
"Abang...!!" pekikan Bianca di kamar mandi membuat tidur Alex terganggu. Pria itu berlari ke kamar mandi karena rasa khawatirnya akan teriakan Bianca.
"Kenapa sayang?" tanya nya panik. Ia melihat istrinya sedang terpaku menatap benda kecil di tangan nya.
"Lihat hasil perbuatan abang" ucapnya lemah.
Mata Alex membulat sempurna saat melihat benda pipih dengan dua garis di sana.
"Ya ampun sayang Bian hamil lagi? ah terima kasih" Alex memeluk erat Bianca dengan perasaan bahagia.
"Abang senang?" Tanya Bianca. Mengingat saat Regan lahir Alex menyatakan tak ingin memiliki anak lagi karena tak tega melihat Bianca kesakitan saat melahirkan.
"Tentu saja sayang" Senyum pria itu begitu lebar.
"Abang nggak lupa kan kalo Regan baru berumur 7 bulan?" ucap Bianca gemas. Pria itu tersenyum salah tingkah.
"Lah memang nya kenapa"
"Bang Regan masih kecil masa uda dikasih adek" Bianca tak tega membayangkan putranya harus berbagi kasih sayang saat usianya masih kecil.
"Yah nggak apa-apa sayang. Ini tu rezeki, artinya Tuhan percaya sama kita dosa loh kalo nolak" Alex merubah posisi nya hingga wajahnya sejajar dengan perut Bianca, pria itu menciumi perut sang istri dengan sayang.
"Hai baby, selamat datang. Sehat-sehat ya di sana. Papa, mama, dan kakak Regan menunggumu" Bahagia yang ia rasakan sama seperti saat pertama kali ia mengetahui Bianca mengandung Regan.
"Abang cinta Bian, makasih ya uda membuat hidup abang semakin sempurna" Alex memeluk erat Bianca dan mengusap rambut Bianca.
"Bian juga cinta abang"
"Jangan khawatir, abang akan selalu ada buat Bian dan anak-anak kita. Bian nggak akan kerepotan sendiri mengurus Regan dan adiknya nanti" Yah Bianca sama sekali tak meragukan hal itu. Selama ini terbukti Alex selalu membantu mengurusi Regan meski pria itu sudah lelah bekerja seharian.
"Bian selalu lebih cantik setiap kali hamil. Aura Bian selalu terpancar dengan kuat" Dari nada bicara Alex dan tatapan matanya Bian sudah sangat paham apa yang pria itu inginkan.
"Bang jangan lupa tadi malam kita uda ngelakuin itu" Bahkan saat ini mereka sama-sama masih polos tanpa pakaian karena percintaan mereka tadi malam yang sempat Alex ulangi dini hari tadi.
Harusnya Bianca paham bahwa penolakan nya hanya membuang tenaga karena Alex tak akan pernah mendengarkan nya.
"Satu sesi di dalam kamar mandi pasti akan menyenangkan sayang" Bisik Alex setelah ia mengarahkan Bianca untuk berdiri membelakanginya dengan posisi berjongkok lalu menghujam istrinya dalam.
🍁🍁🍁
"Apa?! Gila ya. Kok Bisa?" Bella teramat kaget mendapat telfon dari Bianca yang mengabarkan bahwa dirinya sudah kembali berbadan dua.
"Ya bisalah, gimana nggak bunting kalo tiap hari dipompa mulu sama bang Alex" ucap Bianca cuek.
"Regan masih kecil Bi, masa uda dikasih adek"
"Yah mau gimana lagi Bell. Tuhan udah mau ngasih masa di tolak" Bianca menutup mulutnya saat kelepasan bicara. Ia tau ucapan nya pasti menyakiti Bella yang sampai sekarang belum dipercayai untuk merasakan hamil meski mereka sudah berusaha ke mana-mana dengan berbagai cara. Bianca sebenarnya tak ingin memberitahu Bella perihal kehamilan nya, namun ia tau Bella akan sangat marah jika ia tak mengabarinya karena lambat laun Bella tetap akan tau.
"Iya ya Bi, kita emang nggak bisa mendikte Tuhan. Kalian yang belum menantikan malah udah dikasih lagi. Sementara kami masih belum berhasil" ucap Bella sendu.
