
Mereka memang akan segera menikah namun Bian tak menyangka bahwa Alex akan melakukan ini. Pria itu membuatnya merasakan menjadi wanita bahagia yang bisa merasakan bagaimana mendapatkan lamaran dari pria yang ia cintai. Ia dapat merasakan bahwa ia diinginkan, tak sekedar menikah hanya karena sebuah kecelakaan.
Bianca merasa begitu terharu untuk semua yang Alex lakukan, ia tak menyangka masa-masa galaunya memendam cinta selama ini terbayar sebegini membahagiakan.
Air matanya tak lagi mampu ia tahan, yah dia menangis untuk ke sekian kalinya. Tangisan haru dan ungkapan kebahagiaan yang tak lagi mampu ia rangkai dalam sebuah kata.
"Jawab sayang" Bisik Alex, entah mengapa ia begitu grogi menunggu jawaban Bianca. Padahal tanpa momen ini pun pernikahan mereka akan segera digelar dalam hitungan hari lagi.
"Mau, Bian mau menikah sama abang" ucap gadis itu sambil terisak. Senyum mengembang di bibir Alex, rasa lega bercampur bahagia memenuhi dadanya.
"Terimakasih sayang, abang janji akan selalu membahagiakan Bian" Alex meraih tangan Bianca dan menyematkan cincin itu ke jari manis gadis itu. Alex kemudian mendaratkan kecupan yang cukup lama pada punggung tangan gadis yang tengah mengandung benih nya.
"Bian juga mau ngucapin makasih karena abang memilih Bian, mengizinkan Bian merasakan bagaimana menjadi wanita yang diinginkan."
Alex merengkuh tubuh itu ke dalam dekapan hangat nya. Menciumi puncak kepala wanita tercintanya dengan segenap perasaan yang ia miliki. Alex meraih wajah Bianca, menatap pada wajah teduh dengan tangisan yang masih berbekas. Tampak rapuh dan begitu membutuhkan dirinya.
"Bian bahagia?" Gadis itu tak menjawab, bibirnya terasa kelu namun kepalanya mengangguk pasti.
"Abang juga sangat bahagia, abang bersyukur Tuhan memilihkan Bian untuk menjadi pendamping abang, menjadi ibu dari anak-anak kita kelak. Mungkin jika bukan Bian abang tidak akan pernah merasakan kebahagian yang sesempurna ini" Ucapan-ucapan manis pria itu begitu menghujam ke dalam hati Bianca menciptakan letupan-letupan bahagia yang membuat gadis itu seakan menggila.
Keduanya kembali berpelukan dengan erat, menyalurkan rasa bahagia yang merambat mengisi setiap helaan nafas dan denyut nadi keduanya. Alex semakin mengeratkan dekapan nya pada tubuh itu.
Desiran angin malam yang menyapa kulit Bianca terasa menusuk namun gadis itu seolah tak peduli, ia begitu berat mengakhiri keindahan ini dengan cepat.
"Di sini dingin, kita kembali ke kamar" Bisik Alex seraya melepaskan pelukan nya. Alex kemudian membopong tubuh Bianca ke dalam rengkuhan nya, membawanya masuk ke dalam kamar. Dalam langkah nya mata pria itu menatap lekat pada Bianca yang juga sedang menatap dirinya. Wajah teduh gadis itu seolah menarik Alex untuk semakin mendekatkan wajah nya, bibir sensual Bian begitu mengundang pria itu untuk segera menyapanya.
Tak ingin menunggu lebih lama, Alex menerima undangan itu. Ia segera menyapa dan menyesapnya dengan lembut, terasa syahdu nan memabukkan membuat keduanya memejamkan mata untuk semakin dalam menikmati rasa yang tercipta. Rasa hangat yang menjalari setiap bagian tubuh mereka.
Alex merebahkan tubuh Bianca ke atas ranjang miliknya tanpa melepaskan pertautan keduanya. Ia semakin memperdalam pagutan nya hingga menciptakan gelenyar-gelenyar yang menuntut penuntasan, mereka sama-sama merasakan bahwa malam ini mereka tak akan rela melewatkan nya tanpa percumbuan hangat yang mengesankan.
