frustasi. Bianca terkekeh melihat wajah Alex yang begitu mengiba.


"Kamu sengaja godain abang hum?" Bianca kelabakan kala melihat seringai di wajah Alex, wajahnya berubah panik.


"B-bang ini rumah sakit" Ucap gadis itu terbata.


"Siapa suruh godain abang" Alex menatap dengan senyum miring nya.


"Iya-iya maaf, Bian cuma becanda sayang" gantian Alex yang terkekeh karena berhasil membalas gadis nakalnya itu. Ia menciumi wajah Bian dengan gemas hingga membuat Bianca tertawa geli.


"Udah ya main-main nya, sekarang tidur dulu" Ucap Alex kemudian lalu memeluk Bianca kembali.


🍁🍁🍁🍁