My Brother'S Friend Is My Partner

My Brother'S Friend Is My Partner
Chapter 73



Wajah Bianca berubah pucat, tangan nya menutupi mulutnya yang ternganga. Ia amat shock mendengar cerita Bella tentang kondisinya yang dinodai oleh Doni kekasih mama nya. Ia dapat melihat kesakitan Bella mengungkap cerita memilukan yang ia alami.


Mulut Bianca terkunci tak mampu mengucapkan apapun, ia hanya mampu memeluk sahabatnya itu. Ada kemarahan yang besar berkilat di matanya, ia tak habis fikir ada pria sebejat Doni di dunia ini. Memacari mama nya lalu menodai putrinya betapa tidak bermoral nya pria itu.


"Aku tau diri Bi, aku aja jijik sama diri aku sendiri apa lagi orang lain. makanya aku lebih baik nolak Brian" lirih Bella dalam isak nya.


"Enggak Bell kamu salah, buktinya aku nggak jijik sama sekali sama kamu. Jangan ngerasa kayak gitu. Kami tetap berharga di mata aku dan aku yakin di mata bang Brian juga kamu tetap sama" Ucap Bianca penuh kesungguhan.


"Tolong jangan ceritakan ini pada Brian dan Alex Bi, aku mohon" Bella menangkup kan tangan nya memohon pada Bianca.


"Tapi bang Brian harus tau Bell, aku yakin dia bisa nerima kondisi kamu."


"Nggak Bi, please jangan. Setiap pria pasti ingin mendapatkan gadis yang belum ternoda. Aku belum siap menerima tatapan jijik Brian padaku Bi, akan sangat menyakitkan karena aku masih sangat mencintai dia. Lagipula aku pernah janji bakalan kasih kesucian aku sama dia. Dia pasti kecewa saat tau aku nggak bisa nepatin janji aku" Mohon Bella penuh rasa khawatir kalau Bianca akan bercerita tentang kondisinya pada Brian.


"Nggak semua laki-laki menganggap hal itu penting Bell, apalagi kondisi kayak kamu. Itu kecelakaan namanya, bukan keinginan kamu. Banyak kok pria yang mau menerima masa lalu pasangan nya yang buruk yang bahkan pernah terjerumus pada **** bebas. Apalagi kamu yang kehilangan kesucian karena dipaksa" Bianca berusaha meyakinkan Bella.


"Supaya kamu dan bang Brian bisa sama-sama menentukan langkah selanjutnya tentang hubungan kalian Bell. Kalo kamu terus menyimpan nya akan banyak waktu yang terbuang karena ketakutan-ketakutan kamu yang belum tentu kebenaran nya" Bujuk Bianca lagi.


"Aku belum siap Bi, mama yang udah melahirkan dan membesarkan aku aja nggak percaya sama cerita aku. Bisa aja bang Brian menganggap aku berbohong Bi."


Bianca menghela nafas, ia tau butuh waktu bagi Bella karena masalah ini bukan masalah sepele.


"Iya aku janji nggak akan bilang bang Brian, tapi menurut aku kami harus jujur sama dia"


"Iya Bi aku pasti jujur sama bang Brian kalo aku uda siap" Bianca tersenyum dan kembali memeluk Bella. Ia tak menyangka sahabatnya itu mengalami hal yang paling menyakitkan bagi seorang gadis.


Bella merasa lega, beban beratnya sedikit terangkat ketika ia akhirnya menceritakan semuanya pada Bianca. Ia kira Bianca akan seperti mamanya yang menghakimi dan tak mempercayainya. Ia bersyukur masih memiliki Bianca di dunia ini.


Apa respon Brian juga akan seperti Bianca? tapi sungguh ia masih belum memiliki keberanian untuk jujur pada Brian. Ia tau diri, Brian berhak mendapatkan gadis yang masih suci yang belum pernah dijamah oleh pria manapun.