"Bang, tadi bang Brian bilang jangan malam-malam pulang nya" Suara penuh getaran itu menandakan bahwa sang empunya tengah berusaha sekuat tenaga menahan gelora yang terus berusaha menggulungnya.
"Iya, tapi papa ingin bertemu adek bayi sebentar" Bisik pria itu, nafas hangatnya menciptakan desiran yang semakin tak mampu Bianca tahan. Keduanya pun tak lagi mampu menghindar, mereka akhirnya larut dalam percintaan panas yang melenakan.
🍁🍁🍁
"Bi, kamu cantik banget" Bella menatap penuh kekaguman pada Bianca yang begitu mempesona dalam balutan kebaya putih mewah yang gadis itu kenakan. Make up yang melekat di wajahnya terlihat begitu pas dan sempurna menonjolkan setiap sisi kecantikan sahabat nya itu.
"Makasih Bell, kamu juga nggak kalah cantik" ucap Bianca dengan wajah berseri, hari ini adalah hari di mana ia akan menjadi milik Alex seutuhnya.
"Hari itu akan tiba Bell, tenang saja." Bianca mengusap pundak Bella yang sempat termenung beberapa saat.
"Tapi bang Brian terlalu batu Bi, masa udah hampir 4 bulan dia belum juga luluh" Ucap nya setengah putus asa.
"Jangan lupakan penantian ku selama 7 tahun untuk mendapatkan ini semua Bell" Bella menatap Bianca lalu tersenyum, sepertinya semangat gadis itu kembali menyala.
"Ah iya, 4 bulan belum ada apa-apanya ya Duh jadi malu" Ucap Bella.
Obrolan keduanya terhenti kala mama Rani memasuki kamar rias Bianca.
"Sekarang saat nya sayang, penghulunya sudah menunggu" Ucap wanita itu lembut.
"Duh Bian jadi gugup" gumam gadis itu.
"Nggak usah gugup, semuanya akan berjalan dengan lancar sayang" ucap mama Rani menenangkan. Wanita itu tampak anggun dengan kebaya gold nya senada dengan kebaya yang membalut tubuh Bella.
"Iya ma" Bian tersenyum meski rasa gugup itu belum sepenuhnya sirna.
Bianca mulai berjalan menuju tempat ikrar cinta yang akan terucapkan, tempat di mana pria pujaan nya tengah menunggu. Langkah anggun gadis itu ditemani mama Rani dan juga Bella yang mendampingi di sisi kiri dan kanan nya. Jantung Bianca semakin berdetak dengan kencang kala mendapati tatapan terpana Alex padanya, pria itu tampak tak berkedip menatap betapa cantiknya Bianca hari ini.
Bianca melemparkan senyum menawan nya pada pria yang sebentar lagi akan menyebutkan namanya dalam ikrar suci pernikahan. Bianca tak menyangka bahwa impian besarnya akan terwujud hari ini.
Mama Rani dan Bella menuntun nya untuk duduk di sebelah Alex yang juga terlihat begitu tampan dan gagah dengan pakaian pengantin putih nya.
"Kamu terlihat seperti bidadari hari ini sayang" Bisik Alex dengan senyum khas nya membuat wajah gadis itu merona.
Beberapa saat kemudian, waktu itu tiba. Waktu di mana Alex menyematkan nama Bianca dalam janji yang ia ucapkan tanpa keraguan. Air mata Bianca mengalir dengan begitu deras, bayangan wajah kedua orang tuanya begitu lekat di matanya. Bianca melirik sekilas pada Brian yang juga terlihat meneteskan air matanya. Kini tanggung jawab mereka atas dirinya telah beralih pada sosok pria di samping nya yang kini sudah resmi menjadi suaminya.
Bianca berharap kedua orang tuanya di syurga dan juga kakak yang ia cintai dapat merasakan kebahagiaan dan kelegaan karena gadis kecil mereka kini telah memiliki tempat bersandar yang akan selalu menjaganya.
🍁🍁🍁
Happy wedding Alex_Bianca.
Bahagia selalu 🥰😘
Gimana para undangan sekalian, happy nggak?