"Iya bulan ini aku belom dapet, uda telat 1 hari. Tapi aku uda nggak berani berharap" lirih Bella.
"Harus semangat Bell, kalau uda waktunya pasti Tuhan kasih. Aku mau siapin sarapan buat bang Alex dulu ya Bell, bye"
"Bye Bi, nanti kami main ke sana ya. Kangen Regan"
"Oke aku tunggu ya" Bianca mematikan sambungan telfon nya. Biasanya setiap week end Bella dan Brian memang akan datang ke rumah Bianca untuk bermain dengan Regan yang semakin hari semakin montok dan menggemaskan.
"Ada apa?" Bella merasakan belitan tangan di perutnya. Brian terlalu memahami dirinya hingga ia bisa merasakan bahwa ia sedang bersedih meski belum menatap wajahnya.
"Bianca hamil bang" Bella tersenyum getir.
"Wah gila ya mereka, Regan masih bayi uda mau dikasih adek bayi lagi" ucap Brian sambil terkekeh.
"Kita kapan ya bang?" Brian sudah menduga sang istri akan merasa sedih. Bukan karena tak suka pada kehamilan Bianca, hanya saja ia ingin merasakan bagaimana rasanya hamil dan memilki anak. Ia sudah merindukan suara tangisan bayi di rumah mereka.
"Sebentar lagi. Di akan segera hadir sayang" Brian membawa kepala Bella bersandar di dadanya.
"Hari ini mau ke rumah Bianca?" Tanya Brian yang diangguki oleh Bella.
"Ya udah sana siap-siap" Brian mencium kening Bella sebelum istrinya berjalan menuju kamar mandi.
Brian menatap iba pada istrinya namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa terus berusaha sementara hasil akhirnya tetap Tuhan yang menentukan.
Baru saja Brian akan duduk ia sudah melihat istrinya keluar dari kamar mandi dengan tergesa. Wajahnya bersimbah air mata sambil memegang benda yang sangat Brian kenali. Kondisi ini pun sudah sangat Brian hapal, di mana setiap bulan Bella akan keluar dari kamar mandi sambil menangis dan menunjukkan alat tes kehamilan yang bergaris satu padanya.
"Nggak apa-apa sayang, kita masih punyak banyak waktu untuk mencoba nya" ucap Brian. Ia menghampiri istrinya dan menarik Bella dalam dekapan nya. Hatinya selalu terasa nyeri tiap kali melihat istrinya sedih dan rapuh seperti ini.
"Bang dia uda hadir" bisik Bella terbata karena isakan nya. Brian melepaskan pelukan nya dan menangkup wajah Bella.
"Maksud kamu? jantung Brian berdetak hebat, harapan nya melambung tinggi namun ia takut salah menduga maksud dari istrinya"
"Lihat, aku iseng pakai tespack karena dengar kabar Bian hamil." Bella mengangkat 3 tespack sekaligus.
"Hasilnya aku juga hamil bang, kita akan memiliki bayi seperti Bianca" air mata haru tak henti keluar dari mata Bella. Brian terpana memandangi Bella. Ia meraih tespack di tangan istrinya. Benar saja ada 2 garis merah di sana.
"Kita berhasil sayang? kita akan memiliki bayi yang lucu seperti Regan? ini beneran bukan mimpi kan sayang?" Rasa bahagia begitu membuncah seiring anggukan kepala Bella. Brian tak bisa menahan rasa haru, setetes air mata jatuh membasahi pipi pria itu. Apa yang sudah mereka tunggu akhirnya tiba setelah perjuangan panjang yang melelahkan.
Keduanya berpelukan erat, perjuangan mereka kini membuahkan hasil setelah tak terhitung berapa banyak air mata yang tumpah dalam perjuangan mereka, ada jutaan bait doa yang sudah mereka lantunkan kepada sang maha pencipta. Dan kini kesabaran mereka berbuah manis.
🍁🍁🍁
Lunas ya, si Bella uda aku kasih hamil. Nggak ada hutang lagi kan 😂😂😍😍
Tak henti untuk bilang makasih atas kesetiaan kalian mengikuti karya aku.
sayang kalian, lopeeee yuuuu ❤️