🍁🍁🍁


"Kita makan dulu ya?" tawar Brian saat mereka sudah berada di mobil setelah mengunjungi Bianca dan Alex.


"Iya bang" Jawab Bella dengan senyum tipisnya.


"Nggak ada, cuma kangen-kangenan doang" Jawab Bella santai.


"Emang cewek bisa seabsurd itu ya? aku sama Alex yang pernah nggak ketemu hampir 3 bulan aja biasa aja pas ketemu nggak sampai nangis-nangisan kayak kalian" Ucap Brian, ia bergidik membayangkan jika dirinya dan Alex bertingkah sama seperti Bella dan adiknya. Ah sungguh menjijikkan!


"Ya gitu deh" Bella mengulum senyum melihat ekspresi jijik Brian.


"Bell, nanti kalau kita nikah kamu mau konsepnya seperti apa?" Brian menolehkan kepalanya pada Bella untuk melihat reaksi gadis itu atas pertanyaan nya lalu ia kembali fokus menatap jalanan. Ia sempat menangkap keterkejutan dan ada guratan merah di wajah Bella.


"Jawab Bella" desak Brian saat Bella hanya membisu.


"Abang jangan bahas ini sama aku" ucap nya, Brian tau Bella selalu terlihat murung tiap kali menolak dirinya, itu membuktikan bahwa Bella tidak bahagia dengan keputusan nya itu.


"Kenapa? memang nya aku harus membahasnya dengan siapa, kan yang mau nikah kita" Ucap Brian dengan senyum dan binar bahagia.


"Bang, aku kan uda bilang aku nggak bisa" Ucapan itu terasa tercekat di kerongkongan. Sungguh sakit harus mengatakan nya.


"Aku akan menunggu sampai kamu bisa, aku sabar kok nunggu kamu. Aku janji aku nggak akan pernah nyerah." ucap Alex sambil mengusap sejenak rambut Bella lalu kembali fokus pada stir nya. Hati Bella kembali berdenyut, bagaimana ia memberikan pengertian pada Brian tentang alasan penolakan nya.


"Kalau sampai kapan pun aku nggak bisa gimana?" Mata Bella berkaca-kaca.


"Pasti bisa kok aku yakin, kamu cinta sama aku dan aku juga cinta sama kamu. Aku yakin cinta akan melunakkan hati kamu" Brian begitu percaya diri membuat Bella kembali meringis.


"Masalahnya bukan tentang cinta atau tidak cinta bang"


"Terus masalahnya apa?"


Brian merasa hatinya diremas saat melihat Bella meneteskan air mata, ia terlalu banyak melihat tangisan gadis itu akhir-akhir ini.


"Kamu kenapa Bella? apa kamu masih meragukan perasaan aku ke kamu? apa ucapan cinta dari aku nggak bisa mengobati luka akibat penolakan aku selama ini? aku tau aku salah dan aku tau aku bodoh karena tak bisa memahami perasaan aku sendiri. Tapi kasih aku kesempatan Bella. Aku akan buktikan kalo aku benar-benar cinta sama kamu. Aku akan selalu bahagiain kamu. Please percaya sama aku Bell. Kalo kamu masih belum yakin aku bisa langsung lamar kamu sekarang juga sebagai bukti keseriusan aku" Bella semakin terisak mendengar ucapan Brian yang bagaikan alunan lagu cinta paling indah yang pernah ia dengar.


"Masalah nya bukan itu bang. Aku sama sekali nggak ngeraguin perasaan abang ke aku, aku bahkan merasa menjadi gadis yang paling bahagia karena orang yang aku cintai juga mencintai aku. Tapi sumber masalah nya ada padaku bang" Haruskah ia katakan semuanya sekarang? Bella menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Isakan nya yang kuat membuat tubuhnya bergetar. Brian tak tega melihat Bella dalam kondisi yang serapuh ini, tanya semakin banyak menyeruak di benaknya tentang apa yang terjadi pada Bella hingga ia seperti ini.